
Siang yang terik kini telah berganti temaram senja yang hangat. Suasana di dalam mobil pun sudah tak canggung lagi. Meskipun terlihat wanita di sebelahku merasa sedikit risih tatkala nama ayu di ucapkan.
Setelah beberapa saat kami pun sampai di rumah bi Tutik. Rumah yang terlihat cukup sepi dengan lampu yang berpendar tak cukup terang. Kami turun di samping rumah berwarna hijau tosca tersebut.
"Assalamualaikum" salam ayah sembari mengetuk pintu kayu tersebut.
Jika dulu aku begitu bahagia berkunjung kesini, apalagi aku kali ini datang dengan keluargaku. entah kenapa sekarang perasaanku sedikit biasa saja.
"Waalaikumsalam" jawaban salam yang cukup lama terdengar dari balik pintu. Namun itu sepertinya bukan suara dari bi Tutik ataupun ayu.
Ckleekkkk
Terlihat wanita tua dengan baju daster emak-emak mulai melihat kami dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sebelum akhirnya dia bersuara
"Nyari siapa ya pak?" Tanyanya menyalami kami satu persatu
"Oh ibu Tutiknya ada bu?" Ucap ayah setelah beberapa saat mengamati.
"Tutik yang dulu tinggal disini? Bapak siapanya ya?" Bukannya menjawab malah ibu-ibu yang sudah lumayan tua itu balik bertanya pada kami.
"saya temannya bu." Jawab ayah cepat.
"Mereka berdua sudah meninggal kecelakaan pak, motor mereka jatuh terpeleset masuk jurang. Dan jasad si Tutik langsung di temukan di lokasi tapi anehnya anaknya nggak di temukan di manapun." Jelasnya. Terlihat jelas sorotan matanya langsung berubah nanar.
"Kapan itu bu?" Tanya ibuku.
"Seminggu yang lalu" jawabnya singkat.
"Kalau kalian ingin besok pagi datanglah kembali, akan kuantarkan kalian ke pusara mereka" imbuhnya sembari menyeka air matanya.
Apa? Tidak bisa di percaya! Ayu!
Aku hanya bisa mematung mendengar penjelasan singkat dari ibu-ibu itu. Telingaku memaksa untuk mendengarkan dan percaya namun hatiku menolak fakta tersebut. Bagaimanapun dia adalah teman terdekatku juga.
Akhirnya kami pamit dengan ibu-ibu berusia lanjut tersebut. Sejenak kami berpetualang dalam bayangan masing-masing. Seolah tak percaya fakta yang di sampaikan oleh penghuni rumah itu.
Mobil pun melaju kembali. setengah jam berlalu. Kali ini melewati puing-puing bangunan yang sudah rubuh meninggalkan tumpukan arang yang berserakan di atas pondasi yang masih terlihat kokoh. rumah nenek!!
Samar-samar, sekilas terlihat sesosok tubuh berdiri di belakang bangunan yang sudah tak berbentuk itu. Terlihat sekilas wanita tua itu memakai topeng yang sama saat aku melihatnya lusa malam kemarin. Walau tak terlalu jelas terlihat siluetnya, tapi aku benar-benar yakin kalau itu memang dia!
Sosok yang selalu menghantuiku dalam keadaan sadar maupun dalam tidurku. Sosok yang sebentar lagi akan segera ku habisi sampai ke akar-akarnya. Semoga saja kematian belum mendatangiku sebelum aku melakukan keinginanku.
"Kamu lihatin apa mas?" Tanya Wulan penasaran denganku yang terus melongok ke luar jendela.
"Nggak kok, bukan apa-apa" jawabku melempar senyum padanya.
__ADS_1
"Mas, kamu kok kelihatan pucat?" Ucap Wulan melihatku dengan seksama.
"Ehemm, nak Wulan ngomong-ngomong bagaimana kabar bapakmu sekarang? Pakdhe Budi sudah lama nggak lihat jadi pengen ketemu" ucap ayah memecah kebisuan kami.
"Baik pakdhe Budi, ayah sekeluarga semua sehat" jawab Wulan.
"Oh begitu ya, syukurlah." Balas ayah lirih.
Aku cukup heran dengan pembicaraan ayahku dengan Wulan. Mereka berdua seakan-akan sudah saling mengenal lama saja. Dan sepertinya ayah juga kenal dengan pak Mardi, bapaknya Wulan.
Sementara masih berkutat dengan pikiran yang tidak-tidak. Aku mulai merogoh amplop yang di berikan mas Adi tadi waktu di kantor. Amplop berukuran tanggung berwarna coklat tua dengan isi yang lumayan tebal. Dengan kalimat yang di tulis kecil di pojok kanan amplop itu.
'jika dalam 2 hari tidak ada kabar dariku, carilah aku di alamat ini. Bawa aku pulang. hidup atau mati!'
'Semua yang kau butuhkan ada di dalam'
Briptu Adhiaksa
Fuuuhhhhh
"Sepertinya ini akan menjadi kejutan" gumamku lirih.
****
.Di kantor polisi.
"Eh di, ngapain lu senyum-senyum sendiri? Menang lotre?" Sergah Eko. Teman satu devisinya di kepolisian.
"Enggak ko, aku habis nemuin sesuatu yang menarik" ucap Adi dengan yakin.
"Apa?" Tanya Eko penasaran.
"Udahlah nanti kamu juga tahu sendiri" balas Adi.
"Ada hubungannya sama kasus yang kita selidiki?" Tanya Eko kembali menyelidik.
"Hmm, aku udah nemuin lokasi yang di duga tempat perkumpulan mereka" ucap Adi terasa malas karena seperti di interogasi oleh Eko.
"Serius?" Ucap Eko sedikit terkejut.
"Ssstttt, diam dulu. Kita rahasiakan ini dulu sampai informasi ini benar-benar valid" bisik Adi yang menarik baju seragam Eko agak mendekatinya.
"Oke-oke" balas Eko dengan mengacungkan dua jempolnya.
Baguslah, kini saatnya beraksi. Dan setelah pulang dari sana semoga kita tidak berakhir menjadi bangkai. Penyelidikan selama dua tahun akan di tentukan malam ini juga.
__ADS_1
Jam 18:30
Akhir waktu dari piket Adi pun sampai pada waktunya. Kini ia memandang foto di bingkai yang di gantung di ruangan tempat divisinya berkerja. Ia memandanginya cukup lama.
"Ayo di, kita berangkat. Anak-anak udah nungguin" ucap Eko menepuk pundak Adi.
"Hm" Adi perlahan beranjak dari tempatnya berdiri.
Setelah lima menit menunggu akhirnya mereka yang beranggotakan tiga orang. Adi, Eko dan salah seorang yang mengerti betul medan yang akan mereka lalui yaitu si Didik Hermawan.
Sejatinya Adi ingin mengajak Tika dan Mahesa untuk ikut bersama mereka. Namun ada hal yang lebih penting daripada mementingkan ego mereka. Dan lebih untuk Tika, Adi tak ingin menyeretnya ke dalam lubang neraka bersamanya.
Deru mesin gahar memecah ramainya malam ini. mereka berangkat menggunakan dua motor sport yang melaju beriringan.
"Kalian hebat juga ya. Bisa mengatur skenario secantik ini. Polisi emang beda" puji Didik di tengah laju motor mas Adi.
"Bagaimanapun Mahesa dan Tika adalah kunci kita. Terutama Mahesa, dia adalah saksi kunci dengan semua bukti ada di tangannya. Dan Tika, selain aku tak ingin melibatkan dia lebih jauh, aku juga punya tugas khusus untuknya." Jawab Adi.
"Kita akan punya kejutan besar malam ini dik" tukas Adi menyeringai.
"Dan kau adalah pembantu polisi yang cukup hebat dik, kau mampu mendatangkan keluarga Mahesa sebagai pengalih perhatian agar dia mau menjauh sementara. Dan ikut dengan kami walaupun kau tahu resikonya" imbuh Adi.
"Iya anda benar. Aku tak mungkin menyuruh temanku yang keras kepala itu untuk bersembunyi sementara. Pasti dia bakalan mencak-mencak kalau aku secara langsung menyuruhnya. Hahaha" jawab Didik santai.
"Dan dua wanita cantik yang tadi menemaninya itu apakah termasuk juga skenariomu?" Tanya Adi yang kali ini sudah mulai cair dengan Didik.
"Dua? Yang anda maksud Wulan. Dan sepertinya hanya dia tadi yang ada disana." Tukas Didik.
"Aku melihat dua wanita di samping Mahesa tadi. Yang satu berjilbab dan yang satu lagi rambutnya terurai. Aku tak terlalu memperhatikan wajahnya. Karena hanya sekilas" ucap Adi.
"Oh my God!! Tolong minggir dulu bentar mas!" Pekik mas Didik mengejutkan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersambung...