
"Apa maksutnya musuh yang sama?" Tanyaku antusias.
"Apa kalian sedang memburu aliran gagak hitam bukan? Aliran brutal yang sempat bersarang di rumah yang kalian mencoba untuk sengaja masuk ke dalam sana?" Ucap pak polisi Adi.
"Bagaimana bapak bisa tau?" Jawabku lirih seakan tak percaya.
"Sudahlah ceritanya panjang. Yang jelas kita berada di pihak yang sama" ujar pak Adi dengan senyum terlukis di bibirnya.
"Habis ini kalian pulanglah dulu. Istirahat lah di rumah, urusan kalian sudah selesai disini. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi kawanku" imbuhnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kami. Sejenak pak polisi bertubuh gagah itu berhenti.
"Besok aku akan pergi ke alamatmu itu, dan akan kuceritakan semua pada kalian. Semoga kalian tidak ada acara besok." ucapnya memunggungi aku dan mas Didik sebelum ia kembali melanjutkan jalannya.
Dengan perasaan yang masih menggantung, kami akhirnya pergi dari kantor polisi sektor wilayah itu. Pergi dengan membawa seribu pertanyaan berputar putar di kepala.
Kali ini mas Didik minta di antar ke rumah pamannya dulu karena ada hajatan kecil-kecilan disana. Dia akan kesana sembari beristirahat sekalian. Bagaimanapun mengerikannya desa ini, desa ini tetep lah kampung halaman dari mas Didik itu sendiri, aku tak kuasa menolaknya. kau juga perlu refreshing mas Didik.
Dan kali ini aku pulang sendiri ke tempat kost ku yang jauh sendirian. Tak di pungkiri beberapa hari ini memang terasa begitu berat sekali bagi aku dan mas Didik. Mungkin aku juga butuh sedikit refreshing.
Awan gelap mulai menggantung siap memuntahkan air dari langit. Gemuruh seakan bersahut-sahutan pertanda bahwa sebentar lagi turun hujan. Melihat mendung yang teramat gelap segera ku pacu motor butut ini lebih cepat lagi.
Namun apa daya, aku tetap kalah dengan titik-titik hujan yang menghujani bumi. Terpaksa aku minggir ke arah tepi jalan karena sepertinya hujan akan sedikit lama turun. Berteduh di gubuk kumuh yang nampak sudah lama sekali di tinggal pemiliknya.
Dan benar dugaanku. Hujan turun begitu derasnya seakan benar-benar di tumpahkan dari langit oleh sang pencipta. Dengan berat hati siang ini aku harus terjebak disini sementara waktu.
Saat sedang menunggu hujan sedikit mereda, dari jauh terlihat seorang nenek bungkuk yang sedang menggendong kayu dengan berpayung daun pisang. Dan mencoba berteduh di tempat yang sama denganku.
Nampaknya beliau pun bernasib sama denganku. Harus menepi sebentar karena air langit turun begitu hebatnya.
Dengan sedikit kesusahan beliau meletakkan setumpuk kayu bakar di gendongannya. Lalu perlahan dia mengusap air hujan yang membasahi kepalanya menggunakan selendang miliknya.
Sekilas wajahnya masih terlihat lebih muda karena sangat sedikit keriput di wajahnya hanya rambutnya saja yang di sanggul rendah sudah memutih semua karena usia. bahkan sepertinya aku pernah melihatnya dalam dua kesempatan.
Hanya sekilas, Aku tak terlalu memperhatikan nenek tua itu. Aku sedari tadi hanya berputar dalam lamunan kosong. Ingin segera aku bertemu dengan keluargaku. Aku sudah benar-benar lelah kali ini. Ingin segera aku berlabuh di ranjang busa empuk di dalam kamar, benar-benar zona nyamanku
"Manungso iku amung ngunduh wohing pakarti" celetuk nenek tua yang sepertinya tak asing itu.
__ADS_1
Cihhh Bicara dengan siapa nenek itu. Namun nampaknya aku tak asing dengan raut wajahnya. Sepertinya aku pernah menemuinya di suatu tempat.
Degg degg degg
Bukankah itu nenek yang membawaku tempo hari ke alam gaib?! Sudah kuduga! Aura aneh yang tak asing ini berasal darimu nenek! Dan nampaknya kau adalah makhluk yang kucari selama ini!!
"Aku tau kau bukan sekedar makhluk halus biasa, bahkan hanya sekedar pelayan Kanjeng Ratu Gadung Melati!" ucapku kepada nenek yang masih bertatapan kosong itu.
Bukan raut wajah berdarah-darah atau hancur dari nenek tua itu yang membuatku takut, namun tatapan kosong disertai aura kelam dari dirinya lah yang seakan membuatku seperti tak mempunyai kekuatan bahkan untuk menatapnya lama sekalipun, aku tak sanggup.
"Kenapa kau diam saja? Katakan apa tujuanmu?" Gertakku melihat nenek tua gaib itu tetap termenung kali ini rautnya nampak sedih.
Aku sedikit menjauh darinya. Karena sudah beberapa kali bertemu makhluk dari dunia berbeda, aku sudah mulai bisa merasakan energi dari bangsa gaib. Dan nenek satu ini memiliki energi yang cukup besar dan nampak sangat kelam. Cukup membuat ku gemetar.
"Katakan padaku Nyai Dasimah!!" Bentakku tak tahan dengan aura dingin dan kesedihan yang kelam dari nenek yang ternyata setan Nyai Dasimah yang masih tersesat karena belum sempat menyelesaikan urusan duniawi nya.
Drapp drapp drapp cringg drapp drapp drapp
Terdengar suara kereta kuda dari arah atasku dan nenek Dasimah. Dan, tidak kusangka akan menemuinya kembali, Kanjeng Ratu Gadung Melati. Aku menundukkan kepalaku pada Kanjeng Ratu Gadung Melati tanda menghormatinya bukan tunduk padanya.
Kereta kencana yang terbuat kayu dengan ukiran di sekelilingnya, di tambah beberapa hiasan dari kristal bening seperti berlian yang nampak mewah. Dihiasi berbagai aksesoris bernuansa warna hijau dan emas di tambah ronce bunga melati dan bunga kanthil mengelilingi tempat duduk sang Ratu membuat semerbak harum saat kereta berjalan.
Kenapa sampai dia turun kemari lagi? Apa dia ingin menawariku untuk menjadi suaminya lagi? Cihhh Apa tidak ada laki-laki lain yang bisa kau usik Kanjeng Ratu, batinku
"Jadi kau sudah tau siapa dia Mahesa?" Tanya Ratu Gadung Melati lembut menyapaku.
"Sudah Kanjeng Ratu, dia adalah Nyai Dasimah! Orang yang membuat seluruh keluargaku dari kakek nenekku dan terakhir sampai dengan tega membunuh ibuku yang sedang mengandung diriku. Beruntung aku bisa lahir dan selamat walau ibuku harus tewas dengan rasa sakit yang teramat sakit. Dan aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan nyawaku yang sudah ku anggap mukjizat karena aku bisa hidup sampai sekarang" jawabku dengan menatap nenek tua itu penuh kebencian.
"Kenapa kau tak membela dirimu imah?" Tanya Kanjeng Ratu beralih menatap nenek Imah sebelahku.
Setelah sejenak hening akhirnya dia menjawab. Bukan dengan kata namun hanya berupa gelengan kepala. Membuatku sedikit terpancing emosi di buatnya.
"Hihihihi, kau memang benar-benar cucu Suwiryo, bahkan kau mewarisi sifat keras kepalanya, Biarkan aku menjelaskannya padamu Mahesa" ujar Kanjeng Ratu Gadung Melati yang kini turun dari kereta kencana ya.
"Kanjeng Ratu Gadung Melati kenal sepertinya kenal dengan kakek saya?" Tanyaku penasaran dengan setiap kata-kata sang Ratu.
__ADS_1
"Tentu saja, aku kenal betul setiap anggota keluarga kerajaan Hadiningrat" tutur Ratu Gadung Melati.
"Anggota keluarga kerajaan?" Tanyaku heran dan sejenak melupakan masalahku dengan nenek Dasimah.
"Oh ternyata kau belum tahu? Hihihihi sepertinya kau memang polos sekali, aku suka. Oh ya satu lagi aku harap kau tidak menjadi bodoh seperti kakekmu itu" tukas Ratu Gadung Melati sembari mengusap rambutku. wanginya benar-benar menguar di hidungku. Aura penguasa yang sangat kuat membuatku tak mampu membantahnya sama sekali.
"Aku sudah mengenal kakekmu semenjak dia belum bisa berjalan, setelah dia dewasa dia selalu sowan(datang) ke istanaku dan meminta berguru padaku" Jelas Ratu Gadung Melati.
"Lalu Kanjeng Ratu?" Tanyaku tak berani menatap mata indah sang Ratu.
"Dia sangat hebat dalam menguasai ilmu Kanuragan. Semua yang ku ajarkan dia mampu menguasainya dalam waktu singkat. Namun entah mengapa aku selalu melihat Amarah dalam matanya."
Kanjeng Ratu kali ini diam sesaat. Kemudian berbalik memandangiku.
"Sebenarnya kakekmu itu adalah keturunan raja di daerah wetan (timur). Bahkan dia salah satu kandidat pewaris tahta dari ayahnya. Saat itu dia berencana di jodohkan dengan wanita yang sama-sama berasal dari bangsawan. Namun karena tergila-gila pada seorang wanita penari hiburan kakekmu memilih menanggalkan nama ningratnya demi hidup damai dengan wanita pujaannya." Lanjutnya.
"Prabu Angkawijaya Hadiningrat kakek buyutmu yang saat itu menjadi raja sangat murka ingin dia menghajar kakekmu dan menyeretnya kembali namun urung dilakukannya. Walau terkesan jahat pada kakekmu, dia tetap meminta bantuan ku untuk membantu setiap garis keturunan Suwirdjo sampai saat ini" terang Ratu padaku.
"Mulai sekarang berhati hati lah, karena ada seorang wanita yang sangat ingin mengincar darah keturunan Prabu Angkawijaya. Tujuannya apalagi kalo bukan demi keabadian!" Imbuh sang Ratu.
"Siapa wanita itu Kanjeng Ratu Gadung Melati?" Tanyaku sudah sangat penasaran sekali.
Terlihat kali ini sang Ratu tersenyum simpul padaku. Membuatku untuk yang kesekian kalinya mengalihkan pandangan. Menolak beradu pandang dengannya.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada wanita tua di belakangmu?" Balas Ratu Gadung Melati yang saat ini menopang daguku dengan telapak tangannya yang halus. Wangi melati benar-benar memenuhi paru-paruku.
jlabbbbb
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung...