
"Singkirkan dia!!!!,". Perintah seorang wanita tua yang sedang berdiri membelakangi dua orang pria dewasa di belakangnya, terdengar nyaring walau dengan suara serak yang mampu memecah heningnya ruangan.
Dua orang pria dewasa yang mendengar titah darinya pun saling berpandangan. Dalam remang-remangnya ruangan berukuran 3X3 yang hanya di terangi empat buah lampu damar di setiap sisi ruangan. Ruangan yang tidak bisa sembarang orang bisa masuk kesini. Hanya petinggi organisasi atau orang berkepentingan khusus saja yang di perbolehkan masuk. Minimnya ventilasi disini membuat kesan ruangan ini semakin pengap. Tak ada jendela hanya ada dua buah lubang seukuran batu bata yang menjadi satu-satunya jalannya sirkulasi udara.
Dua orang itu memandangi sebuah foto pria yang ingin di lenyapkan oleh tuannya itu. Kedua pria itu saling berpandangan kembali. Nampak jelas perbedaan usia di antara mereka. Yang satu sudah sekitar limapuluh tahunan dan yang satunya masih sekitar dua puluh lima tahunan.
"Bukankah ini orang yang kau bawa tahun lalu?,". Tanya pria yang lebih tua.
"Iya benar, itu memang dia!, Apa kita harus menghabisi orang itu?,". Balas pria muda.
Wanita tua itu berbalik dan kemudian duduk menghadap kedua pria yang jauh lebih besar darinya itu. Keduanya langsung meringkuk menundukan kepala memberi hormat penuh.
"Kau tahu siapa yang harus kau habisi malam ini?,". Tanya wanita tua itu datar.
"Tahu Nyai, dia paman saya yang tahun lalu saya rekrut menjadi anggota ,". Kata pria muda itu masih menunduk.
"Kalau begitu itu jadi tugasmu! Dia sudah terlalu banyak mengetahui kita, cepat singkirkan dia anakku!,". Balas wanita itu sembari mengeluarkan segenggam kemenyan dan membakarnya di atas tungku kecil di sudut meja dengan bara yang masih sedikit memerah. Membuat ruangan pengap itu menjadi semakin menyesakkan Indra penciuman.
"Kumohon Nyai, beri saya kesempatan untuk membujuknya sekali lagi supaya mau masuk kembali dalam keluarga kita,". Pinta pria muda itu memohon.
"Sejak kapan kau menjadi pembangkang!! Membiarkan dia hidup lebih lama akan membahayakan rencana kita semua. Dia sudah membongkar identitas kita. Sekarang Habisi dia atau kau yang akan kuhabisi!!,". Ucap wanita itu dengan nada meninggi sembari terus mengunyah sirih yang membuat mulutnya menjadi merah.
Ucapan wanita itu seakan meruntuhkan mentalnya. Dia yang selama ini terkenal bengis sebagai algojo Sang Kanjeng Nyai harus tertunduk mendengar keputusan Kanjeng Nyai yang sudah menjadi panutan selama ini. Walaupun terkenal dingin dan kejam namun dia tidak pernah sama sekali membantah walau satu kata pada Kanjeng Nyai, gurunya selama ini. Walau kali ini ia harus menghabisi satu-satunya keluarga dekat yang dia miliki.
"Kalian berdua Pulanglah, istirahatlah anakku. Nenek minta lakukan malam ini juga!,". Pinta wanita tua itu tegas menggema ke seisi ruangan.
"Baik Kanjeng Nyai,". Ucap kedua pria itu berbarengan.
Setelah keluar dari bilik tersebut, mereka saling bertukar pandangan. Terlihat jelas kali ini mata pria muda itu sayu. Tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau segera lakukan tugasmu!,". Ucap pria tua dingin.
"Apa urusanmu!,". Ketus pria muda.
"Karena aku sudah di perintahkan Nyai, jika kau tidak bisa menghabisi pamanmu, aku yang akan menghabisi nyawanya sekalian dengan nyawamu juga! Hahaha,". Ucap pria tua ini dengan seringai tajam mengintimidasi.
"Pergilah!!,". Bentak pria muda itu nampak masih sedikit terpukul.
"Apapun yang terjadi aku harus melaksanakan tugasku!! Aku sudah terikat kontrak darah disini. Paling tidak setelah ini hanya kurang satu tugas lagi dan aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan!,". Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
********
Dingin malam mulai menusuk tulang, waktu dimana para ingsan tengah lelap di buai angan dalam mimpi. Sejenak menyandarkan tubuh dan beristirahat. Namun tidak untuk dia, malam ini adalah tugasnya yang kesekian kali untuk menghabisi nyawa seseorang sesuai perintah sang Kanjeng Nyai guru besar sekte yang di anutnya.
Satu jam sudah dia duduk mematung mengawasi sebuah rumah sederhana. Rumah yang tak asing untuknya, karena beberapa kali dia masih datang untuk berkunjung hanya untuk mengawasi dari jauh.
.Jam 23:00.
Sebelum beraksi tak lupa dia melakukan ritual rutinnya sebelum mengeksekusi siapapun. Dengan bunga setaman yang di letakkan di daun pisang yang sudah di bentuk persegi dengan dua buah dupa yang sudah di nyalakan. Dengan mulut merapal mantra dan dia mulai berjalan pertanda dia akan mulai menjalankan aksi bengisnya.
*****
Sementara itu di lain pihak.
.Jam 22:54.
Malam itu seperti biasanya pak Solihin masih terjaga dan menonton sepakbola favoritnya. Di temani secangkir kopi hitam dan sebungkus rokok merk Gudang Gula kesukaannya dia terus memandangi layar kotak yang menampilkan pertandingan sepakbola Akbar se Eropa tersebut.
Teriakan kecil mewarnai aksinya dalam menonton tim jagoannya itu. Tentu ia takkan berani mengacaukan tidur istri dan anak satu-satunya yang baru bisa hidup normal lagi beberapa hari ini. Karena sebelumnya dia mengalami teror gaib yang berkepanjangan. Beruntung sahabatnya yang bertamu hari itu membawa anak muda tampan yang bisa mengusir makhluk yang menganggu anaknya selama ini. Meskipun ia juga masih heran dengan anak muda itu.
__ADS_1
Babak pertama telah usai, nampak raut kekecewaan atas timnya yang ketinggalan skor menghiasi wajah tuanya. Sebatang rokok di nyalakan. Asap mengepul tinggi dari hembusan mulutnya yang di hiasi kumis tebal yang mulai berubah memutih tersebut. Entah kenapa semenjak keluar dari sekte yang dianggapnya sesat itu, pola tidur pak Solihin menjadi kacau. Dirinya bahkan sering tak bisa tidur sama sekali. Obat dari dokter pun rasanya sudah tak memberikan efek berarti padanya. Hingga...
Tokk tokk tokk
Suara ketukan pintu membuatnya sedikit kaget karena sedari tadi malah melamun. Siapa yang bertamu malam-malam gini? Ganggu orang istirahat aja! Gerutu pak Solihin.
Di bukanya pintu depan yang baru saja di ketuk dan..
Kosong!
"Aneh padahal baru aja aku dengar ada orang ngetuk pintu, mungkin perasaanku aja kali ya,". Gumam pak Solihin.
Bughhh
Belum selesai keheranan tiba-tiba saja perutnya seakan terhantam sesuatu. Membuatnya jatuh tersungkur menahan sakit. Ia mencoba mendongakkan kepalanya dan tiba-tiba mulutnya seperti tersumpal sesuatu yang sangat wangi seakan memenuhi setiap rongga paru-parunya. membuat ia seperti kehabisan nafas. Belum sempat ia melihat apa yang sebenarnya sedang ia alami dirinya malah sudah kehilangan kesadarannya kali ini.
Sebelum benar-benar hilang dari sadarnya, seperti mimpi sayup-sayup dia mendengar suara yang sangat ia rindukan. suara yang sudah lama tidak mengunjungi dirinya. Suara itu seakan seperti berputar putar di kepalanya sebelum pandangannya menjadi gelap gulita dan...
Brukkkk
"Maafkan aku paman"
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..