Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Kehilangan


__ADS_3

Disini, di depan bangku panjang stainless steel, Wulan sedang duduk dalam gusarnya. Ayu, wanita yang belum ia kenal baik sebelumnya tengah di tangani oleh beberapa dokter dan bidan spesialis. Degup jantungnya tak beraturan. Kecemasan tergambar jelas di raut wajahnya. Orang yang ia coba hubungi sore ini belum juga membalas pesan darinya. Sementara dirinya terjebak di situasi menegangkan ini sendirian.


"Mahesa, kamu dimana... Hiks hiks" gumam Wulan dengan sedikit terisak. Ada perasaan yang berkecamuk dalam dadanya karena secara tidak sengaja berada di kondisi seperti ini.


"Permisi.. dengan keluarga ibu ayu??" Teriak seorang bidan yang berusia sudah separuh baya.


Dengan perasaan gontai Wulan menjawab panggilan itu dengan mengangkat sebelah tangannya. Bagaimanapun dia harus mendengar baik-baik dan memutuskan segala sesuatu dengan pikirannya sendiri. Semua bersangkutan dengan keselamatan nyawa wanita muda yang sedang di ujung ajalnya.


"Iya Bu, saya keluarganya." Ucap Wulan mencoba meneguhkan hatinya.


"Sementara ini ibu bisa tenang Bu Wulan, kondisi ibu ayu sudah kembali stabil. Tadi ibu ayu mengalami kondisi detak jantung yang tidak normal. Namun kali ini sudah lebih baik. biarkan ibu ayu beristirahat dahulu. nanti saya hubungi lagi. Terimakasih, saya permisi dulu." Tegas bidan senior itu.


"Oh iya, sementara ini sebaiknya ibu biarkan bu ayu beristirahat dahulu. Ibu juga sepertinya butuh istirahat juga kan?" Imbuh bidan itu menengok kembali ke belakang.


"Iya Bu terimakasih" balas Wulan.


"Syukurlah" gumam Wulan dengan hati yang penuh kelegaan.


"Aku bersyukur untukmu ayu, " batin Wulan.


*****


Fyuuuuhhhhhh


Asap putih mengepul terbang di atas langit-langit plafon putih. Aku dan ayah masih saja di sibukkan dengan obrolan-obrolan ringan antara kami di selingi ayah yang membaca koran yang sedari tadi di bawanya. Waktu yang memang sangat jarang sekali antara kami untuk bertemu.


"Habis ini aku mau ke rumah sakit yah, mau sekalian nengok ayu disana. Ayah mau ikut?" Tanyaku di sela obrolan kami.


"Boleh. Apa ayu di rawat di rumah sakit Amanah?" Tukas ayah yang tak berpaling dari korannya.


"Iya yah." Balasku.


Tringggg... tringggg..


Terlihat ayah sedikit berpikir sejenak. Mengalihkan pandangannya yang sedari tadi fokus membaca berita favoritnya.


"Ada apa yah?" Tanyaku heran.


Tringggg.... tringggg...


"Eng.. enggak, tadi waktu ayah perjalanan kesini, di jalan ada laki-laki yang loncat dari jembatan penyeberangan. Walaupun ayah pas lewat udah rame banget. ayah juga dengar dari mulut ke mulut. Dia jatuh bunuh diri di tengah jalan persis dengan wajah menghantam aspal dahulu. Dan sepertinya dia di bawa ke rumah sakit itu juga untuk di visum." Ucap ayah bergidik ngeri.


"Bunuh diri?" Balasku.

__ADS_1


"Iya, mungkin seumuran dengan ayah. Huft ternyata masih banyak orang yang berpikiran sempit di dunia ini." Balasnya dengan melipat kembali koran di tangannya.


Triingggg...tringggg...


"Itu angkat dulu HPmu, daritadi bunyi terus. Siapa tau penting." Tukas ayah menunjuk kamar tempatku meletakkan HPku.


"Eh iya yah. Hehehe. Sampai nggak denger ada telfon" ucapku terkekeh.


"Makanya jangan kebanyakan melamun, kaya mikirin negara aja kamu kebanyakan ngelamun. " ketus ayah.


Segera aku menghampiri benda kotak yang sedari tadi berbunyi tanpa kusadari.


📲 "Wulan?" Batinku yang hendak mengangkat telfon.


📲 "Halo" ucapku mengangkat telfon.


📲 "Mas cepetan kesini!!" Gertak Wulan mengagetkanku.


📲 "Ada apa sih, kaget aku" balasku mengusap dadaku berulangkali.


📲 "Bapakk... Mas.. bapak...hiks hiks hiks" terdengar suara tangis di ujung telfon membuat jantungku seakan berhenti berdetak.


📲 "Ada apa sama bapakmu?" Tanyaku sudah panik.


Deg...


📲 "Bapak mas...meninggal dunia!" Terdengar lirih suara Wulan menahan tangisnya.


📲 "Apa?!" Pekikku tak percaya.


📲 "Tunggu, aku segera kesana!!" Tukasku segera menutup telfon.


*****


Setelah mempersiapkan diri aku bergegas menuju rumah sakit. Sementara ayah akan menyusul ku nanti. Dia ingin istirahat sebentar karena merasakan lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Segera ingin aku menemui Wulan yang sudah lebih dulu berada di sana. Perasaanku tak tentu saat ini. Ada rasa kesedihan yang begitu dalam kurasakan.


Ada rasa kehilangan saat melangkah masuk ke dalam. Terlebih lagi melihat Wulan dan keluarganya sedang berada dalam satu tangis yang sama, terlihat saling menguatkan hati satu sama lain.


"Mas..." Ucap Wulan masih menyeka air matanya yang belum kering.


Dia langsung menghambur memelukku, menumpahkan rasa sedihnya dalam airmata. Aku hanya bisa membisu, sesekali mengusap pundaknya. Menyalurkan sedikit kekuatan padanya. Sejenak kami terhanyut dalam suasana yang duka yang begitu mendalam.


"Sudahlah nak Wulan, jangan terus bersedih. Kasian bapakmu kalau kamu terus menangisi kepergiannya." Ucap ayahku tiba-tiba berada di belakangku. cepat sekali, batinku.

__ADS_1


"Paman, bagaimana aku nggak sedih... Bapak... Meninggal...dengan cara seperti itu..." Balas Wulan masih terisak.


"Paman juga merasakan kehilangan sama seperti kamu" ucap ayah lirih menenangkan Wulan yang terus menerus bersedih.


"Kamu ajak Wulan keluar dulu di taman. Kamu tenangin dulu dia nak, ibu percaya pada kamu" ujar ibu Wulan yang kini sudah menghampiri kami. Nampak senyumnya merekah namun dengan sudut airmata yang terlihat baru saja mengering.


"Baik Bu," ucapku.


"Las, biar aku nanti yang urus semua biayanya. Mardi itu sudah kuanggap saudaraku sendiri. Aku turut berduka ya las atas kepergian suamimu, semoga kamu di beri ketabahan yang lebih." Tegas ayah pada ibu Wulan.


Sementara ayah sedang mengurusi semua surat-surat kepulangan jenazah. Aku sudah berada di bangku taman kali ini bersama gadis yang sedang murung ini. Tak bisa ku sembunyikan aku pun juga merasa sakit ketika mendengar penolongku dulu saat aku sekarat harus tew*s dengan cara yang sangat tragis.


Kami duduk bersebelahan tanpa ada satu patah kata pun terlontar. Kami hanyut dalam rasa kehilangan satu sosok penting dalam hidup kami.


"Hiks.. hiks...hiks.." kembali Wulan meneteskan air matanya.


Aku hanya bisa terpaku dengan sesekali mengelus punggung tangannya dengan ringan. Terbayang sejenak masa-masa kebaikan almarhum semasa aku berbakti padanya. Almarhum sudah kuanggap sebagai bapakku sendiri.


"Mas..." Wulan kini menyandarkan kepalanya di bahuku. Airmata terus membasahi pipinya yang terus basah karenanya. Aku hanya menunggu nya. Menunggu dia mengeluarkan semua kesedihannya dengan airmata, hingga dia lelah dan berhenti.


Wulan yang kini berangsur membaik setelah mengeluarkan semua airmatanya, mulai berbicara kembali. Dia ingin segera pulang dan segera memakamkan ayahnya dengan layak.


Terlihat sebuah ambulan dengan sirenenya mengaum keras membelah macetnya jalanan karena berbarengan dengan jam pulang kerja. Di dalam mobil hanya ada ibunya Wulan dan Rahma yang terus menerus menangis dengan sesekali berteriak nama bapaknya. Rencananya memang hari ini pak Mardi akan langsung di makamkan di dekat pusara ayah ibunya dahulu.


"Pasti ini ada hubungannya dengan mereka!" Tugas ayah berbisik mendekatiku. Agar tidak di dengar oleh Wulan. Bagaimanapun aku tak ingin melibatkannya dalam masalahku.


"Maksud ayah?!" Tanyaku yang sudah mengerti arah pembicaraan ayah. Yang kemudian di balas ayah dengan senyum dinginnya.


"Mereka sedang mempermainkan kita!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2