
Matahari sudah bertengger dengan gagah di atas ubun-ubun. Seluruh manusia yang di sibukkan dengan usaha mereka masing-masing untuk bertahan hidup menjalankan roda ekonomi. Sementara aku masih terpaku duduk di kursi dengan malas. Keringat bercucuran membasahi baju yang masih melekat di tubuhku. Seperti baru saja mengalami perjalanan panjang yang melelahkan. Tubuhku lunglai hampir tak bertenaga. Di tambah mimpi buruk yang baru saja kualami. Apa ini pertanda buruk?
Otakku dengan usaha cukup keras masih menerka-nerka maksud dari flashback yang tak sengaja kualami. Memilah bagian demi bagian untuk menyimpulkan suatu cerita. Menyusunnya dengan rapi dalam memoriku. Walau terkesan jauh dari akal logika normal orang biasa. Namun, sebuah benda yang saat ini dalam genggaman tanganku berkata lain. Sebuah keris indah yang sama, menyiratkan bahwa aku tadi tidak berhalusinasi sama sekali.
Tokk..tokk...tok..
"Assalamualaikum, Putra.."
Sebuah suara menyadarkanku dari lamunan kosong. Suara laki-laki yang kuharap datang kini sudah berada di ambang pintu. Ayah!. Ada yang ingin kuketahui lebih banyak lagi dari mulut ayahku sendiri.
"Ayah! Masuklah yah" sambutku hangat membuka pintu kayu yang berderit karena sudah usang.
"Kamu apa kabar nak? udah makan belum. Nih kalo belum sarapan ayah bawa nasi sama ayam goreng dua bungkus. Kita sarapan sekaligus makan siang bareng. Ayah belum sarapan soalnya. Hehehehe" ucap ayah sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat denganku.
"Wih mantep.. sekalian ada yang ingin aku bicarakan sama ayah" ujarku membuka bungkusan kertas minyak di kantong kresek warna biru itu. Aroma wangi dari ayam goreng yang masih hangat membuatku langsung kalap. Menyuap dengan suapan besar, aku benar-benar memuaskan rasa laparku. Buktinya saja tanpa menunggu lama semua sudah tandas berpindah sempurna masuk ke dalam pencernaan ku. Sejenak terlena melupakan tujuanku tadi setelah kedatangan ayah. Hehehe.
"Kamu kaya udah nggak makan setahun aja put. Pelan-pelan makannya woi" gumam ayahku yang melihatku begitu kalap saat makan.
"Iya-iya, eh ngomong-ngomong tumben ayah kesini? Apa sama ibu juga? Apa urusan ayah disini masih ada?" Ujarku membuka obrolan.
"Ayah kesini sendiri. Tentu ayah masih ada urusan disini. Nggak mungkin ayah ninggal kamu sendirian kan," jawab ayah yang mulai bersandar ke belakang. Nampaknya ayah juga sedang menikmati rasa kenyang di perutnya.
"Jujur, Ayah kesini karena merasa ada yang aneh, apa kamu mengalami sesuatu nak?" Tanya ayah setelah menyulut sebatang rokok favoritnya.
"Aku barusan di datangi Simbah Tari" ucapku singkat.
"Terus?! Yang bener kamu nak?" Pekik ayah dengan raut wajah terkejut yang sedetik kemudian berangsur tenang kembali.
"Iya, nenek udah cerita semuanya. Tapi ada satu yang mengganjal pikiranku" tukasku yang merasa obrolan ini semakin serius.
__ADS_1
"Hemmm, apa nak?" Balas ayah.
"Apa ayah sudah tau bi Sumi itulah sang serigala berbulu domba?" Ujarku berapi-api seakan merasa sudah satu langkah lebih jauh menghadapi misteri ini.
"Ya, aku memang sudah curiga dengannya lama sekali namun, belum ada yang bisa kujadikan pegangan kuat untuk memojokkannya" tukas ayah sembari terus memandang langit-langit.
"Apa ayah yakin bi Sumi yang sudah nenek-nenek itu dalang dari semua ini?!" Sergahku malah sedikit ragu sekarang.
"Kau tahu bi Sumi itu sebenarnya masih muda lho, mungkin masih seusia ibumu. Dia terlihat dua kali lipat lebih tua dari usia aslinya. Bahkan sudah seperti nenek-nenek karena kekuatan iblis yang sudah menguasainya!! Setahu ayah, karena Nyai Dasimah meninggal dunia dengan masih mempunyai ikatan kontrak dengan iblis, jadi mau tidak mau anaknya lah yang menggantikan Nyai Imah untuk terus melayani iblis itu atau mencari tujuh tumbal ikatan sedarah yang sudah baligh. Itu artinya antara aku atau dirimu yang diincar sebagai darah terakhir!" Jelas ayah secara rinci.
"Tapi untuk apa? Kenapa harus keluarga kita" ucapku dengan perasaan gemetar.
"Tentu saja untuk ritual pelepasan ikatan kontrak yang di lakukan Nyai Dasimah dulu. Kenapa mereka melakukan itu pada keluarga kita? Entahlah ayah juga dari dulu berfikir seperti itu nak. Namun belum bisa dapat jawabannya" ucap ayah.
"ini semua jauh dari dugaanku, ternyata yang kau hadapi itu bukan hanya dari golongan manusia nak," sambung ayah.
"Untuk saat ini belum, tapi aku tau siapa dan bagaimana dia bisa terluka parah seperti itu" ucapku tersenyum mengingat sekilas memoriku.
*******
(-Di rumah sakit-)
"Maaf dok, kenapa pihak rumah sakit menghubungi kami? apa ada hal yang buruk yang terjadi sama pasien 218B dok ?" Tanya Wulan. Intuisinya sebagai orang di bidang kesehatan mengatakan jika ada yang sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf sebelumnya, apa anda dari pihak keluarga ibu ayu?" Ucap dokter muda itu memastikan.
"Saya kerabatnya" ujar Wulan berbohong demi berusaha mendapatkan informasi yang berharga.
"Baiklah. Sepertinya ibu ayu mengalami trauma kepala akibat benda tumpul yang cukup parah. Bahkan di darahnya masih terdapat racun namun sudah berkurang kadarnya semenjak di rawat kemarin lusa. Dari indikasi laboratorium ibu ayu sudah terpapar racun Bu Wulan. Dan sekarang ini masih dalam keadaan koma dan saya pribadi tidak bisa memastikan untuk jangka waktu berapa lama dia bisa sadar kembali. Saya harap ibu dan keluarga besar ibu ayu bisa tabah menerimanya. Kami dari pihak rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter muda itu dengan tegas.
__ADS_1
"Racun?" Heran Wulan.
"Ya Bu Wulan. Ibu ayu terindikasi terpapar Botulinum toxin dengan kadar yang cukup rendah. Namun meski begitu Botulinum toxin dapat menyebabkan botulisme, menyebabkan kondisi fatal jika tidak segera diobati. Ini melibatkan kelumpuhan otot, yang pada akhirnya mengarah pada kelumpuhan sistem pernafasan yang dapat berujung kematian. Racun itu bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka atau dengan menelan makanan yang terkontaminasi. Ibu ayu masih bisa di bilang beruntung masih bisa hidup untuk saat ini" terang dokter itu.
"Hemm baiklah dok. Terima kasih banyak." balas Wulan.
"Kasian kamu ayu, sebenarnya siapa yang tega melakukan ini semua padamu" batin ayu sendu.
Wulan masih saja terpaku sendu menatap wanita yang bahkan belum banyak di kenalnya saat ini. Entah mengapa dia merasakan juga apa yang di derita ayu saat ini. Merasakan Luka yang saat ini di deritanya. Mungkinkah karena mereka sama-sama wanita hingga perasaan mereka saling bertaut. Entahlah.
Sejurus kemudian, mata wulan tiba-tiba terbelalak panik melihat tubuh di depannya kejang mendadak. Suaranya bahkan terdengar seperti orang tersedak sesuatu di sertai suara ngorok yang cukup keras. Wulan hendak membantu dengan pengalamannya selama ini. Namun, urung di lakukan ketika dengan mata kepalanya sendiri, mata dan hidung ayu mengeluarkan darah segar pekat yang cukup anyir. Wulan tanpa berpikir panjang langsung berlari panik. Tak henti-hentinya ia meneteskan air mata, takut akan hal buruk yang belum pernah ia lihat sebelumnya akan terjadi.
"Hiks hiks, Bertahanlah ayu.. kumohon bertahanlah.."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1