
Hari ini Pagi mulai menampakkan dirinya, di hiasi sinar mentari yang menghangatkan tubuh Menggantikan dinginnya malam yang pekat. Kokok ayam jago bersahut-sahutan menandakan Waktu mulai dimana setiap ingsan harus mulai berjuang lagi demi roda kehidupan yang lebih baik.
Dan disinilah aku, di tempat pak Mardi semalaman. aku terpaksa menginap disini karena memang aku tak bisa memaksakan untuk pulang. Dan mau tak mau aku harus menerima bantuan dari pak RT di wilayah ini yaitu pak Mardi. Walaupun aku sangat sungkan terhadapnya. Beliau menawarkan untuk tidur di kamar tamu yang langsung ku tolak halus. Aku lebih memilih tidur di sofa dengan posisi setengah duduk. Tak nyaman memang, tapi itu lebih baik daripada harus merepotkan pemilik rumah lebih jauh.
Setelah membersihkan diri dengan di bantu pak Mardi tentunya. Aku menitipkan pistol yang kemarin ku bawa kepada pak Mardi, aku percaya padanya saat ini walaupun belum 100%. Tapi juga tidak bisa menyembunyikan barang seperti itu dari mereka lama-lama. jadi kuputuskan untuk mempercayai pak Mardi meskipun berat. Aku kembali menyeret kakiku untuk duduk bersama mereka lagi di meja makan. Terlihat disana ada tiga orang wanita yang sudah menunggu kami. Mereka semua sangat harmonis sekali, membuatku rindu dengan keluargaku terutama ibu.
"Sssttt kak sini duduk Deket Rahma aja,". Ucap rahma setengah berbisik.
"Nak Mahesa duduk di sini sebelah Wulan sama saya saja,". Ucap pak Mardi menunjukkan kursi di sebelah Wulan. Terlihat ekspresi Rahma jengah. Disisi lain terlihat wajah pak Mardi sepertinya puas mengerjai putri bungsunya itu.
Akhirnya pagi itu kami berlima sarapan bersama dalam suasana hangat yang membuat siapapun nyaman. Kami semua terlihat bercengkrama ringan di selingi candaan kecil dari pak Mardi membuat suasana sedikit riuh.
"Wulan nduk cah ayu anakku, kapan kamu mau nyari pacar lagi? Di usahakan nduk jangan lama-lama nanti kamu keburu jadi prawan tua. Atau Jangan-jangan kamu masih nunggu laki-laki nggak punya tanggung jawab itu?,". Sergah pak Mardi dengan tatapan tajam.
"Huffftttt,". Terlihat helaan nafas panjang dari bidan manis yang kali ini memakai jilbab biru laut yang membuatnya terlihat lebih segar.
"Pak, Dia itu udah janji mau nikahin Wulan. Tapi nggak tau kenapa tiba-tiba hilang dan susah di kabarin. Keluarganya juga sepertinya enggan memberi informasi apapun sama Wulan. Wulan masih bingung antara mau menunggu atau membuka hati untuk yang lain. Wulan dilema pak,". Ujar Wulan menimpali. Kali ini terlihat wajahnya menunduk menyembunyikan kesedihan di wajahnya.
"Bapak tau dia memang laki-laki yang nggak bertanggung jawab sejak awal bapak ketemu dia. Memang apa salahnya kalo kamu buka hatimu dulu nduk,". Lirih pak Mardi pada putri sulungnya itu.
"Kalopun Wulan harus membuka hati, Wulan juga nggak pengen buru-buru ayah,". Ujar Wulan menjelaskan.
"Nanti aku bersihin luka kamu sama nanti aku ganti perbannya ya kalo aku udah pulang. Kamu jangan lupa minum obat sama vitaminnya. Sama minum air putih yang banyak, pak tolong nanti mas Mahesa di jaga ya, nanti kalo ada apa-apa telfon Wulan aja,". Ucapnya menasehatiku. Membuatku sedikit malu di hadapan keluarganya karena menurutku itu sedikit berlebihan.
"Assalamualaikum pak, Bu, Wulan pamit kerja dulu,". Salam Wulan sambil menciumi punggung tangan ibu bapaknya.
"Waalaikumsalam", jawab kami serempak.
__ADS_1
******
Kami sudah selesai makan bersama pagi ini. Sebuah anugrah rasanya bisa merasakan nikmatnya bisa makan pagi. Bu Rohimah istri pak Mardi kemudian mulai membawa piring kotor ke dapur untuk segera di cuci di bantu anak bungsunya. Sungguh keluarga yang indah.
"Emm nak Mahesa, habis ini bapak mau ke rumah pak Solihin rumahnya si Tono yang kemarin bapak ceritain sama kamu, apa kamu mau ikut?, Bapak mau nanya soal ternak dia sama sekalian jenguk si Tono ,". Ajak pak Mardi.
"Boleh pak,". Jawabku antusias.
Setelah menunggu pak Mardi menyiapkan kendaraan yang akan kami pakai. Akhirnya kami pun berangkat. Sepanjang jalan kami hanya sesekali mengobrol aku hanya membalas dengan senyum karena kadang tidak jelas apa yang di bicarakan pak Mardi, Hehehehe. Setelah sepuluh menit kemudian Kami akhirnya sampai di rumah yang bisa di bilang sederhana. Kami berdua akhirnya masuk setelah dipersilahkan. Pak Solikhin pria paruh baya dengan kulit coklat hitamnya serta kumis tebal yang menempel erat di kulit wajahnya seakan menyembunyikan senyum ramahnya. Namun, aku seperti tidak fokus pada sapaan tuan rumah kali ini. Entah kenapa kalung dengan bandul hijau tempo hari yang ku pakai terasa agak hangat kali ini, membuat ku sedikit tak nyaman. entah halusinasi atau memang benar kalung ini punya aura sendiri.
Saat masih asik dengan obrolan santai bersama pak Solikhin tiba-tiba sebuah erangan terdengar dari salah satu kamar. Itu Tono! Kami berhamburan untuk melihatnya mengekor di belakang pak Solihin. Terdengar erangan itu berganti menjadi tangisan yang pilu sebelum sesaat berganti tawa yang kencang. Membuat bulu kudukku meremang seketika. Namun aku teringat pesan ayah yang selalu menasehatiku agar jangan pernah takut dengan mereka! Membuatku kembali menemukan keberanian.
Ckleekkkk kriiiiietttt
Pintu terbuka!
"Siapa kau??!!! Pergi aku tak ada urusan denganmu!!!!" Gertak Tono kali ini dengan suara berat dengan tangan menunjuk ke arahku.
"Benarkah? Hei Setan laknat Jika kau tak pergi dari tubuh yang kau tempati itu maka, kali ini kau berurusan denganku!,". Balasku dengan dingin.
"Hahahaha!! Dia sudah lancang mengencingi rumahku!!!!!,". Jawab Tono kali ini matanya benar-benar merah.
"Maafkanlah dia, dia mungkin tidak tahu itu rumahmu, atau.....,". Ucapku.
"Cobalah usir aku jika kau sakti!!! Hahahaha,". Potong demit yang sudah menguasai tubuh lemah itu.
"Arggggghhhhhhh, panasss!!!!!!!,". Teriaknya ketika aku sedikit menekan dahi Tono pelan.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, Pergilah!! Atau kau musnah!!,". Balasku.
"Ampun tuanku!!!! Saya hanya di suruh Nyai saya, pimpinanku sekaligus ratuku,". Jawabnya mengelak. Aku sedikit mengendurkan pegangan ku.
"Arrrrgggghhhh,". Lanjutnya masih mengerang.
"Siapa pemimpinmu ??,". Tanyaku penasaran.
"Orang Sama seperti yang menguasai kuntilanak Nyai imah!!! Ampuni saya tuan karena tuan telah berbaik hati maka saya akan mengabdi pada tuan saja, hahahaha!!!!,". Ucap Tono suaranya kembali menggelegar di ruangan.
"Pergilah!! Kau bebas, jangan pernah ganggu tubuh itu lagi. ,". Jawabku singkat.
"Baik tuanku!!!,". Balasnya yang kemudian tubuh dari Tono menjerit namun kali ini dengan suara yang berbeda. Sepertinya Tono sudah kembali lagi ke tubuhnya walaupun sekarang sedang pingsan.
"Sudah kuduga!!!,". Batinku.
Kami segera kembali ke ruang tamu lagi, sedangkan istri dari pak Solihin yang baru pulang dari pasar langsung menemani putranya yang mulai siuman.
"Terimakasih mas, untung sekali saya kedatangan dukun hebat seperti anda mas, terima kasih pak Mardi, mas Mahesa. ngomong-ngomong itu tadi apa mas yang merasuki anak saya? ,". Ucap bapak Solikhin sembari memberi amplop yang di paksakan di tanganku.
"Hanya genderuwo dan anak buahnya. mereka cukup jahil tapi bukan yang terkuat,". jawabku singkat.
"Maaf pak bukannya saya lancang, tapi kami menolak dengan baik pemberian bapak. Lebih baik di gunakan membeli vitamin untuk Tono saja. Dia lebih butuh itu pak solihin. Dan lagi saya bukan paranormal pak, jangan pernah panggil saya seperti itu lagi!!,". Ujarku tersenyum.
"Tapi bagaimana cara kami berterima kasih pada anda mas Mahesa, pak Mardi ??" Tanyanya harap. Aku memandang pak Mardi sekilas.
"Cukup jawab pertanyaan saya saja!!!". Ucapku dingin dengan menatap pak Solihin tajam!
__ADS_1
Bersambung...