Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Algojo!


__ADS_3

Udara begitu dingin malam ini, mungkin karena gerimis yang menghujam bumi beberapa jam yang lalu. Cukup membuat suhu menjadi turun drastis. Bau khas tanah kering yang terkena hujan masih tercium hangat. Membuat pria dengan badan tinggi tegap itu memandangi sebuah tubuh pria tambun yang masih pingsan.


Disinilah mereka, di tengah kebun yang rimbun milik keluarga pak Solihin sendiri. Di sebuah bekas kandang yang rencananya akan ia rubuhkan beberapa hari kedepan kini malah menjadi meja penghakiman untuk dirinya.


Pria itu pingsan dalam kondisi berdiri dengan kaki dan tangannya terikat, dan di kakinya terdapat kursi tinggi sebagai pijakan pria tambun itu. sementara tubuhnya terikat di sebuah tiang kayu yang menyangga tubuh gemuknya agar tak ambruk ke depan. Sementara lehernya kali ini sudah menempel tali tambang yang sudah di ikat kuat.


"Bangunlah pamanku,". Ucap lirih pria yang membawa pak Solihin datang kesini.


Pak Solikhin dengan mata yang masih terasa berat mencoba mengerjapkan matanya. Netranya seakan tak percaya siapa orang yang di hadapannya kali ini. Meskipun ia juga belum faham dengan kejadian barusan yang menimpanya.


"Andre!! Tolong lepasin paman, tangan paman sakit,". Ucap pak solihin bahagia sekaligus mengiba.


"Diam dan Jangan banyak bergerak!! Kau bisa jatuh terpleset dari kursi yang akan menggantung lehermu hingga patah paman,". Balas pria muda sang algojo, Andre Hermawan dengan tatapan dingin.


"Aku tak ingin kau mati dulu, aku masih ingin ngobrol denganmu walaupun akan jadi yang terakhir kalinya,". Batin Andre yang masih sedikit mempunyai rasa kasian melihat orang yang paling dekat dengannya harus ia sendiri yang merenggut nyawanya.


"Apa ini semua ulahmu?,". Tanya pak Solihin lemas.


"Maaf paman,". Ujar Andre yang kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Sekejam itukah dirimu nak, membunuh paman yang sudah menganggapmu anak kandungku sendiri?,". Airmata kali ini meluncur bebas di kedua pipi pak Solihin.


"Apa salah pamanmu ini nak? Salahkah paman jika memilih keputusan paman sendiri?,". Sambung pak Solihin dengan perasaan tak karuan.


"Ini sudah menjadi perintah dari Nyai Kanjeng,". Jawab Andre yang enggan menatap mata pamannya yang sudah banjir air mata.


"Persetan dengan sekte itu, keluarlah nak, keluarlah dari sana! Itu hanya akan membawa kehancuran untuk masa depanmu!, Dengarkan kata-kataku sebagai paman sekaligus ayah bagimu nak,". Jawab pak Solihin mencoba membujuk ponakan kesayangannya itu. Andre kemudian mendekati tubuh pak Solihin dan membuka tali yang mengikat tubuh itu dengan tiang di belakangnya.


"Perintah ini sudah mutlak, maaf paman,". Ujar Andre lagi.


Mendengar kata-kata dingin yang seolah tak memiliki belas kasihan itu membuat air mata pak Solihin kembali tumpah. Anak kecil yang ia didik bersama kedua anaknya kini telah berubah. Anak kecil yang dulu selalu membuat pak Solihin gemas kini berubah menjadi malaikat maut yang akan membunuhnya malam ini. Apalagi kali ini hidupnya hanya bergantung di kursi plastik yang di pijaknya agar tidak menggantung bebas.


"Dulu paman meminta untuk merawatmu, paman tak rela jika kau di masukkan ke panti asuhan saat orang tuamu memutuskan untuk bercerai dan tak ingin mengurusmu. Paman selalu menyayangimu seperti anak sendiri. Paman selalu berusaha mendidikmu dengan baik agar kau tidak seperti bapakmu yang seorang bandit kriminal. Paman selalu ingat saat kau selalu meminta tidur di pelukan paman,". Mata pak Solihin kali ini nanar menatap pria yang sudah berubah dingin sedingin es batu itu.


"Paman selalu berdoa agar kau menjadi sukses, anak yang paman selalu gendong dan rawat dengan sepenuh hati,,". Sambung paman dengan tangisnya yang sudah pecah.

__ADS_1


"Tak kusangka selama ini paman hanya menyia-nyiakan waktu untuk membesarkan seorang iblis!!,". Hardik pak Solihin pada pria yang selama ini ia besarkan dengan sepenuh hati tersebut.


"Diam!,". Bentak Andre yang daritadi hanya diam mematung. Kali ini ia berjalan cepat menghampiri tubuh pamannya itu. Dan sekali hentakan ia menendang kursi itu hingga membuat tubuh gempal itu tergantung bebas. Sekilas terdengar tulang patah dari tubuh itu. Tubuh besar itu dengan otomatis meronta ronta, matanya pun sudah berubah menjadi terbelalak berwarna putih dengan kulit wajah pucat kebiruan. Sungguh Tubuh Pak Solihin mengejang dengan hebat. Tubuh itu Seakan sedang menari dengan malaikat kematian.


Tak menunggu lama, Andre dengan tanpa menatap tubuh pamannya ia berlalu meninggalkan tubuh yang masih menggeliat menyambut ajalnya. Hingga saat hampir keluar kebun ia melihat kembali tubuh yang sudah menggantung itu tak bergerak lagi.


"Maafkan aku paman,".


*******


Adzan Subuh telah tiba, pertanda panggilan yang kuasa untuk menunaikan dua rakaat menyembah kepadaNya. Aku yang sudah terbangun dari tadi malam merasakan perasaan yang kurang enak dengan terpaksa aku harus bergadang semalaman di pos ronda kampung ini, tentu bersama pak Mardi juga.


Selesai aku menunaikan ibadah, melihat pak Mardi yang pulang dari mushola, terlihat nafasnya terengah-engah. Sepertinya dia habis muter-muter kampung. Melihatku di teras rumah sambil membantu menyapu teras, pak Mardi langsung menghampiriku.


"Kamu...udah... bangun???,"'. Nafasnya yang tersengal-sengal menyulitkan dia untuk berbicara.


"Pak...pak.. Solihin..,". Ucapnya sembari mengatur nafasnya.


"Pak solihin kenapa pak Mardi?,". Tanyaku heran.


(Innalilahi wa innailaihi Raji'un


dini hari tadi


Semoga amal dan ibadahnya di terima di sisi Allah.......)


Suara dari speaker masjid begitu menggema di pagi yang masih tenang ini.


"Nah itu, kamu dengar nggak???,". Tanya pak Mardi.


"Pak Solihin meninggal gantung diri itu yang mau bapak kasih tau ke kamu!!!" Ucap pak Mardi meyakinkanku.


"Pak Solihin bapaknya si Tono?!,". Teriakku kaget.


Tak kusangka tragis juga akhir hidup orang yang baru beberapa hari kemarin kutemui. Apa yang sebenarnya masalah yang di hadapi oleh pak Solihin begitu berat hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di seutas tali? Apa ini ada hubungannya dengan sekte di rumah Simbah Tari? Siang ini aku harus kesana.

__ADS_1


Tapi entah mengapa aku merasa ada yang janggal di kematian pak Solihin. Pasalnya waktu beberapa hari kemarin beliau bercerita sangat ingin naik haji sebelum kematian menjemputnya. Tapi kenapa malah dirinya sendiri yang menjemput kematiannya. Membuatku diselimuti seribu prasangka. Apa aku harus menyelidiki seperti cerita fiksi detektif Conon?


"Hayoo, kakak ngelamunin siapa hayo?,". Ucap Rahma yang sudah berdiri di belakangku.


"Jangan bilang lagi mikirin gimana caranya dapetin hati aku lho ya hihihihi,". Sambungnya lagi dengan genit.


Dasar ABG, belajar dulu sana dek, jangan cuma cinta aja yang dipikirkan. Ingat dek ingat cinta tak selamanya indah adek, Batinku dongkol dalam hati.


"Nggak kok dek, kakak nggak ngelamunin siapa-siapa,". Jawabku singkat berharap dia segera pergi.


"Yaudah Kak, ibu bilang tadi, kalo nanti siang minta tolong jemput kak Wulan. Ban motornya mbledos (meledak) katanya karena yang naik kebanyakan dosa mungkin, hehehe,". Ucapnya meledek kakak perempuannya.


"Hehehe jangan gitu, nanti orangnya denger bisa lepas telingamu di jewer kakakmu,". Ucapku terkekeh mendengar pernyataan dari Rahma.


"Emm, kakak naksir ya sama kak Wulan?,". Tanya bocah yang kebetulan sedang tidak berangkat sekolah itu.


Uhukk uhukkkk uhukkk


Tiba-tiba saja air putih yang kuminum saat ini memaksa keluar mendengar kata-kata yang bagai anak panah meluncur deras menghujam ulu hatiku.


"Fix, kakak naksir sama kak Wulan!, Rahma mau lapor sama ibu ah,". Goda Rahma sembari berlari kebelakang dengan niat menemui ibunya.


"Eh, ss-siapa bilang Ma Rahma. Duh malah udah kabur, wah ini bisa mati aku,". Gumamku panik melihat Rahma yang sudah tak terlihat.


Dasar Rahma, Siapa yang juga yang naksir sama Bidan aneh tapi imut itu, eh....


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.Bersambung..


__ADS_2