Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Tujuh Pusaka


__ADS_3

Hari ini rencananya aku dan mas Didik akan mengunjungi kakek Darto. Orang yang dulu membantuku melawan butosengkolo hingga setan itu terluka parah dan kabur masuk ke dalam hutan. Kami ingin bertemu untuk sekedar mengucapkan terimakasih dan juga aku ingin mempelajari lagi apa yang di katakannya tempo hari. Firasatku mengatakan bahwa orang tua ini mempunyai banyak informasi berharga.


Aku berjalan mengikuti langkah besar mas Didik di hadapanku. Dengan berhati-hati melewati jalan kecil di antara persawahan yang masih belum siap panen. Nampak layaknya karpet hijau yang membentang berhektar-hektar jauhnya. Memanjakan mata setiap orang yang melihatnya. Perjalan ini cukup menyenangkan karena di lakukan siang hari yang meskipun agak mendung di kejauhan. Sesekali aku terpleset dan jatuh terjerembab ke lumpur sawah yang cukup merendam sampai tulang keringku. Begitu pun mas Didik yang tak sengaja jatuh hingga wajahnya tertutup lumpur sawah yang berwarna pekat itu. Membuat gelak tawa antara kami berdua saling menertawakan diri masing-masing.


Matahari semakin meninggi tepat di atas ubun-ubun. Perjalanan yang begitu menghibur bagiku. Hingga tak terasa kami sudah sampai di sebuah gubuk bambu tua yang terlihat sudah reot. Di depannya terlihat sebuah bangku panjang dari bambu dengan kayu bakar menumpuk di sebelahnya. Walau terlihat sederhana namun nyatanya rumah dari bambu dan kayu ini tetap terlihat bersih dan terawat.


"Assalamualaikum Mbah" ucap mas Didik memberi salam. Sejenak kami menunggu.


"Waalaikumsalam" terdengar balasan dari dalam rumah. Seorang kakek tua dengan kaos polos lusuh dengan tulisan sebuah pabrik cat membuka pintu.


Tak ada engsel di pintu papan yang hanya di buat sederhana itu. Beliau mengangkat pintu itu dan menggesernya agar bisa menyambut kami dengan baik. Pria tua dengan jenggot yang sudah memutih memenuhi seluruh wajah keriputnya menyambut kedatangan kami dengan senyum ramahnya.


"Monggo silahkan masuk.." sapanya ramah.


"Inggih mbah." Jawab kami berdua serempak.


"Silahkan duduk dulu nak," ucap beliau mempersilahkan.


Tak ada barang berharga disini. Hanya ada sebuah dipan dengan tikar pandan di atasnya. Tak ada kursi atau meja, hanya ada satu tikar lusuh digelar disini di peruntukan untuk menyambut tamunya. Di bawah lampu kuning yang juga hampir redup, Tak terbayangkan bagaimana tubuh tua itu mampu sendirian bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Membuatku sedikit miris membayangkannya.


"Silahkan di minum dulu.." sapanya kembali sambil membawa nampan dengan tiga buah gelas berisi teh di atasnya.


"Maaf ya kakek tidak punya gula disini. Jadi tehnya sedikit pahit nak.." imbuhnya tersenyum getir.


"Inggih mbah ndakpapa, ngapunten Mbah, kami disini jadi merepotkan." Ujar mas Didik membantu menaruh gelas di hadapan kami bertiga yang sudah mulai duduk melingkar.

__ADS_1


"Jadi ada apa kalian datang ke gubug reot milik Simbah ini?" Tanya Mbah Darto sembari mengambil dan melinting tembakau dari dalam kantong plastik hitam miliknya.


"Gini Mbah, Didik sebenarnya mau tanya tentang tujuh pusaka yang pernah Simbah Darto ceritain dulu." Ucap mas Didik membuka percakapan.


"Owalah. Tentang itu. Bukannya kamu udah Simbah kasih satu dik? Dan buat kamu le, sepertinya kamu mau pamer sama Simbah ya Le? Hehehehe" tukas Mbah Darto melirikku tajam.


"Maksut Simbah?" Tanyaku dan mas Didik hampir bersamaan.


"Ya jelas to.. pusaka yang Simbah titipkan ke Didik dulu Simbah dapet dari bertarung dari satu jawara ke jawara yang lain. Dan itu nggak mudah. Pusaka itu bisa memilih siapa yang akan dia ikuti. Dan Simbah beruntung bisa dapet satu. Eh kamu yang masih muda gini malah udah bawa tiga pusaka sekaligus.. kok bisa ngono lho.." tukas Mbah Darto menyalakan rokoknya yang baru selesai di linting.


"Tiga pusaka?" Ucap mas Didik hampir tak percaya.


Sebenarnya aku juga belum paham dengan arah pembicaraan mas Didik dan Mbah Darto jadi hanya mengangguk saja dan menjawab jika semampunya jika diperlukan.


"Kamu sepertinya bingung le.. apa kamu belum mengerti?" Tanya Mbah Darto padaku.


"Bocah g*blok! Hahaha.. dia bawa tiga dari tujuh pusaka legendaris tanah Jawa tapi nggak tau apa-apa. Sakjane kamu itu polos apa bodoh to Le..le.." ledek Mbah Darto menertawakanku.


"Saya memang belum paham Mbah. Saya mohon bimbingannya" ucapku mencoba tidak terpancing. Tujuanku disini adalah belajar padanya tentang spiritual.


"Biar Simbah jelasin sejarahnya.. dulu waktu kerajaan di tanah Jawa masih berselisih dan perang terjadi antara satu dengan yang lain. Jauh sebelum agama Islam muncul semua orang bagaikan binatang. Pembunuhan, pemerkosaan, perampok sudah menjadi barang lumrah karena bagi wong cilik mereka tak mempunyai pelindung lagi untuk dirinya. Mau melawanpun mereka tak punya kekuatan." Ujar Mbah Darto berhenti sejenak menyalakan rokoknya yang mati karena tidak kunjung di hisap.


"Hingga seorang wali datang. Dan membuat tatanan kehidupan di tanah Jawa menjadi lebih baik. Raden Mas Sunan Wijaya datang disaat huru-hara sedang dalam puncaknya. Beliau mengajarkan Islam pada penduduk yang sudah tak berakal bagaikan kera hutan. Beliau terkenal akan kesaktiannya dan kemampuan bertarungnya yang luar biasa. Beliau di kenal dari kalangan manusia sampai seluruh dedemit di tanah Jawa tunduk dan takut akan beliau."


"Beliau begitu di takuti dengan tujuh pusaka tanah jawanya saat itu. Bahkan raja-raja saat itu pun cukup segan pada Raden Wijaya. saat itu Islam benar-benar sudah merasuk dan sudah berkembang begitu pesat di tanah Jawa dengan santri di pondok yang ia kembangkan sudah mencapai ribuan santri bahkan santri-santri yang sudah lulus banyak yang menyebarkan Islam ke daerah yang lebih pelosok lagi. Dan Saat itu juga beliau sudah sangat sepuh. Di usia beliau sudah sangat sepuh itulah beliau memutuskan naik dan berdiam diri di kaki gunung Gedhe membawa serta semua pusakanya untuk menemaninya. Di ceritakan turun temurun jika saat bertapa di kaki gunung Gedhe itulah beliau mengalami moksa. Hingga akhirnya beliau dan semua tujuh pusaka legendaris pulau jawa ikut lenyap. Hanya meninggalkan cerita dari mulut ke mulut." Jelas Mbah Darto.

__ADS_1


"Semenjak saat itu, banyak jawara-jawara tanah Jawa. Dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa bertarung untuk sekedar mendapatkan salah satu pusaka milik Raden Wijaya dahulu kala. Bertarung mati-matian demi benda yang belum tentu ingin dimiliki. Ya benda itu seakan tau mana yang baik dan mana yang buruk. Dan jika benda itu menolak itu mengikuti pemiliknya bisa di pastikan orang itu akan mati tersiksa. Pusaka itu begitu kuat sekali. Bahkan dulu orang-orang sering berkata barang siapa mampu menguasai ketujuh pusaka tanah Jawa itu maka dirinya akan menjadi raja di tanah Jawa. Manusia dan setan akan tunduk padanya. Bahkan setanpun tak akan berani menatap wajahnya." Imbuh Mbah Darto menggebu-gebu.


"Lalu pusaka apa saja yang termasuk tujuh pusaka legendaris tanah Jawa itu Mbah?" Tanya mas didik yang sudah penasaran.


"Hmmm.. ada dua pedang kembar kalimasada, dua keris nagakembar, tombak Temanten cokromongso, kalung junjung Drajatmangkunegaran, dan tusuk konde nogogeni. Dan kamu sudah memegang tiga di antaranya.." jelas Mbah Darto menatapku heran.


"Dan kamu dik, Mbah dengan ikhlas hati menyerahkan pedang kalimasada ini padamu. Jagalah pusaka ini. Ini hadiah untukmu" terang Mbah Darto kali ini berbalik menatap Didik.


"Inggih mbah," balas mas Didik menunduk menunjukkan hormat yang teramat sangat.


"Dan kamu le, sebaiknya kamu segera belajar dengan pusaka milikmu. Itu akan menjadi sama halnya dengan aksesoris biasa jika kamu cuma pakai saja tanpa bisa menggunakannya." Tukas mbah Darto bangkit dari duduknya. Kami berdua pun ikut bangkit.


"Sekarang kalian pulanglah dulu, istirahatlah. Besok akan Simbah bantu sebisanya. Namun jangan terlalu berharap lebih. Simbah sudah tua sudah tidak mampu selincah kalian anak-anak muda. Berhati-hatilah pada Nyai Sumi. Dialah pemegang tusuk konde nogogeni. Dia mampu mengendalikan iblis kuat berbahaya bernama banaspati! " Ujar Simbah Darto mewanti-wanti.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2