Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Ujung Labirin


__ADS_3

"Bagaimana cara kita memusnahkan jin yang tidak bisa aku tembak sama sekali?!" Tanyaku yang sudah mulai frustrasi.


"Kita sergap dia di kandangnya!"


"Ayo kita cepat keluar dari sini dan segera habisi makhluk kotor itu!!"


****


Pertama kami membantu mas Adi untuk kembali keluar dan mencari bantuan. Walaupun dia bersikukuh tetap ingin ikut dengan kami. Aku berusaha keras meyakinkannya agar mau mengikuti rencanaku.


"Sebaiknya mas Adi cari bantuan saja! Kami tak mau memaksakan mas Adi disini. Ini terlalu berbahaya. "Ucapku tegas.


"Aku lebih baik mati disini Mahesa. Aku tak mau jika nanti tertangkap lagi. Pasti mereka akan langsung melenyapkanku di tempat." Bantah mas Adi masih keukeh.


"Dasar! Baiklah bawa ini saja. Kau lebih membutuhkannya mas Adi. Simpan itu dan jangan sampai hilang! aku akan mengambilnya lagi jika ini semua sudah selesai." Ucap mas Didik menimpali sembari memberikan kantung buntelan hitam.


"Apa ini! Kau tahu aku tak pernah percaya pada benda mistis kan ?!" Ucap mas Adi meninggikan suaranya.


"Kumohon kali ini percayalah padaku mas! Aku akan menjamin Mahesa tetap hidup saat keluar dari sini" imbuh mas Didik mencoba meyakinkan.


"Aku akan baik-baik saja mas Adi. Segeralah minta bantuan. Kami mengandalkanmu pak polisi!" Imbuhku.


"Baiklah. Aku akan menuruti rencana kalian. Aku akan kembali kesini sesegera mungkin!" Balas mas Adi setelah berpikir sejenak.


Setelah memastikan mas Adi sudah pergi dan dalam jarak aman, Perlahan aku bangkit dan mengikuti arah jalan dari mas Didik. Mau bagaimanapun dia satu-satunya kunci saat aku berada disini. Perlahan kami melewati lorong demi lorong. Jalan disini seperti telah di ubah layaknya sebuah labirin. Aku merasa hanya berputar-putar di tempat yang sama.


"Kau yakin kita ke arah yang benar?!" Tanyaku mulai ragu.


"Aku juga tidak tahu bro, tempat ini banyak berubah sejak terakhir kali aku kesini." Ucap mas Didik yang terlihat kebingungan.


"Apa! Jadi maksudmu kita tersesat disini?!" Gertakku dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.


"Ssssttttt, diam!!" Pinta mas Didik menarikku meringsek menempel di tembok, tepat di depan kami ada sebuah belokan ke kiri.


"Dengarkan!"


Drapp...drapp..drapp..drapp


Suara langkah kaki berjalan menuju ke arah kami. Kami pun tetap beringsut dengan tetap bersiaga di tempat. Takut-takut kalau ada pertarungan singkat lagi. Bisa di pastikan suara akan sangat menggema di lorong sempit yang berkelok-kelok ini.


*****


(*Mas Adi*)


"Aku harus cepat! Aku tak mau ada yang terluka lagi! Semoga kau tidak mengingkari kata-katamu Didik!" Batin Adi yang masih memperhatikan bangunan tua itu dari kejauhan.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh dia berlari di pagi hari yang masih buta ini dengan fisik yang masih sangat lemah. Membelah rimbunnya hutan yang masih asri. Sesekali dia terseok-seok saat tertipu melangkah masuk ke dalam lumpur yang tertutup daun-daun kering. Namun tekad kuatnya membuat dia kembali bangkit dan semakin bersemangat untuk segera keluar dari belantara ganas ini.


Dia sendiri bahkan tak tahu ke arah mana saat ini tujuannya. Dia hanya berjalan lurus mengikuti arahan kedua orang yang masih berjuang ada dalam bangunan itu. Saat ini tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan kedua orang itu. Dengan adanya dirinya disana, bukannya membantu malah dia yang akan terus merepotkan mereka dengan fisiknya yang belum pulih.


*****


Sementara itu, di dalam kastil tua ini. Aku masih bersama mas Didik masih terus menyusuri lorong demi lorong. Beruntung bagi kami, yang kami khawatirkan tadi tak jadi terlaksana. Kami masih aman untuk saat ini.


"Mas! Kamu yang bener dong. Daritadi kita cuma muter-muter disini aja. Aku udah mulai capek!" Keluhku.


"Iya aku juga berpikiran begitu, bagaimana ini?!" Ucap mas Didik yang sudah mulai panik sendiri.


"Kita coba lewat pintu itu, kalo kita masih muter-muter disini lagi. Aku sudah pasrah!" Ucapnya menunjuk sebuah pintu yang berada di ujung lorong lagi. Pintu dengan kayu yang nampak sedikit lapuk dan berlumut. Bahkan tak ada handlenya sama sekali, Berbeda jauh dengan pintu yang selama disini kulihat. Tak ada kesan mewah sama sekali dari pintu itu.


Kriiiiietttt..


"Bingo!" Pekik mas Didik menirukan logatku.


"Ayo kita keluar!" Ajak mas Didik.


"Hei ada apa ini?" Seakan tak percaya dengan apa yang di lakukan mas Didik kali ini. Pintu itu ternyata menuju ke belakang bangunan. Meskipun menurutku hampir tak ada bedanya. Entah itu depan atau belakang. Kami berjalan keluar sedikit menjauhi pintu.


"Bersiap lah! Dia datang!" Titah mas Didik dengan celingak-celinguk seperti mengawasi setiap sudut kegelapan dari celah pohon yang ada di depan kami.


"Bwahahahaha!!!" Sebuah suara menggema seakan memantul di gendang telinga kami. Tak tahu dari arah mana suara itu.


"Keluarlah hei kau makhluk biadab!" Teriak mas Didik penuh emosi.


"Hahahaha kk-kau siapa?! mau melawanku?! Hahahaha! Kemarilah bocah tengik akan ku buat kau sebagai santapanku!!"


Sebuah suara kembali menggelegar. Memenuhi seisi tanah lapang yang sedang kami pijak. Hingga tiba-tiba yang di tunggu pun menampakkan wajah buruknya. Dengan gigi yang mencuat ke atas dari bibir bawah sampai ke atas. kulitnya hitam kemerah-merahan dengan bulu yang jarang-jarang dan juga perut gentongnya yang menonjol. Berdiri 20 meter tepat di hadapanku dan mas Didik yang cukup terkejut dengan ukuran sebenarnya makhluk yang sudah hidup ratusan tahun itu.


"Hahahaha bagaimana kalian mau melawanku! Melihatku saja kalian sudah bergetar seperti itu heh!!!!!" Bentak butokolo dengan sangat keras. Seakan gendang telingaku mau pecah dibuatnya.


Kini hanya berjarak puluhan meter antara kami dan musuh kami. Musuh dengan ukuran yang tak masuk akal! Mungkin tiga kali lipat dari tinggiku saat ini. Aku sampai mendongak kala harus melihat matanya yang bulat berwarna merah itu. Aku tidak kaget sama sekali karena sudah pernah melihatnya waktu di bawa nenek Tari ke alam ingatannya. Namun, tak kusangka dia lebih besar dan tinggi dari yang ku lihat sekilas waktu itu.


Namun apa itu? dia terus menyusut. Apa yang di rencanakannya! Walaupun terus mengecil Namun, itu masih terlalu besar untuk kami.


"Mati ka..kau bocah tengik!!!!! Hahahaha!!"


"Berhati-hatilah, dia mempunyai kecepatan luar biasa. Karena tubuhnya menyusut seperti itu. Dia bisa menyerang dan membunuh kita saat kita lengah sedikit saja!" Tukas mas Didik. Dia sama sekali tak lepas fokus pada makhluk di depan kami.


"Bersiaplah! Ambil kerismu bodoh! Kau pikir bisa melukainya dengan hanya bengong seperti itu?!" Hardik mas Didik melihatku hanya berdiam diri. Sementara itu ia sudah siap dengan kedua tongkatnya.


"Lihat ini.." ucap mas Didik menunjukkan sesuatu. Dia memutar pangkal tongkat dan...

__ADS_1


Klekkkk...cringggggg....


Sebuah parang kecil indah dengan beberapa ukiran berkilauan muncul dari balik tongkat kayu yang hanya berukuran 70 cm itu. Ternyata benar dugaanku itu bukan tongkat biasa. Itu sebuah sarung senjata yang berbentuk tongkat kayu. Pantas saja dia terus membawanya. Batinku.


"Biar aku serang dia duluan!!" Ucap mas Didik yakin.


Mas Didik maju dengan berlari mencoba menebas bagian apapun dari makhluk itu.


Syuutttttt...


"Enyah kau B*ngsat" pekik mas Didik.


Bruakkkgh...


Satu tendangan berhasil membuat mas Didik terpental berguling kembali ke arah belakang. Butokolo maju sebelum mas Didik sampai dan melancarkan serangannya. Dia mampu membaca pergerakan mas Didik dengan baik.


"Ternyata perut buncitmu tak menghalangi pergerakanmu sama sekali ya. Kupikir kau iblis yang bodoh! Hahaha" tukas mas Didik bangkit dengan menyeringai tajam. Sesekali dia menyeka darah yang keluar dari sudut mulutnya.


"Banyak omong kau bocah kepar*t!!"


Syuutttttt....


Butokolo meluncur cepat ke arah mas Didik yang baru saja bangkit.


Hyaaaaaaaaaaa... Cprasssssss...


Dengan secepat kilat tebasan mas Didik menyayat sekuat tenaga. Yang hanya mengenai tangan besar dari butokolo yang berusaha melindungi wajahnya. Jika dia tidak melakukan itu, mungkin wajahnya sudah terbagi menjadi dua saat ini.


Secepat kilat juga mas Didik melompat ke belakang. Berjaga-jaga jika ada serangan balasan yang tiba-tiba. Namun makhluk itu seperti nya juga berpikiran sama. Dia juga mundur agak jauh ke belakang.


"Beraninya kau bocah Kep*rat!!" Hardik butokolo yang terus menjilati darah hitam bau yang terus menetes dari lengannya.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung lagi ya.... hehe

__ADS_1


__ADS_2