
"Ayo mas dik cepetan!!" Teriakku pada mas Didik yang sedari tadi masih setor di kamar mandi.
"Iya-iya, ayo cepetan. Bikin nggak tenang orang lagi bertapa aja lu bro" jawab mas Didik keluar dari kamar mandi.
"Pokoknya nanti lu harus jelasin sama Wulan ya, aku nggak mau dia salah paham dan ngangep kita sesama penyuka pisang" ucapku mewanti-wanti.
"Iya-iya cerewet!" Jawab mas Didik ketus.
"Dih marah si kunyuk ini, hahaha" godaku
Mas Didik bergegas mengeluarkan motor andalannya. Bergegas untuk bertamu ke rumah pak Mardi sekalian meluruskan kesalahpahaman Wulan semalam.
"Ayo cepetan! Tadi buru-buru sekarang malah ngaret" ketus mas Didik yang masih terlihat agak jengkel karena aku menganggu aktifitas pagi rutin hariannya.
"Hei tunggu kalian mau kemana?" Sapa salah seorang berpostur tinggi dengan kulit sawo matang yang berjalan ke arah kami yang sudah di atas motor. Sedangkan yang satunya sedikit lebih pendek dengan kulit yang lebih hitam.
"Kalian buru-buru mau kemana?" Sapanya kembali melihat kami masih melamun melihatnya.
Kemudian dia melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya. Dengan senyum yang tak asing bagiku.
"Pak polisi Adi?" Sergahku ingat dengan orang di hadapanku ini.
"Hehehehe maaf pak saya tadi saya sempet nggak ngenalin bapak" ucapku cengengesan.
Bagaimana tidak, pria yang biasanya gagah memakai seragam. Kini dengan modisnya memakai kaos biasa di padukan dengan jaket jeans dan kacamata hitam. Terlihat keren untuk seseorang dengan usia tiga puluh tahunan.
Sementara temannya juga hanya memakai kaos dan celana panjang dan jaket kulit terlihat cukup sangar dengan otot-otot menonjol yang ia miliki.
"Panggil aja mas Adi, oh iya ini kenalin temenku namanya mas Eko" ujar pak Adi memperkenalkan diri dan temannya.
"Iya pak.. eh mas Adi" jawab mas Didik membuat kami semua terkekeh.
"Kalian mau kemana terlihat buru-buru seperti ini?" Tanya mas Adi sembari memasang kaca mata hitamnya lagi.
__ADS_1
"Em kami ada urusan mendadak sih mas" jawabku.
"Oh yasudah kalo begitu mungkin lain kali saja kita bertemu dan ngobrol-ngobrol denganmu" ucap mas Eko dengan senyum. senyuman yang membuat aku sedikit tidak enak hati pada mereka berdua.
"Kalo begitu kami pamit pulang dulu ya. Besok lusa jika ada kesempatan aku bakal kesini lagi, oke?" Pamit mas Adi lagi.
"Oke mas Adi, mas Eko, maaf ya" ucapku dan mas Didik meminta maaf dengan berusaha sesopan mungkin.
"It's Ok" jawab mas Adi singkat dengan jari tangan membentuk huruf O.
Sejurus kemudian motor sport berwarna biru itu pergi dengan suara yang bagai geledek yang menggelegar itu.
"Lagi lihatin apa mas?" Tanya Wulan dan Gita yang sepertinya baru saja pulang berbelanja.
Terlihat dari tatapan geli mereka berdua, wulan seakan masih terbawa kesalahpahaman semalam antara aku dan mas Didik. Apa mereka menganggap aku dan mas Didik itu sepasang kekasih. Gila!!!
*****
Deru suara motor yang membelah heningnya lalu lintas pedesaan. Muhammad adhiaksa, seorang polisi berpangkat brigadir satu ini berhenti di sebuah warung pecel sederhana.
Mereka datang ke daerah desa yang terletak di pinggiran kota itu bukan tanpa sebab. Banyaknya kasus orang yang hilang yang sama sekali tak bisa di temukan, barang m*yat nya pun bagai hilang sudah tak berbekas. Hingga membuat laporan orang hilang menggunung di berkas arsip kasus yang belum terpecahkan.
Dan semua orang yang hilang itu, secara langsung atau tidak langsung, semua pernah berhubungan dengan sekte bernama sekte gagak hitam. Sifatnya yang nomaden atau berpindah satu tempat ke tempat lain, Membuat penelusuran yang di lakukan timnya sering kali menemui kebuntuan.
Satu tahun sudah ia dan timnya selalu mengawasi pergerakan mereka dari jauh. Tak banyak yang di dapat Briptu Adi dan timnya. Bahkan nyaris tak mendapatkan apa-apa dalam enam bulan terakhir disini. Alasannya hanya satu, mereka sangat terorganisir dengan anggota yang masih susah di tebak jumlahnya.
Hingga beberapa Minggu yang lalu, dia dan salah satu timnya melihat seorang laki-laki yang masih muda berhasil merangsek dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup besar. Walau pun Briptu Adi belum tau tujuan dan belum mengenal sosok laki-laki itu, namun keberaniannya membuat polisi tampan itu penasaran.
Dan tanpa banyak mengeluarkan tenaga untuk mencari, laki-laki itu kemarin malam malah datang dengan sendirinya dia antar seorang laki-laki seumuran dengannya. Untuk melaporkan temuan mereka yaitu beberapa tubuh m*yat yang mereka temukan di dalam rumah yang setahun ini menjadi objek penyelidikan oleh tim Briptu Adi.
Tak ada raut wajah takut dari laki-laki muda yang membuat seorang polisi tampan itu ingin mengulik lebih jauh. Sungguh berbeda terbalik dengan temannya yang sudah pucat dengan keringat yang masih saja terus mengucur dan hampir pingsan.
"Di, itu di makan dulu nasimu. Nanti keburu dingin nggak enak" ucap Briptu Eko rekan dari mas Adi dalam kasus ini.
__ADS_1
"Iya mas, hehehe" jawab Adi yang sedikit tersentak dari lamunan.
"Ngelamunin ape sih? Ngelamunin Tika ya?" Goda mas Eko pada mas Adi.
"Ah enggak mas. Mas Eko ini sok tahu! Aku lagi kepikiran soal bocah itu mas" sanggah mas Adi.
"Oh iya, kenapa sih kamu bisa terobsesi buat ngajak dia kerjasama? Sehebat apa sih bocah yang kamu maksud itu" ragu mas Eko.
"Entahlah mas, aku merasa kalo dia nggak mungkin cuma iseng main detektif-detektifan. Pasti ada alasan lain dia sampai berani masuk ke dalam sarang binatang buas yang dia sendiri tidak tahu sampai mana kedalamannya" jelas mas Adi.
Terlihat mas Eko hanya menggaruk kepalanya tak begitu paham.
"Pasti dia punya alasan khusus mas, sampai berani melawan sekte sesat itu sendirian! Dan aku berencana ingin menemaninya berjuang. Toh kita sepertinya juga dalam satu misi yang sama" imbuh mas Adi. Yang di ikuti anggukan dari mas Eko.
Mas Eko tahu betul siapa yang jadi rekan kerja lapangannya kali ini. Seorang Adi bukanlah aparat biasa. Dia orang berhati besar. Bahkan rela menolak kenaikan jabatan pada setahun lalu karena ia merasa belum menyelesaikan tugas misi ini. Ia hanya mau di beri penghargaan jikalau tugasnya sudah benar-benar tuntas.
Keputusan yang membuat kami se devisi sedikit terkejut mendengarnya. Dia hanya selalu menjawab bahwa ini tanggung jawab dan amanah yang di titipkan padanya oleh penduduk kampung. Yang pasrah tak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi selain kepada Tuhan.
Selama enam bulan terakhir saat harapannya dalam kasus ini hampir memudar, beberapa hari lalu tak sengaja ia melihat dua pemuda dengan gagah masuk begitu saja ke dalam sarang penyamun. Tindakan gegabah yang harus dipikirkannya sebanyak seribu kali sebelum memutuskan untuk masuk kesana!
Namun, pemuda itu malah membuat Adhiaksa terkesan. Karena sejenak ia melihat ada dirinya di tatapan mata seorang laki-laki pemberani yang baru saja keluar dari sarang binatang buas yang berbentuk rumah joglo tersebut.
"Tetaplah jadi polisi baik Adhiaksa," batin mas Eko
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...