
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan keperkasaannya di pagi yang sedikit mendung ini. Semburat kehitaman nampak menutupi sinar hangat sang Surya meski musim hujan hampir sudah selesai menunaikan tugasnya. Tubuhku yang terasa layu ini terus berjalan gontai menyusuri jalan yang dominan terdiri dari batu yang di susun. Sesekali aku berpapasan dengan beberapa warga yang hendak mencari rumput untuk pakan ternak. Hingga sebuah suara yang tak asing cukup mengejutkanku.
"Mas?!" Teriak Wulan dari belakang yang cukup membuatku kaget.
"Wulan?" Mataku membulat tatkala melihat wanita itu berdiri tak jauh dariku. Semua lelahku seakan sirna dalam sekejap mata berganti dengan kebahagiaan. Tak banyak menjawab Wulan langsung saja menghambur masuk memeluk tak memperdulikan keberadaan penduduk sekitar yang memandangi kami dengan tatapan sinis.
"Hiks..hiks...hiks.." tangis Wulan tiba-tiba saja pecah begitu saja.
"Kamu kemana aja sih. Aku khawatir kamu Kenapa-kenapa. Aku kira kamu sudah... Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Wulan masih sedikit sesenggukan.
"Udah yok kita pulang dulu. Malu di lihatin orang-orang tuh" bisikku pelan. Menyudahi adegan pertemuan ala sinetron yang di pandang aneh oleh warga yang tak sengaja sedang melintas berpapasan dengan kami.
Akhirnya setelah sepuluh menit berjalan kaki bersama, kami pun sampai di kediaman Wulan yang masih banyak tumpukan kursi plastik hijau yang bersandar di sudut teras beserta tenda yang masih gagah berdiri memayungi para warga yang hendak tahlil pada malam harinya. Hari ini genap sudah, tiga hari yang lalu pak Mardi meninggalkan dunia fana ini dengan cara yang cukup miris.
Kedatanganku kali ini benar-benar disambut dengan hangat. Tak kusangka ayahku juga ada disini dengan raut bahagia melihatku. Walaupun sekejap saja berubah menjadi wajah yang penuh kegusaran.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu nak. Nanti kita kembali ke kostmu. Ayah akan ceritakan sesuatu yang penting nanti setelah kamu istirahat yang cukup." Ucap ayah membuat aku di gelayuti rasa mengganjal.
"Baik yah," ucapku pasrah karena sudah merasakan lelah yang teramat sangat.
"Oh iya mas, pak Adi tadi di temuin warga di pinggiran sungai dekat kebunnya bapak dulu. Sekarang udah di bawa ke polindes buat di rawat. Dia selalu nyebutin nama kamu." Tukas Wulan sembari menyodorkan segelas teh panas untukku.
"Begitukah wul? Syukurlah. Nanti mungkin aku akan menjenguknya." Ucapku merasakan kelegaan mendengar berita selamatnya salah satu rekanku. Walaupun kutahu misi ini belum selesai.
"Sebenarnya apa yang kamu lakuin si mas? Aku udah tau semuanya dari ayah. tapi aku pengen denger langsung dari kamu." Ujar Wulan menuntut penjelasan dariku.
"Nanti aku ceritakan ya. Sekarang ini aku capek banget Wulan." jawabku jujur. Membuat Wulan menekuk wajah manisnya karena tak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.
"Iya nak Wulan. Nanti kami kesini lagi saja ya. Nanti sekalian ngomongin yang kemarin." Ucap ayahku mengimbuhi.
__ADS_1
"Emang mau ngomongin apa sih?" Balasku yang tak paham dengan kode-kode antara ayah dan Wulan di depanku. Sementara ibu Wulan yang baru saja masuk hanya tersenyum kecil melihatku kebingungan.
Waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Aku dan ayahku sudah kembali ke kostku. Tak seperti bayanganku, ternyata aku tak langsung bisa berbaring begitu saja. mau tidak mau, aku harus membersihkan debu yang masih menumpuk tebal di beberapa sudut dulu. Entah berapa lama aku meninggalkan kamar yang menjadi peraduanku beberapa minggu yang lalu ini hingga bisa sekotor ini.
Setelah selesai bersih-bersih berdua di bantu dengan ayah. Aku langsung berbaring begitu saja. Mengabaikan ayah yang sedari tadi membantu menyapu kamar kostku. Tak butuh waktu lama untukku masuk ke dalam alam mimpi yang selama dua malam ini tak kurasakan. Ah nikmatnya..
*****
"Hei bangun. Sudah mau Maghrib bro. Mandi dulu badanmu baunya udah kaya got itu." Seorang laki-laki mencoba menguncang tubuhku yang rasanya remuk semua.
"Emmmmmhhh apa si Wulan sayang."
"Wulan?! sayang gundulmu?! hahaha... Hei bro! Sadar hei dasar kadal gurun! Ini aku Didik bukan Wulan sayangmu!." gurutu mas Didik dan ayah yang melihatku dari samping mas Didik terdengar tertawa keras.
"Hah!" Ucapku kaget melihat dua orang pria yang dekat denganku sekarang ada disini.
"Emang kamu udah kebelet ya bro? Hahaha" gelak mas Didik melihatku dengan wajah setengah memerah.
"Nah itu buktinya. Ngimpi apa bro kamu sama Wulan? Hooh hooh ya? Hahahaha" kini gelak mas Didik semakin keras.
"Dasar kambing etawa! mulutnya emang nggak punya filter!" ejekku membalas mas Didik.Terlihat ayah hanya menggelengkan kepala melihatku tingkah kami berdua yang seperti Tom & Jerry.
"Udah cepetan nak mandi habis itu ikut tahlilan ke rumah bi Lastri. Ikut doain pak mardi sekalian nanti ada hal yang penting yang harus kita obrolkan disana bersama-sama." Titah ayah menyudahi pertengkaranku dengan mas Didik.
Dengan bergegas aku menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan mengikuti arahan ayah saat ini. Walaupun tubuhku masih ingin sekali kumanjakan di atas kasur. Dengan cepat aku mandi dan segera berganti pakaian yang sopan untuk ikut tahlilan bersama ayah dan seorang sahabatku. kami bertiga kesana menggunakan mobil ayah.
"Apa pakde yakin dengan keputusan pakde yang mau.." tanya mas Didik pada ayahku.
"Ssssttttt.. jangan rusak kejutannya dik. Hehehe" ucap ayahku terlihat terkekeh.
__ADS_1
"Tak perlu ku beri tahu. Pasti juga dia bakal tahu kok pakde. Hehehehe" seloroh mas Didik.
"Hei kalian ngomongin apa sih?! Daritadi bisik-bisik tetangga. Wah bahaya!" Ucapku yang mendengar pembicaraan lirih antara mereka berdua di dalam mobil kecil ayahku yang kami tumpangi.
Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Dan mas Didik yang duduk di belakang hanya diam melempar pandangannya keluar jendela. Sementara ayah membisu seribu bahasa membuatku semakin penasaran saja dengan rencana aneh mereka berdua.
"Kalo nggak mau jawab mendingan aku turun si..." Belum selesai aku berucap.
"Udah sampai ayok turun!" Ucap ayah memotong perkataanku.
"Hahahaha. Ayo kita baca tahlilan dulu. Nanti kita bahas lagi di kost aja bro. Disana lebih privat." Ucap mas Didik yang melengos pergi dan memilih salah satu kursi plastik yang berjejer rapi.
Tahlilan pun akhirnya di mulai oleh salah seorang pemuka agama yang di tuakan di kampung S ini. Semua berjalan khidmat dengan cukup ramai orang yang datang. Semua acara berakhir dengan sempurna. Kini meninggalkan beberapa bapak-bapak yang masih menikmati camilan dan teh panas yang di sediakan. Asap rokok mengepul dari bapak-bapak tersebut sambil mengobrol santai di malam yang terang benderang ini.
Aku membantu Wulan dan mas Didik yang sedang memberesi beberapa piring dan gelas yang sudah di tinggalkan pemiliknya untuk pulang dan beristirahat. Terlihat beberapa wanita tetangga Bu Lastri juga membantu menyapu halaman yang di penuhi bungkus permen dan kulit kacang oven yang di sediakan tadi oleh Bu Lastri sekeluarga. sementara itu...
Mataku tiba-tiba membulat tatkala melihat sesosok nenek yang sepertinya asing sekali untukku. Dia hanya berdiri di pojokan halaman teras saja sedari tadi. Walaupun tak terlalu kuperhatikan. Bahkan seingatku dia berdiri disana cukup lama. Memandangi warga yang sedang melaksanakan kegiatan hingga selesai.
Pandangannya seketika menenggokku yang sedang memandangnya membuat kami saling bertatapan mata dari kejauhan. Bulu kudukku sekejab meremang ketika mulut tuanya menyeringai memperlihatkan gigi yang hitam kemerahan akibat mengunyah sirih. Senyum aneh itu cukup membuatku membisu seketika. Siapa sebenarnya dia? Apa dia juga warga sini? Kenapa dia hanya berdiri saja disana? Dan... Apa dia itu seorang manusia?
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. bersambung...