Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Pengorbanan


__ADS_3

"Mau kemana kalian hei bajing*n!!! Kalian belum selesai denganku!!"


"Andre?!" Pekikku dan mas Didik berbarengan.


Seorang pria dengan luka bakar di sekujur tubuhnya dan hampir bertelanjang bulat sedang memegang pedang yang berkilauan tertimpa sinar dari api yang sudah memenuhi seluruh gedung. Terlihat wajahnya merah melepuh dengan gosong di beberapa bagian. rambutnya pun seperti sudah terbakar habis menyisakan kulit kemerahan yang melepuh.


"Sudahlah ndre, semua sudah selesai! Ayo pulang bersamaku." Rayu mas Didik.


"Kita bisa mati disini! Ayo pulanglah! Semua sudah berakhir!" Ucapku mengimbuhi dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.


"Omong kosong!!! Ayo kita mati bersama saja disini! Hahahaha" gertaknya.


Crassshhhhhh....


Tanpa di sangka, Sebuah tebasan tiba-tiba tepat mengarah padaku yang langsung saja mas Didik memasangkan badannya untuk melindungiku. Sontak saja tebasan sepanjang setengah meter langsung mengiris dada mas Didik. Mengoyak baju dan jaket yang di pakainya.


"Mas Didik?!" Ucapku khawatir dengan kondisi mas Didik. Bagaimanapun dia sudah kehilangan banyak darah semenjak tadi.


Duarrrrrrrr....


Sebuah ledakan kembali membumbung di angkasa. Menciptakan awan hitam di langit yang sudah mulai terang karena subuh yang mulai datang. Mas Didik dengan peluh yang masih menetes karena merasakan sakit yang teramat sangat harus kembali menerima serangan akibat melindungiku.


"Pergilah bro! Biar dia aku yang tangani!" Titah mas Didik yang langsung saja usulan itu aku tolak mentah-mentah.


"Paling tidak, aku bisa menahannya untuk beberapa waktu. Pergilah bajing*n itu bukan tandinganmu!" Ucap mas Didik dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Tapi..."


"Sudahlah! Pergi saja! Anggap ini caraku untuk menebus semua kesalahan ibuku pada keluargamu. Hanya ini yang bisa kulakukan. Kumohon," titah mas Didik kembali.


"Hahaha.. jangan memulai drama bodohmu brengs*k!!! membuatku muak saja kalian!!" Bentak Andre yang sepertinya memang manusia yang tak takut mati.


"Titipkan salamku pada semuanya. Dan Terimakasih kalian semua sudah mau mengangapku sebagai keluarga.. Terima kasih" ucap mas Didik dengan air mata yang mulai menetes.


"Sekarang pergi!!" Teriaknya melihat aku yang hanya berdiam diri.


Kyaaaaaaaaaaaaa.. cpranggggggg..


Terdengar pedang keduanya beradu kembali. Seakan kematian bukan penghalang bagi mereka untuk saling menunjukkan kehebatan masing-masing. Walaupun mas Didik hanya bisa menggunakan sebelah tangan saja.


"Akan ku cari bantuan untukmu segera mas. Bertahanlah." Ucapku segera mencari jalan keluar. Tujuanku kali ini hanya ingin meminta bantuan pada siapapun yang kutemui nanti. Membantunya pun percuma aku sudah benar-benar di ambang batas. Energiku sudah habis terkuras saat melawan bi Sumi.


Sesaat setelah aku keluar dari bangunan yang sudah terbakar hebat itu kembali ledakan terdengar lebih dahsyat. Menimbulkan gempa kecil di sekitarnya. Membuatku tercengang. Bagaimana keadaan mas Didik saat ini? Apa mungkin?


"Mas Didik?! Bertahanlah kumohon!" Gumamku lirih. Tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipiku.


Setelah berlari berpuluh puluh meter akhirnya aku bertemu para polisi yang sedang mencari kami. Aku berniat meminta bantuan pada mereka. Namun melihat hebatnya api yang menjalar para polisi itu hanya menenangkanku yang sedang syok berat karena di dalam sana masih ada sahabatku yang mungkin saat ini sedang sekarat.


"Mas..." Gumamku menahan seluruh kekecewaan dalam hati.


"Semua telah usai Mahesa." Ucap pak polisi Adi yang merangkulku mencoba berbagi kesedihan denganku.

__ADS_1


"Ini adalah pilihannya. Dialah pahlawan sesungguhnya.." balasku mengusap airmata yang tak henti-hentinya mengalir tanpa ampun.


Setelah malam yang begitu panjang. Mentari mulai naik menghangatkan bumi. Bersamaan dengan kumandang subuh, Aku kali ini sudah di rumahku di temani beberapa aparat yang mengantarkanku. Dari jauh terlihat Wulan begitu cantik hari ini sedang melakukan aktivitas paginya dengan menyapu halaman yang di penuhi daun-daun kering. Aku patut bersyukur bisa melihat senyumannya lagi. Dengan segera ia melemparkan sapu yang dia pegang sebelumnya dan segera berlari ke arahku ketika netranya menangkap kehadiranku. Terlihat matanya begitu sembab menatapku. Aku merindukanmu bidanku.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu dan mas Didik berhasil by. Aku bangga sama kamu by. Aku sayang kamu by..hiks..hiks..hiks.." sebuah kalimat kebahagiaan terlontar dari bibir mungilnya. terlihat juga air mata bahagia mulai menetes dari pipi merah Wulan.


"Mas Didik sudah..." Tak kuasa aku melanjutkan kalimatku air mata kembali tanpa ampun menetes. Kami akhirnya berpelukan melepaskan semua rasa dalam hati masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


*****

__ADS_1


Dear reader's, Alhamdulillah. Novel Misteri Rumah Nenek sudah hampir mencapai babak akhir. terimakasih untuk semua dukungan dari kalian semua. author sangat bersyukur novel ini bisa sampai tamat dan bisa membahagiakan kalian semua. selanjutnya author ingin meminta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau penamaan nama tokoh yang kurang berkenan author meminta maaf sebesar-besarnya. terimakasih. see you next novel. oh iya tunggu aja bentar lagi ada novel baru yang bakalan terbit segera .. thanks for all..


__ADS_2