
Malam sudah semakin larut, namun obrolan keempat orang yang baru kenal tersebut semakin hangat. Ayu sepertinya sudah tak mampu menahan kantuk yang menyerangnya sedari tadi. wedang jahe yang diminumnya pun sudah mulai dingin sedingin hembusan semilir angin malam ini. Ibunya telah pulang sedari tadi. Ayu memilih tinggal menginap disini di rumah Didik, karena Tante ayu yang memintanya. Ayu juga merasa tak tega kalau harus meninggalkan seorang wanita sendirian di antara tiga pria disini.
Karena sudah merasa tidak betah ayu memutuskan untuk beranjak tidur terlebih dahulu, kemudian tak berapa lama Tante Ningsih pun menyusulnya.
"Emm maaf Permisi, pak budi, mas Didik ,mas putra, Tante Ningsih, ayu pamit bobok dulu ya, ini ayu udah nggak betah ngantuk,". Pamit ayu.
"Oh iya nduk Ndak apa-apa, tidur aja kasian kamu jangan di paksa begadang, oh iya makasih ya nduk udah ngrawat anak bapak yang ngrepotin ini,". Jawab ayah sambil mengelus kasar rambutku.
"Sssshhhhhhh ayah apaan sih,". Gerutuku yang di ikuti tawa kecil mas Didik di sebelahku.
"Iya pak sama-sama,". Ucap ayu tersenyum sambil melenggang pergi meninggalkan kami.
"Aku juga mau tidur dulu mas, capek rasanya badanku,". Ucap Tante Ningsih yang kemudian mengekor ayu di belakang.
Kini ayu sudah melempar tubuhnya di atas kasurnya, terlihat Tante Ningsih yang menyusulnya pun segera merebahkan tubuh di sebelahnya. Mereka berbaring di atas kasur Tanpa ada suara di antara mereka. Nampaknya mereka menikmati angan masing-masing hingga lelap datang menghampiri, dan membawa mereka jatuh kedalam mimpi yang sempurna.
Hingga adzan subuh menyadarkan ayu dari lelapnya, segera bangkit dan ia bergegas untuk mengambil air wudhu dan segera pergi menunaikan wajib dua raka'at nya.
Dokk dokk dokk dokk dodokk dokk
"Siapa sih yang ngetok pintu subuh-subuh gini, orang mau sholat juga, huft,". Gumam ayu.
"Yu bukain pintu yu, ini aku Didik, cepetan?!,". Pinta orang yang mengetuk pintu depan yang terkunci.
__ADS_1
"Siapa ????,". Tanya ayu memastikan bahwa itu bukan orang asing yang berniat mencelakainya.
"Didik mbul umbul, tolong bukain,". Jawab Didik dengan suara yang mulai lemas.
Krrriiiiitttt
"Huwaaaaaaa setaaaaannnn!!!,". Teriak Didik melihat ayu yang masih menggunakan mukena putihnya.
Plaakkkk
"Heh, ini ayu mas. Bukan setan, yang setan itu kamu, gangguin orang mau sholat,". Ketus ayu sembari memukul bahu Didik pelan. Hingga ayu tersadar harus melakukan wudhunya lagi. huft.
"Ya Allah mas, kenapa kamu? kaya habis di kejar warga gara-gara maling ayam aja,". Ucap ayu terkejut melihat sepupunya terengah-engah dengan keringat yang mengalir deras.
"Lho kamu kenapa Jon? Emmm terus pak Budi sama Mahesa kemana???,". Tanya Mbak Ningsih yang ternyata terbangun dengan keributan yang di timbulkan Didik.
"Minum dulu nih, cerita pelan-pelan,". Ucap ayu terlihat sedikit cemas. Nampaknya firasat buruk mulai menyelimutinya.
"Kami habis menyusup dari rumah almarhum Mbah Tari,". Ucap Didik masih dengan nafasnya yang tak beraturan.
"Pasti kalian melakukan penelusuran karena penasaran Dengan ritual aneh yang di lakukan sekte sesat itu kan?? Dasar pak tua itu selalu bertindak tak sabaran.". Gerutu mbak Ningsih terlihat kesal.
"Terus kamu kenapa pulang sendiri? Yang lain dimana dik?,". Ayu bertanya dengan mata mulai berair.
__ADS_1
"Dengerin dulu, Awalnya penelusuran kami terasa semua baik-baik saja dan berjalan mulus, bahkan kami berhasil melihat beberapa orang yang familiar disana, ternyata mereka Anggota dari sekte itu. Namun nggak disangka, ternyata kami ketahuan. Kami di kejar oleh anggota yang berlari membawa berbagai senjata tajam, mau tidak mau kami lari secepat mungkin. Aku dan pak Budi pergi ke arah yang sama sedangkan si putra lari ke arah yang berbeda. Terlambat bagiku menyusulnya karena sekejab saja bayangan si putra udah hilang masuk ke area kebun kopi. Setelah itu karena situasi menjadi mencekam kami memutuskan untuk lari dulu. Aku dan pak Budi berpisah di masjid tempat motorku di parkir, pak Budi masih ingin menunggu putra sepertinya. Begitu yu,". Jelas Didik sambil memijat mijat kakinya.
"Dasar ceroboh!!!,". Kutuk Ningsih mencoba meredam amarahnya.
"Kenapa sih kamu bisa ninggalin putra gitu aja, bukannya kalian itu temenan????,". Tanya ayu gemetar menahan hujan dari pelupuk matanya. firasat buruknya terbukti terjadi.
Kenapa situasinya semakin rumit, apakah kami memang tidak sanggup menahan kedigdayaan mereka. Apa kami harus menyerah saja disini dan menunggu menjadi tumbal sang penguasa, batin ayu. Tak terasa air mata hangat mulai tumpah membanjiri pipi putihnya, laksana air sungai yang mengalir tiada henti. Kesedihan ayu semakin memuncak tatkala pak Budi pulang di antar seorang warga pencari barang bekas, terlihat pak Budi hanya sendirian. Pulang kembali dengan wajah lesu.
Ekspresi ayah dari putra sudah cukup menggambarkan jawaban tanpa harus ayu bertanya padanya. Membuat ayu semakin terisak-isak karenanya. Melihat ayu yang se cemas itu pada anaknya membuat pak Budi semakin terharu di buatnya. Bahkan tak terasa air netranya pun ikut mengalir tanpa Suara dari mulutnya. Dua orang yang berada di hadapan ayu pun ikut berdoa berharap agar sang putra Mahesa bisa selamat dan kembali bersama mereka lagi.
"Kita hanya bisa berharap pada yang kuasa, semoga saat ini dia sedang bersembunyi dari incaran orang-orang sekte tersebut, semoga,". Hibur Ningsih mengusap rambut ayu lembut.
Bukan hanya ayu, Sebenarnya pak Budi juga merasa terpukul atas kejadian ini, tak di sangka putra kesayangannya harus mengalami ini semua. Dalam hati pak Budi sungguh merutuki dirinya sendiri. Dia tak tenang di depan rumah berjalan kesana-kemari sembari menghujat tak tentu. Jelas dia sanggat frustrasi saat ini.
"Kalau dia tertangkap bagaimana?!,". Tanya ayu pada Ningsih, ayu kembali menumpahkan air matanya.
"Kalau putra tertangkap, sudah pasti dia akan mati!!!!,". Bentak pak Budi dengan dingin.
Membuat semua di ruangan itu menunduk tak berani menjawab. Bahkan tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Bernafas pun mereka berusaha tak menimbulkan suara. Mata dan tatapan pak Budi bukan seperti saat pertama kali kemari. Tatapan seorang ayah yang hangat sudah sirna di matanya Meninggalkan sebuah sorot mata tajam dengan aura dingin yang seakan menyelimutinya. Beliau kemudian kembali berjalan keluar rumah dia hanya duduk diam di teras. Membuat ayu penasaran apa yang ada dalam kepala pak Budi saat ini.
"Itulah Mas Budi Tri Rahardjo Suwirdjo, orang yang selama ini kukenal. Orang Yang akan menghancurkan apa yang menjadi batu penghalangnya. sungguh Aura dingin seorang pembunuh yang sudah lama tidak kulihat...." Lirih Ningsih sembari menunduk sendu.
"apa maksudmu ??!!,". Tanya didik dan ayu hampir berbarengan.
__ADS_1
Bersambung....