
Kokok ayam begitu nyaring menyambung sang surya. Sinar yang mulai menghangatkan masuk melalui celah rumah dari papan yang tak rapat. Pertanda untuk harus segera memulai aktivitas duniawi untuk sekedar memutar roda kehidupan. Sayup-sayup terdengar beberapa kepala keluarga dengan riang, berjalan menuju tempat peraduannya mengadu nasib. Bekerja sepanjang hari, demi mendapatkan sesuap nasi untuk keluarga tercinta.
Disinilah aku kali ini, tertidur di atas kursi panjang dari kayu yang berada di ruang tamu, rumah seorang yang baru saja ku anggap teman. Kulihat dia sudah bangkit dari tidurnya, meninggalkan selembar selimut dan bantal yang masih teronggok disana.
"Wah kayaknya udah siang nih, sial gue benar-benar Capek. Apalagi tadi malem nggak bisa tidur gara-gara asik cerita sama si didik. eh btw, kemana tu orang, udah ilang aja.". Batinku bermonolog.
"Gue pengen mandi dulu ah, lengket juga ni badan,". Lanjutku dengan pikiranku sendiri.
Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri. Rasanya segar sekali merasakan guyuran air mengalir ke setiap centi dari tubuhku. Sekilas aku teringat kalo hari ini aku harus melawat ke rumah pakdhe Heri yang katanya kemarin meninggal karena kecelakaan. Bagaimanapun aku juga harus melawat karena tak enak juga kalau malah nggak terlihat sama sekali.
Setelah merasa cukup segar. Kuambil beberapa lembar baju yang kemarin katanya di belikan oleh ayu. Kuambil sepotong kemeja dan mencobanya. Ternyata pas di badan, dengan celana panjang berbahan kain yang juga menempel pas di tubuhku. Aku kagum juga dengan kepandaian dalam mengurus orang lain dari ayu. Apakah aku terlalu berlebihan mengharapkannya?
"Widihh ganteng banget nih sepupu gua, hehehe,". Sergah mas Didik mengagetkanku.
"Eh darimana lu bos, kenapa bisa gue di tinggal gitu aja. kalo gue di culik gimana,". Tanyaku menyelidik.
"Hehehe, sory-sory nih aku tadi beli bubur ayam buat kita berdua. Nih.". Ucapnya sembari menyodorkan seplastik makanan yang masih hangat dengan bungkus sterofoam putih dengan aroma yang cukup menggugah selera.
"Wih, maaf ya mas. Aku nggak punya uang sekarang jadi ngrepotin sampeyan. Tapi janji besok kalo bapakku Dateng gue bakal ganti semuanya.". Kataku menunduk malu karena semenjak disini semua kebutuhanku mas Didik yang membelinya.
"Alah gausah dipikirin, ayo makan dulu ah. Aku wes laper,". Jawab mas Didik.
Akhirnya kami memutuskan untuk segera menyantap bubur ayam tersebut. Di selingi candaan dan saling melempar ejekan antara kami, membuat kami semakin akrab saja.
Tokk tokk tokk
"Assalamualaikum..". Salam seseorang dari balik pintu.
"Ayu! Sana temuin istrimu dulu.". Bisik mas Didik sambil tersenyum jail.
__ADS_1
"Ckkk ishhhh,". Balasku pura-pura ketus padanya.
Kubuka pintu kayu di depanku.
"Waalaikumsalam, ayu,". Jawabku.
"Hai, kamu apa kabar? Si katrok itu nggak ngapa-ngapain kamu kan? Hehehe. Jadi nggak kita takziah ke rumah keluarga pak Heri?,". Berondong ayu dengan pertanyaannya.
"Mana nih yang harus di jawab dulu, banyak banget pertanyaannya udah kaya sidang skripsi.". Ujarku yang memancing gelak tawa dari mereka berdua.
"Kita jadi takziah kesana, kamu kan lihat kalo aku udah rapi. Makasih ya yu, besok pasti tak balikin yang kamu,". Lanjutku.
"Terserah kamu aja putra,". Jawabnya dengan senyum andalannya yang sudah seperti anak panah bagiku.
"Permisi ya, obat nyamuk mau mandi dulu.", Goda mas Didik dengan jailnya. sontak kami melihat dia bersamaan dengan tatapan tajam.
Sedangkan aku hanya memakai celana panjang kain warna cream dengan warna baju hitam lengan pendek. Sepertinya cocok dengan wanita di sebelahku ini. Tapi itu menurutku sendiri hehehehe.
"Ayo kita berangkat pasangan bucin,". Sapa mas Didik keluar dari kamarnya. Membuat kami yang sedang larut di pikiran masing-masing tersadar ke alam nyata. tersenyum mendengar ucapannya.
Setelah mengunci pintu dan memastikan semua aman. Kami bertiga siang itu berangkat untuk bertakziah ke rumah duka dengan memakai motor, karena kata ayu rumahnya cukup jauh. Kami sudah dalam posisi masing-masing. Aku membonceng mas Didik.
"Heh sinting, ngapain kamu disini?,". Hardik mas Didik.
"Bonceng lah, Emang kenapa mas,". Tanyaku heran.
"Kamu rela kalo ayu di boncengan cowok lain? Sana gih boncengin ayu. Gebleknya nggak ketulungan,". Lanjutnya memberi kode mengusir dengan dagunya.
"Oh iya ya, lupa aku mas, hehehe ,". Balasku terkekeh.
__ADS_1
Mas Didik yang melihatku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian aku menjalankan ide dari mas didik. Aku berjalan menuju ayu meminta berboncengan dengan aku yang menyetir. Ayu tak keberatan sama sekali. Walaupun aku deg degan bisa sedekat ini dengan ayu. Kami akhirnya berangkat.
Setelah belasan tikungan, melewati banyak turunan dan tanjakan kecil kami akhirnya sampai juga di rumah dengan bendera kuning menghiasi depan rumahnya. Rumah yang terlihat besar dengan dua lantai tepat berada di tengah perkebunan teh yang cukup luas. Terlihat di depan rumah ada ibu-ibu dengan perawakan gemuk memakai baju gamis warna ungu dengan jilbab senada.
"Assalamualaikum Bu,". Salam ayu sambil mengulurkan tangannya.
"Iya nak, makasih ya,". Balas ibu-ibu tersebut.
"Maafin mas Heri dan Mbak Yati ya dek kalo punya salah. Ibu juga nggak nyangka kenapa bisa begini. Suami istri itu meninggal secara mendadak dan bersamaan. Hiks hiks,". Terdengar isak tangis dari wanita itu lirih.
"Bu kalo saya boleh tau bagaimana meninggalnya pak Heri Bu,". Tanya mas Didik penuh selidik.
"Waktu itu hari masih sore, mas Heri dan istrinya Mbak Yati. Berencana ingin ke rumah keluarga Ndoro wiryo. Rumah orangtua angkat dari nenek tari. Mereka berencana untuk segera menyelesaikan pembagian warisan. Setelah itu saya dengar dengar mas Heri berencana pindah ke luar pulau Jawa setelah pembagian warisan yang begitu banyak itu sukses. Namun takdir berkata lain, mobil mas Heri menabrak pembatas jalan di tikungan 4 lalu masuk kedalam jurang dan terbakar. Memanggang hidup-hidup Mas Heri dan Mbak Yati yang sedang hamil muda.". Lirih wanita yang di ketahui adik ipar dari mas Heri tersebut penuh sesal.
"Saya sudah peringatkan kalo jangan sekalipun mencuil harta dari rumah dengan pendopo besar itu, semua disana itu terkutuk. Itu semua karena ketamakan mas Heri membuat mbak Yati meninggal. Hiks hiks,". Isak tangisnya kembali pecah.
"Apa ibu bisa cerita tentang anak angkat dari Mbah tari Bu?,". Tanyaku yang sedari tadi menahan ingin mengorek informasi lebih dalam.
"Setahu saya ada 3 orang anak angkatnya. Dengan satu anak kandungnya. Aduh siapa ya namanya ibu agak lupa juga,". Ucap ibu itu.
"Dan setahu ibu ketiga anak angkatnya berencana untuk menguasai harta berlimpah milik Ndoro tari setelah itu kabur berpencar ke luar pulau. Itupun ibu nggak sengaja denger waktu almarhum mas Heri sedang telpon,". Jelas ibu itu. Kami bertiga hanya menyimak tanpa menyela sedikitpun cerita darinya.
"Kasian mas Heri, laki-laki lembut yang bersahaja. Harus meninggal tragis karena tamak Bu,". Terlihat seorang wanita datang dan mengelus punggung ibu paruh baya itu dengan lembut. Sepertinya dia anak dari ibu tersebut.
"Bodoh! Dia itu Mafia Pencucian uang!", Batinku
.
Bersambung....
__ADS_1