Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Mustika Legendaris


__ADS_3

Setelah merasa cukup puas dengan perut kita masing-masing kami memutuskan untuk pulang. Sejenak aku memandangi rumah ayu. Terbayang betapa indahnya wajah ayu, bidadari yang sekarang ini tengah mengisi hatiku walaupun aku tidak tahu isi hatinya. Cukup lama aku berkutat dengan lamunanku hingga sebuah tepukan lembut di bahu menyadarkanku. Mas Didik memberi isyarat untuk segera pulang dan aku pun mengiyakannya.


Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah milik mas Didik. Kami akhirnya turun dan bersegera untuk masuk. Sehabis ini kami memang berencana belum akan tidur. Kami ingin ngobrol dan ngopi lagi di teras. Katanya ada yang ingin mas Didik omongkan denganku. Mungkinkah ini soal ayu?. Setelah beberapa saat mempersiapkan kopi dan beberapa kue kering yang kami beli dari warung tadi, kami pun duduk lesehan di depan rumah.


"Sudah kuduga kamu punya mata batin!,". Ucap mas Didik membuka obrolan yang cukup mengejutkanku.


"Mata batin??,". Balasku keheranan.


Bukan karena tentang mata batin yang membuat aku heran. Karena sudah lama aku tahu apa itu mata batin atau bahasa gaulnya six sense. Ayu juga sering menjelaskan tentang kemampuannya itu. Kemampuan atau kekurangan? Hmmmm Entahlah. Aku pun sebenarnya terkejut mendapati diriku tanpa sengaja terbuka six sense-nya, baru tadi habis Maghrib malahan. tapi apakah itu hanya satu kali saja atau aku bisa menggunakanya lagi aku tak tahu Dan, yang aku juga heran bagaimana mas Didik bisa tahu.


"Kamu pasti heran ya, kenapa aku bisa tahu,". Ucap mas Didik sembari meniup asap tipis yang mengepul di cangkir kopinya.


Ckkkk bagaimana dia bisa tahu jalan pikiranku.


"Tenang sobat, aku bisa tahu bukan karena aku paranormal atau apapun itu. Aku juga sama kaya ayu bro. Aku juga indigo!,". Jelas mas Didik.


"Te-terus kalau mas dik tau dan bisa lihat makhluk-makhluk gaib kenapa kamu ajak aku ke tempat makan tadi?!,". Ucapku jengah.


"Aku sengaja ingin mengujimu. Dan lagi itu bukan kalung sembarang bro. Itu Mustika junjung derajat. Tapi ini bukan yang biasa melainkan ini yang istimewa. Banyak orang yang nyari ini bro. Dan harganya bisa nyampe 2 M.". Jelas mas Didik lagi.


"busettt 2 milyar? terus Apa itu junjung derajat mas? kenapa bisa mahal banget.,". Tanyaku yang memang awam dengan hal seperti ini.


Kemudian mas Didik mengambil HP nya dan menyalakan flash pada HP nya. Di lanjutkan dia menaruh flashnya di bawah batu yang masih aku kalung kan, membuat kepalaku tertarik ke arahnya.


"Gendeng! Mbok iya bilang dulu mas kalau mau narik. Kepalaku jangan asal di tarik kaya gitu dong. Nanti kalo kebalbasan terus nyium kamu timbul fitnah pisang makan pisang hehehehe.". Kelakarku pada mas Didik. Dia pun membalas dengan tawa kecil.


"Hiiii amit-amit bro aku masih normal. Nggilani kamu. Ini nih lihat ini kenapa batumu di namakan junjung derajat iya karena ada corak ini Bambang,". Ucap mas Didik sembari memperlihatkan corak berbentuk huruf V yang bertumpuk-tumpuk.


"Kenapa mustikamu ini bisa spesial bro. Karena nggak biasanya corak ini berada di kristal kaya gini. Biasanya cuma ada di batu itupun juga langka. Bisa di bilang mustikamu ini mustika legendaris.". Imbuhnya bersemangat.

__ADS_1


"Gue musyrik dong mas berarti kalo pake ini? Nggak mau ah nih buat mas Didik aja? Gue nggak mau musyrik.". Ujarku.


"Selama kamu nggak menyembahnya dan memberikan khodam atau jin di dalamnya ini nggak bisa di sebut musyrik juga sih.". Terang mas Didik.


"Tapi semua tergantung kita sendiri mau nanggepinnya kaya gimana. Yang jelas mustika ini bisa menambah kuat aura yang kita punya. Kalau aura kita positif iya makin positif kalo negatif ya makin buruk.". Lanjutnya.


"Kalo aura kasih?,". Selorohku.


"Wah itu mah seksoy.", Jawab mas Didik cepat diiringi tawa kami yang memecah hening malam ini.


"Intinya kamu simpan aja sampai kamu bisa belajar menggunakannya dengan baik. Dan selama itu pula aku bakal ngedampingin kamu.". Tukas mas Didik.


"Kalo gue kembali ke kota, berarti mas Didik ikut gitu?,". Tanyaku.


"Ngapain ke kota, rumah kamu kan di kampung ini.". Jawab mas Didik.


"Kalau yang mas Didik maksut rumah nenek tari, maaf mas gue nggak Sudi tinggal di rumah yang ngeri ngeri sedap kaya gitu. Itu udah selayaknya di buat museum aja. Barang-barangnya aneh semua.". Jawabku jujur.


"Lha terus???,". Tanyaku yang Mencoba menebak nebak.


"Di rumah ayu lah. Kamu kan calon suaminya sekaligus calon sepupu iparku. Hahahaha.". Tawa mas Didik kembali pecah.


"Sepupu sinting!" Gumamku sembari ikut tertawa bersamanya.


Tak terasa gelak tawa kami mengantarkan kami sampai jam satu malam. Karena udara yang semakin dingin menusuk tulang kami berdua berusaha bangkit untuk beristirahat. Banyak hal yang sudah kami bahas daritadi dan kurasa cukup untuk malam ini. Saat aku ingin bangkit tiba-tiba sebuah tangan menarikku atau setengah menyeretku masuk ke dalam rumah. Mas Didik menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir, isyarat untuk tutup mulut. Kami akhirnya diam berjongkok di belakang pintu yang tertutup.


Terlihat kali ini mas Didik serius, dari tatapannya bukan lah mas Didik yang daritadi bercanda dan cengengesan bersamaku. Matanya jeli mengawasi dari balik jendela ruang tamu. Sedangkan aku masih memegangi lenganku yang agak sakit waktu di seret tadi.


"Sini cepat!" Perintah mas Didik. Aku menurutinya saja.

__ADS_1


"Kamu lihat itu?", Ucapnya sembari menunjukan kebun di seberang rumahnya.


Aku terbelalak melihat pemandangan di hadapanku. Tiga bola api seukuran kepala manusia terbang mengitari sebuah keranda yang melayang! Iya keranda mayat yang biasa di gunakan untuk mengangkut jenazah yang sudah siap di kebumikan, melayang layang bebas seperti helikopter. Lagi-lagi mas Didik mengisyaratkan untuk menutup mulut. Kemudian memerintahkan untuk menjauhi pintu. Dia menutup korden di jendela dan segera duduk di sampingku. Kami hanya berjarak dua meter dari pintu yang sudah di Grendel itu.


Tokk tokk tokk


Tokk tokk tokk


Tokk tokk tokk


Pintu rumahnya seperti di ketuk berulang ulang oleh seseorang. Kami membisu dengan keringat yang keluar dari kami berdua. Kulihat mas Didik masih serius dengan tatapannya tak lepas dari pintu rumahnya. Setelah menunggu hampir lima menit mas Didik mulai bernafas panjang.


"Sudah pergi, maaf tadi aku narik kamu paksa bro,". Ucap mas Didik menatapku.


"Emang tadi apaan mas??,". Tanyaku penasaran sambil mengatur detak jantungku yang berdegup kencang. Kenapa setiap ketemu demit jantungku berdegup kencang seperti ini, saat ketemu ayu juga jantungku rasanya mau copot kaya gini. Apakah ayu itu demit? Ishhh bodoh! Mana ada demit cantiknya kelewatan kaya gitu. Huh


"Itu tadi namanya lampor atau keranda terbang sama banaspati, dari yang kulihat mereka di kirim oleh orang yang sama tujuannya adalah untuk mencari mangsa atau tumbal.". Jelas mas Didik.


"Huuuhhh, dulu kampung ku nggak seperti sekarang ini. Kampungku Ramai dengan sektor pertanian dan perkebunan yang sangat maju. Walaupun di kendalikan oleh satu orang yaitu Ndoro wiryo namun, kesejahteraan kami bisa di bilang sangat tercukupi.". Jelas mas didik dengan tatapan sedih.


"Namun semenjak Ndoro meninggal dunia, hal-hal janggal semakin sering terjadi di kampung ini. Misalnya satu keluarga tewas secara bersamaan dan ketika di otopsi hasilnya serangan jantung. Masak iya serangan jantung bisa kompak.". Lanjutnya.


"Terus mas?,". Ucapku antusias dengan cerita mas Didik kali ini.


"Sejak Ndoro wiryo meninggal kekuasaan sepenuhnya di tangan Ndoro tari, dan sepertinya mereka berdua mempunyai sistem pengelolaan yang berbeda. Hasil dari kebun sudah tak melimpah seperti dulu. Karena banyak juga tanah yang sudah di gadai untuk pengobatan Ndoro wiryo, suaminya. Namun, bukan itu masalahnya. Di setiap malam tepatnya pada malam Sabtu pahing, entah kenapa selalu ada warga yang meninggal tak wajar. Contohnya tadi yang kuceritakan. Bahkan ada warga yang tiba-tiba terbakar hidup-hidup padahal dia sedang kehujanan dan memakai daun pisang sebagai payungnya. Karena hal itulah aku berusaha menyelidiki ada apa sebenarnya. Sampai aku tahu kalo seseorang mengirimkan lampor dan banaspati peliharaannya untuk mencari tumbal warga desa hanya setiap malam Sabtu pahing! Itulah alasanku mengajakmu untuk menunggunya. Aku berharap dengan bersama kamu aku bisa menemukan Kep*rat yang membuat musibah ini berkepanjangan. hingga akhirnya banyak warga yang memilih pindah namun sayang, musibah selalu menghampiri mereka yang berani meninggalkan kampung ini. Ada saja seperti sakit yang tak bisa sembuh, kebangkrutan yang tiba-tiba, yang paling parah yaitu kematian yang tak wajar. Mau tidak mau kami harus menunggu di kampung ini hingga satu persatu kami habis oleh kep*rat yang setiap saat menginginkan nyawa kami untuk tujuan buruknya. Karena kutukan yang tak tahu sampai kapan, akhirnya desa ini mempunyai julukan sendiri di mata Desa-desa yang lain yaitu Desa maut atau Desa Sabtu pahing ! .". Ujar mas Didik berapi-api.


"Pasti mas, Pasti akan ku bantu menghabisi dalang di balik semua ini!!!,". Jawabku senang karena ternyata sekarang aku mempunyai teman seperjuangan.


"Aku pasti membantumu Raden Putra Mahesa!!! Pasti!!!! ,". lirih mas Didik.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2