Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Bolo Kurowo


__ADS_3

Kami kembali bersiap untuk serangan kedua yang akan di lancarkan oleh makhluk terkutuk itu. Aku memutuskan untuk bergabung membantu mas Didik yang sedari tadi sudah memulai menyerang duluan. Sekarang posisi kami dua lawan satu. Kita lihat seberapa tangguhnya kau butosengkolo!


"Biarlah aku membantumu mas!" Pintaku.


"Oke, tapi jangan menyusahkan aku ya, jaga fokusmu dan berdoa yakin pada Tuhanmu. Itu sudah bisa menjadi kekuatan tambahan yang besar yang sudah lebih dari cukup." Balas mas Didik.


"Aku kepala, kau tubuhnya, oke??" Imbuh mas Didik berbisik.


"Sekarang!"


Dengan sekuat tenaga aku dan mas Didik berlari memutari arah yang berbeda untuk menyerang demit itu. Berharap demit itu akan hilang fokus dan konsentrasi.


Syuutttttt... cprasssssss....


Slushhhhhhhh....


"Maaaatiiiiii kauuu " teriakku yang kini sudah menusuk dengan keris tepat di perut besar makhluk bermata menonjol berwarna merah itu. Sedangkan serangan mas Didik mampu di tangkis dengan mudah.


"Ku-ku-kurang ajar!!!!"


Bruuakkkk....


Sebuah ayunan pukulan cepat ke arahku berhasil membuatku terpental ke belakang. Berhenti setelah beberapa meter terhempas ke tanah. Kepalaku langsung terasa berkunang-kunang karenanya. Walau aku lagi-lagi mencoba tuk bangkit lagi.


Kami terus melakukan jual beli serangan. Namun, makhluk terkutuk itu terus saja berdiri kokoh. Sementara kami terpelanting kesana kemari. Rupanya kali ini butosengkolo benar-benar serius menghadapi kami. Imbasnya mas Didik yang baru saja di tangkap dan di lempar jauh hingga menghantam tanah dengan cukup keras.


"Mas kau tak apa-apa?!" Tanyaku pada mas Didik yang tersungkur di atas tanah.


"Entahlah bro," ucapnya sembari berdiri bertumpu pada pegangan pedangnya. Tubuh kami sudah kotor semua di penuhi tanah basah sisa hujan semalam.


"Hahahaha!!! Sepertinya kau kehilangan mulut besarmu bocah!!"


Suara menggema dari butokolo membuat kami bergidik. Rupanya dua lawan satu belum cukup untuk menumbangkan dia secara cepat. Dan bahkan kami sudah hampir kehilangan tenaga kami karenanya.


"Sepertinya kita butuh bantuan bro.. kita bisa mati berdua kalau gini caranya..aku udah nggak sanggup, dia terlalu kuat!" Ucap mas Didik agak tersengal.


"Hahahaha!!!! Dasar bocah Kep*rat bermulut besar!!! Hahaha!!!"


Crassshhhhhh......


"Aaaaaaargggghhhhh"


Erang makhluk itu cukup mengagetkan kami berdua yang masih mematung disini. Sebuah luka panjang menganga di badannya, sama seperti sebelumnya darah hitam pun mengalir keluar dari sela-sela kulit yang terbuka. Kali ini baunya semakin busuk membuatku yang berada dalam jarak yang jauh masih bisa menciumnya. Membuatku sejenak merasakan mual yang teramat sangat.

__ADS_1


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya seseorang melompat turun dari salah satu dahan pohon dengan ringannya.


Terlihat seorang pria tua dengan janggut panjang yang sudah memutih seluruhnya. Namun perawakannya masih tegap dengan pakaian hitam melekat di tubuh atas bawahnya serta blangkon yang menghiasi batok kepalanya. Tatapan matanya sungguh tajam menatap butokolo yang masih meringis karena luka yang cukup dalam walaupun aku tak mampu melihat secara pasti benda apa yang mampu menciptakan luka sepanjang itu.


"Hahaha, beraninya kau ikut campur kembali!! hei tua Bangka!!!" Gertak makhluk itu dengan nada tinggi. Menggetarkan pohon-pohon kecil di sekitarnya.


"Sepertinya aku datang di saat yang tepat! Hahaha" pekik kakek tua misterius itu dengan lantang.


"Sepertinya kau belum takut mati juga Kep*rat!!!" hardik butokolo.


"Diam!! Tutup mulut busukmu! Rupanya malaikat maut masih enggan mencabut nyawamu, biar aku saja yang akan membantunya mencabut nyawamu! Hahaha" sela kakek itu semakin membuat butokolo melotot tak senang.


"Sepertinya aku menyesal melepaskanmu dan membiarkanmu hidup dulu, seharusnya aku mengencetmu hingga kau mati ki Darto!!!!!" Teriak butokolo bangkit dan terbang mencoba menginjak orang tua itu yang masih berdiri bersiaga di tempat.


Bluuuughhhhhhhh....


Kaki raksasa itu hanya menghantam tanah dan menciptakan gelombang angin kejut yang lemah. Namum, kalah cepat dan gesit dengan orang tua misterius itu.


Crassshhhhhh....


"Arggggghhhhhhh!!"


Sebuah tebasan cepat di kaki makhluk buas itu tepat di lakukan mas Didik untuk membantu orang asing itu. Membuat sang butosengkolo raksasa yang hidup ratusan tahun dan gemar memakan jiwa-jiwa yang tersesat itu benar-benar terpojok.


"Kep*rat!! Kalian keluarlah istri-istriku!!!" Teriak butosengkolo kembali memenuhi hutan di sekitar kami.


"Hati-hati jangan sampai terkena liur mereka! Itu sangat beracun. Bisa melelehkan wajah kita dalam hitungan menit!" Peringatan dari orang tua itu membuat kewaspadaanku sedikit meningkat.


"Kalian hadapi saja istri-istriku. Kita akan bertemu lain kali dan akan kupastikan kalian akan jadi santapan lezat kami!!! Hahahaha!" Hardik butokolo bangkit dan terbang begitu ringannya meninggalkan kami bertiga yang sudah di kepung kengerian.


"Dasar setan licik!!!!" Gerutu mas Didik.


"jangan di kejar!! kita bisa menghabisinya lain waktu! sekarang kita harus menyingkirkan mereka dulu!" gertak pria misterius memarahi mas Didik yang hendak mengejar butokolo.


Aku benar-benar sudah kehilangan tenaga kali ini. Pertarungan tadi dengan butokolo cukup menguras tenaga dan fisikku yang sudah sangat kelelahan.


"Mahesa kamu istirahat dulu. Biar aki dan Didik yang beresin pocong-pocong disini. Kamu cukup waspada saja! Mereka sangat licik!" Ucap orang tua itu.


"Hiiii...Ayo guru! Kita habisi makhluk menjijikkan ini!" Ucap mas Didik geli melihat beberapa pocong wajahnya jatuh berhamburan di tanah.


"Guru?!"


*******

__ADS_1


Wulan masih mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Hatinya tak bisa tenang tatkala melihat pesan yang dikirim kepadanya dari orang yang selama ini berada dalam hatinya. Apalagi setelah mendengar semua penjelasan dari ayah dari sang pujaan hati yang jujur tentang kebenaran anaknya.


Matanya terus meneteskan air netra kekhawatiran. Ada rasa tak ingin kehilangan dalam lubuk hatinya. Ingin dia menyusul saja. Namun kemana Mahesa pergi? Dia saja tak tahu pasti seberbahaya apa tempat itu.


"Ibu..." Kembali dia meneteskan air matanya. Begitu menghambur dalam pelukan ibunya.


"Sudahlah nduk, kita doakan saja yang terbaik ya.." ucap ibunya menenangkan.


"Tapi Bu... Mas Mahesa itu sedang dalam bahaya Bu.. Wulan takut.." ucap Wulan dengan perasaan berkecamuk.


"Sabar nduk cah ayu.." ucap ibunya lembut mengelus rikma dari anak gadisnya itu.


Ternyata ucapan dari ibunya tak juga bisa meredam rasa yang bergejolak dalam hatinya. Dia terus menerus terisak menangisi sebuah bingkai kecil. Foto antara dirinya dan Mahesa saat di pantai tempo hari. Foto yang penuh kenangan manis yang entah bisa terulang kembali atau tidak.


saat sedang meratap dalam lelahnya menunggu...


dokk..dokk...dokkk....


"Assalamualaikum" ucap beberapa warga desa yang datang berbondong-bondong.


"Waalaikumsalam"


"Ada orang terluka Bu bidan! Tolong. Sepertinya dia sedang terluka parah." Ucap salah seorang perempuan warga setempat.


"Dimana pak, Bu,?" Tanya Wulan yang baru keluar dari ruang tamu menyusul ibunya yang membukakan pintu.


"Ada di kebun pinggir sungai Bu!"


"Pinggir sungai?!" Pekik Wulan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2