Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Pesan


__ADS_3

Malam ini kumandang isya' baru saja di serukan. Pemakaman pak Mardi pun sudah selesai di persiapkan. Jen*zah sudah di mandikan dan di kafani dengan syari'at agama yang di anutnya sedari lahir. Para sanak saudara dan tetangga sudah berdatangan memenuhi rumah pak Mardi sekeluarga.


Keranda besi sudah mulai di angkat, seruan tahmid mengiringi langkah para peziarah mengantarkan jenazah pak Mardi ke peristirahatan terakhirnya. Wulan dengan terus menerus mengalungkan tangannya ke lenganku. Tak henti-hentinya dia menangis meratapi kematian tragis ayahnya tercintanya. Hanya ada suara lirih rintihan tangis mengiringi kami hingga proses pemakaman berakhir selesai dan kami pulang untuk kembali ke aktivitas masing-masing.


Sementara aku masih di rumah Wulan untuk tinggal sementara disini sekaligus menenangkan Wulan sebentar. Dan Sementara ayah kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga ayu yang sendirian dan masih terbaring koma di rumah sakit. Setelah para peziarah rampung melakukan pengajian, rumah nampak lebih senggang meninggalkan beberapa bekas kulit camilan dan beberapa perabot yang masih berserakan.


"Wulan?" Panggilku lembut.


"Iya mas Mahesa," balasnya sembari memunguti bekas perabotan kotor yang ada di bawah kursi plastik.


Tanpa pikir panjang aku langsung membantunya agak cepat selesai. Tak tega rasanya melihat wanita yang biasanya ceria menjadi lebih pemurung dengan sesekali mencuri waktu untuk menangis. mengurungkan niatku sebelumnya.


"Mas kamu masih punya rahasia apa sama ayah? Aku mohon tolong jujur sama Wulan."


deggggg


"Akan ku ceritakan saat waktunya sudah tepat, aku mohon bersabarlah" ucapku tanpa membalas tatapan matanya.


Drtttt.. drrrtttt... drrttttt..


*Anda telah menerima pesan baru*


"Nomor siapa ini?" Batinku.


Berjalanlah menyusuri sungai ke arah barat. Temui aku di bangunan tua bercat hijau. Datanglah jika kau ingin ini semua segera berakhir.


Didik


"Mas Didik?? Mau apa dia? Eh, kenapa juga aku tidak melihat dia beberapa hari ini. Sebenarnya apa sih yang kau lakukan bodoh!" Gumamku risau membaca pesan dari mas didik.


"Apa aku harus pergi menemuinya? Atau ini hanya jebakan?" Batinku mulai berkecamuk.

__ADS_1


******


Malam semakin larut, keramaian insan manusia sudah mulai pudar menyisakan suara-suara hewan malam yang saling berbunyi bersahutan. Aku masih saja di rumah Wulan, sekedar berkumpul bersama bapak-bapak dengan obrolan absurd mereka. Sesekali aku hanya tersenyum karena tidak terlalu paham dengan maksud obrolan aneh mereka.


Batinku masih terngiang-ngiang dengan pesan misterius itu, apa mas Didik butuh bantuanku? Bagaimana? Baiklah akan kutemui dia malam ini juga, gumamku memutuskan. Aku tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Aku butuh persiapan matang saat ini. Berjaga-jaga kalau-kalau ini hanya jebakan semata.


Dengan pistol yang sudah bertengger rapi di pinggangku. Juga senter yang kupinjam dari ibu Wulan tadi, aku berangkat diam-diam melalui pintu belakang untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang kurang kusukai. Malam ini sepertinya akan terasa menjadi malam yang teramat panjang.


Akhirnya dengan sedikit perjuangan. sampailah aku di bibir sungai, satu-satunya air mengalir yang ada disini. Dengan hati-hati aku menyusuri sungai yang lumayan jauh di belakang rumah Wulan itu. Menyusurinya ke arah barat sesuai dengan pesan misterius tadi. Aku berjalan di tengah rimbun dan pekatnya malam ini. Hujan gerimis yang tadi sempat turun menambah suasana menjadi lebih dingin.


Sepuluh menit, dua puluh menit, satu jam, atau berapapun waktu saat ini. Aku berjalan terus menerus tanpa tahu sudah berapa lama aku berjalan. Rasa pegal dan capek mulai menjalari seluruh betisku. Entah jam berapa sekarang ini. Sejenak aku berhenti untuk sekedar menghela nafas sebelum kembali berjalan menyusuri rasa penasaranku.


Rasa lelah dan kantuk mulai merambat mengusik kesadaranku. Terlebih beban tas yang kubawa, memang tidak berat tapi cukup membuat pergerakanku kurang bebas. Namun bagaimanapun semua yang kubawa mempunyai tempat penting disaat darurat.


Di tengah rasa putus asa dan frustasi, terlihat cahaya samar sebuah damar (lampu minyak) remang-remang dari kejauhan. Menerangi sebuah bangunan aneh berbentuk persegi. Kokoh berdiri di antara rimbunnya pepohonan yang menyelimuti kanan dan kirinya. Sepertinya ini bukan kebun kopi lagi. Ini sudah di dalam hutan!!


Dengan mengendap-endap aku mencoba mendekati bangunan itu. Hanya cahaya kecil dari lampu minyak yang tergantung itu sebagai penunjuk arah untukku karena senterku sudah kumatikan. Perlahan aku berjalan berjinjit dengan sesunyi mungkin. berjalan pelan-pelan Karena takut menginjak sesuatu yang berbahaya atau hewan beracun. bagaimanapun ini hutan dengan bermacam-macam penghuninya. Inikah bangunan yang di maksud?


Tak ada jendela maupun ventilasi. Hanya ada satu jalan masuk sekaligus jalan keluar yang ada di pintu depan. Tak terdengar suara apapun dari dalam. Bulu di tubuhku sudah bergidik ngeri. Aku sudah berada di samping bangunan. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Keringat sudah mulai merembes membasahi dahiku meski udara disini amat terasa dingin menusuk tulang.


Brakkkk


Sebuah suara membuatku terlonjak kaget. Terlihat siluet bayangan punggung seorang yang kuduga laki-laki berjalan keluar menembus rimbunnya ilalang. Dia berjalan cepat hingga akupun urung mengejarnya, sepertinya dia sangat tergesa-gesa. Samar terdengar suara lirih rintihan dari dalam bangunan membuatku berpikir dua kali untuk mengejar laki-laki misterius itu.


"Siapa dia? Apakah mas Didik?" Batinku dalam hati.


Setelah kurasa cukup aman aku mencoba mendekati pintu papan yang sudah penuh dengan lumut itu. Dengan senjata yang sudah kupersiapkan sebelumnya aku mencoba membuka sesuatu yang terus membuatku penasaran.


Kriiiiietttt..


Udara pengap langsung menyeruak memaksa untuk keluar. Hanya ada lampu minyak di setiap pojok ruangan menempel erat. Tak ada perabotan, Hanya terdapat sebuah meja dan kursi yang berada tak jauh dari pintu masuk. Dan siapa itu? Sosok yang sedang berbaring dia atas karpet berselimutkan kain tipis yang sudah kumal itu. Mas Adi?! Kaukah itu?

__ADS_1


"Si..siapa?" Tanya pria yang biasanya gagah dan berwibawa itu kini nampak seperti tak berdaya.


"Aku mas, Mahesa! Mas Adi kenapa sampai seperti ini?" Ucapku berbisik takut menciptakan gema dalam ruangan pengap ini. kini aku sudah bersimpuh di sebelah pria yang nampak tak berdaya itu.


Terlihat mas Adi sangat kurus kering saat ini. Dengan wajah yang memucat dan bibir yang tak berhenti bergetar. Nampak sebuah perban melilit bahu hingga lengannya. Darah segar nampak remang-remang terlihat merembes membasahi perban putih itu.


"Biar aku bantu mas" ucapku mencoba memapah mas Adi. Ukuran tubuhnya yang lebih berisi membuatku cukup kesusahan di buatnya.


"Sebelum itu, Ada banyak hal yang harus kamu tau Mahesa..." Tukas mas Adi mencoba duduk bersandar pada tembok yang terlihat sudah rapuh.


"Apa mas?" Tanyaku heran pada mas Adi. Kenapa dia tidak kabur padahal jelas-jelas tadi pintu terbuka untuknya.


"Ibu kandung Didik lah, penyebab semua kekacauan ini. Dialah yang menyuruh Didik dan orang-orang di belakangnya untuk membunuhku." Ujar mas Adi meraih selimut tipisnya.


"Ibu kandung mas Didik!" Pekikku tak sengaja membuat ruangan bergema. seakan tak percaya. Didik dari dulu bilang padaku jika dia itu yatim piatu kan! gumamku.


"Ssssttttt! Pelankan suaramu nak!" Ketus mas Adi yang juga terkejut.


"ma..maaf mas" ucapku sedikit menyesal dengan reaksiku tadi.


"Oh! Lihatlah sepertinya aku kedatangan tamu malam ini! Hahaha" Terdengar suara yang tak kalah tinggi denganku menggema kembali memenuhi bangunan tua ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2