Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Terbakar Menjadi Abu


__ADS_3

Jam 22:03


Malam mulai berangsur menjadi larut, tak kusangka malam itu juga aku dan mas Didik terpaksa bersiap-siap. Mau tak mau hati malam ini juga! Aku tak bisa menunggu hingga esok hari. Kami pun bergegas berangkat. Tujuannya tak lain tak bukan hanya untuk melapor kepada pihak berwajib tentang temuan mengerikan kami di rumah terkutuk itu.


Bayangan genangan darah dan wajah yang sudah tak berbentuk serta mengeluarkan bau yang tak karuan membuat aku tak nyaman sendiri.


"Apa kalian berdua yakin? Kalau disana kalian menemukan m*yat?" Tanya seorang polisi gempal berkumis lebat.


"Saya yakin pak!" Jawab mas Didik meyakinkan


"Yasudah saya akan kirim tiga anggota untuk melakukan penggeledahan di tempat yang kalian laporkan" ucap kembali bapak polisi itu.


Dan disinilah kami, di kantor kepolisian sektor wilayah. Setelah melaporkan dan dengan sedikit perdebatan yang lumayan alot akhirnya pihak polisi pun setuju untuk segera melakukan penggeledahan malam ini juga. Sesuai dengan keinginanku.


Akhirnya kami melakukan perjalanan dengan mas Didik mengendarai motor sebagai penunjuk arah dan aku ikut dengan mobil patroli polisi dan duduk di jok belakang.


Dua jam telah berlalu. Kami sampai di depan rumah nenek yang terlihat remang karena penerangan yang minim. Bersama tiga polisi piket, kami mencoba merangsek ke dalam rumah.


Terlihat dari jauh beberapa warga sekitar yang melihat dengan penasaran apa yang membuat mobil polisi datang dengan sirine yang memecah ketenangan sang malam. Terlihat juga seorang polisi di bantu beberapa petugas keamanan setempat menghalau banyaknya massa yang mencoba menonton dari dekat. mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Terkunci? Ada yang aneh disini. Perasaanku tadi siang aku tidak menguncinya, batinku.


"Kita dobrak saja Don!" Ucap salah satu polisi pada temannya.


"Ayok!" Jawab temannya mengiyakan.


Satu... Dua.... Tiga... brakkkk


Pintu terbuka!


Kami berempat masuk satu persatu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat seluruh perabotan disini seakan sudah di tata rapi. Tak seperti saat aku masuk pertama kali.


Bergegas aku lari ke kamar yang menyimpan puluhan m*yat itu. Khawatir akan kehilangan barang bukti terpenting dalam kasus ini. Polisi yang kulewati juga bergegas menyusul ku.


Brakkk


Pintu terbuka dan sepertinya di belakang pintu itu sudah di pasang jebakan.


Iya benar, ternyata itu hanya jebakan saja!


Pintu itu menyenggol damar yang sengaja di letakkan di punggung pintu persis. Membuat siapapun yang membuka pintu itu pasti menyenggolnya hingga jatuh ke dalam genangan bahan bakar yang sudah di siramkan terlebih dahulu.


Duarrrrrr


sebuah letupan api menyambar sekitar dan langsung membakarnya dengan ganas.

__ADS_1


"Mundurlah nak!!!" Ucap polisi bernama Adi tersebut menarik tubuhku.


"Sial!! Apa itu m*yat yang kau bicarakan di kantor tadi?" Tanya pak Adi yang jatuh terduduk bersamaan denganku yang di tarik olehnya tadi.


Walaupun tak terlalu nampak jelas, namun samar-samar beberapa tubuh kaku itu terlihat jelas oleh pak Adi yang di bantu cahaya api yang perlahan melahap mereka menjadi jelaga.


"Musnah sudah semua menjadi abu!!" Ucapku yang sudah hampir putus asa melihat Barang bukti terbesar untuk menuntut balas pada mereka harus musnah di lalap api.


Dan diriku yang harus kembali mengumpulkan bukti lagi. Aku benar-benar sudah lelah Tuhan?


Api benar-benar ganas melahap rumah yang hampir delapan puluh persen terbuat dari kayu tersebut. Terlihat asap hitam membumbung tinggi ke langit. Warga sekitar juga gotong royong mencoba memadamkan api sembari menunggu pihak damkar datang.


Tak berselang lama mobil berwarna merah menyala itu menyemprotkan air bertekanan tinggi ke arah rumah besar itu. Hingga api benar-benar bisa di padamkan dengan waktu hampir 2 jam lamanya. Pihak berwenang pun mengucapkan banyak terimakasih kepada semua warga sekitar yang kompak saling bahu membahu mengatasi kebakaran.


Kini yang tersisa dari rumah mewah itu hanya arang kayu yang masih mengepul panas. Semuanya hampir ludes terbakar hanya dalam waktu singkat.


Aku masih saja terduduk lemas di temani pak Adi dan mas Didik yang pasti mengerti betul apa yang kurasakan.


"Tuhan, Apakah aku harus menyerah sampai disini dan membiarkan cerita ini berakhir begitu saja" gumamku dalam hati.


"Kalian berdua ikut kami ke kantor sebentar ya, kami butuh keterangan kalian" ucap bapak polisi bertubuh besar berkumis tebal.


"Tapi pak..." Sanggah mas Didik membela diri.


"Ssssttttt, tenang aku akan menjamin kalian tidak akan di tahan! Lagipun aku memang sudah melihat kalau kalian memang tidak berbohong. Jadi menurut saja dengan bapak-bapak polisi ya" kata pak polisi Adi menenangkan kami.


(Sedikit Mundur ke belakang)


Jam 20:15


Seorang ibu paruh baya sedang gelisah melihat tempat yang biasa dia tuju kali ini sudah dalam keadaan terbuka. Tangan kirinya mencoba menelfon seseorang sementara tangan kirinya berkeringat menggenggam erat anak kunci.


Matanya sesekali melirik layar HP jadul yang tak juga tersambung telefonnya. Keringat mulai mengucur deras dari pelipisnya. Tak mampu ia membayangkan jika sampai kecerobohannya ini di ketahui pimpinannya. Bisa-bisa kesalahannya ini harus di bayar dengan nyawa!!


Kakinya yang berdarah akibat tak sengaja menendang pot lidah buaya yang terbuat dari semen itu tak lagi di rasa olehnya. Walau masih terpincang-pincang iya tak perduli. Yang ia ingin hanya sekedar melaporkan sesegera mungkin karena ini menyangkut nyawanya juga keluarganya.


Tuuttt.. tuttt.. tutttt


"Halo!" Suara serak seorang pria muda menyapanya.


"Halo... saya mau lapor tuan!" Ucap wanita paruh baya itu menelfon. Wajahnya mulai pias membayangkan apa saja hal yang bisa terjadi padanya.


"Apa? Cepat katakan! Dan sebaiknya ini berita baik" pria dengan suara berat itu menjawab dengan nada kasar.


"Anu tuan..eh.. markas kita tuan. Sore tadi saya lihat ke dalam semua pintu udah terbuka tuan. Pasti ada orang yang masuk tuan. Tak mungkin pencuri atau gembel semata soalnya tidak ada barang yang hilang tuan, cuma sedikit acak-acakan!" Ujar wanita itu gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Ada Penyusup!!" Batin pria di seberang telepon dengan geram dan wajah yang sudah seperti mendidih.


"Segera bereskan lokasi! Polisi pasti akan segera tiba. Jangan ada jejak yang tertinggal!! Dan jangan sampai melakukan kesalahan atau..."


"Kepalamu sebagai gantinya!!!" Ancam pria itu di seberang telepon.


"Ba-baik tu-tuan" ucap wanita itu pasrah!


*Flashback off*


Jam 04:16


Subuh telah berkumandang disini, di kantor polisi yang kuharapkan aku bisa menyeret orang-orang jahat itu. Malah kini aku yang di tahan dengan dugaan laporan palsu.


Walau sudah di jamin oleh pak polisi Adi, kami tetap disarankan untuk beristirahat dahulu disini dengan sesekali mengisi laporan. Sungguh malam ini cukup melelahkan. Terlihat mas Didik bahkan sudah meringkuk di bangku ruang tunggu terlelap dalam mimpinya.


Kurasakan sedikit nyeri di tanganku karena terkilir karena jatuh sewaktu di dalam rumah yang sudah menjadi arang itu. Sedikit luka bakar juga terasa cukup perih di lenganku. Namun aku masih beruntung aku di tarik oleh pak Adi waktu itu. Jika tidak aku pasti sudah tewas tersambar ganasnya ledakan api malam itu.


"Andai ada Wulan disini" gumamku tersenyum sembari mengompres lukaku.


"Ngapain lu senyum-senyum sendiri gitu bro? Pasti lagi bayangin Wulan kan?" Sergah mas Didik yang ternyata baru melek dari tidurnya


"Diem lu! Ganggu orang lagi seneng aja" ketusku.


"Dasar bucin stadium akhir, hahaha" ejeknya.


"hissshhh"


"Mas Putra Mahesa, sepertinya ada yang perlu kita bicarakan saat ini." suara polisi yang tiba-tiba berdiri di belakang kami cukup membuatku terkejut.


"Oh iya, ada apa ya pak Adi?" Tanyaku penasaran.


Pak polisi berbadan tegap itu tak langsung menjawab. Dia malah mendekat dan berbisik di telingaku.


"Sepertinya kita berburu mangsa yang sama!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2