Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
7. Surup


__ADS_3

Tanpa kusadari aku terlelap sampai jam 3 sore. Tidur siang yang cukup panjang. Cukup untuk mengganti tidurku yang tidak nyenyak semalam. Sayup kudengar suara silih berganti di luar rumah, terdengar ramai.


Krrkkkkrrrrkk


Suara perutku mulai berbunyi, sedari tadi aku memang belum makan. Malas rasanya makan di tempat yang kurasa aneh seperti rumah ini.


Rasa laparku kini menjadi-jadi. Ku beranikan diri untuk keluar mencari makan di dapur. Masih teringat sekilas kejadian semalam. Hiiii tawa itu yang membuatku tak bisa tidur.


"Cihh nggak ada yang bisa di makan" ujarku sambil menutup pintu kulkas, tak puas rasanya hatiku melihat isi dalamnya


Aku berjalan menuju ke luar rumah lewat pintu depan. Berharap ada orang berjualan. Untuk sekedar memuaskan rasa laparku. Disana juga terlihat para tamu rumah ini sedang nongkrong sambil bercengkrama. sehabis jalan-jalan seharian mereka nampak akrab tak seperti pertama kali bertemu waktu itu.


Aku melewati ruang makan yang megah. Mejanya mengkilap terlihat kokoh. Disana terlihat seorang wanita yang tak asing buatku. Ia sedang menikmati semangkuk makanannya dengan lahap. Bulik Ningsih. Aku hanya melirik tak berani menatapnya sama sekali.


"Dek kamu mau kemana?" Sapa Bulik.


"Mm-mau nyari makan. Gue laper" jawabku setengah ketus melenggang tanpa menatapnya sama sekali. Masih agak jengkel dengan perlakuannya tadi pagi.


"Mau nyari dimana kamu? Disini semua jauh. Bahkan warung terdekat aja jaraknya 700 meter dari sini. Itu saking luasnya kebun kopi milik simbahmu." Terang Bulik sembari senyum. Senyuman yang aku rasa mampu melumpuhkan pria manapun.


"Hmm" gumamku sembari mengangguk tanda mengerti.


Setelah mendengar penjelasan tersebut entah kenapa aku mengurungkan niatku. Cukup malas juga berjalan sejauh itu apalagi disini sepertinya nggak ada motor. Bahkan aku nggak bisa nyetir mobil sendiri. Ah aku terjebak dalam rasa laparku.

__ADS_1


Aku berjalan ke belakang. Entah kenapa kaki ini mengajakku berjalan ke tempat yang di penuhi alat musik khas Jawa tersebut.


Sampai di pendopo yang cukup adem lantainya. Aku duduk melamun sambil memegang perutku. Kenapa disaat seperti ini ibu ayah bahkan si tengil Hendra malah sibuk sendiri. Apa mereka lupa denganku. Ku rebahkan punggungku ke lantai. Tak sengaja aku pun terlelap.


"Arghhhhhhhh" kurasakan sakit di badanku. Kusipitkan mata yang belum sepenuhnya terbuka.


"Bulik Ningsih?!" Teriakku melihat sosok wanita itu duduk di atas perutku. Aku tak mampu bergerak.


Kemudian jari jemarinya menari di wajahku. Mengelus setiap inci kulit wajahku dengan tatapan buas. Seakan aku ini adalah mangsanya. Dia mendekati wajahku. Nafasnya berdengus hangat menerpa pipiku. Apakah aku harus kehilangan keperjakaanku, jelek jelek begini aku masih suci. pikirku melayang dalam sekejap. Apa nanti kata teman-teman tongkrongku nanti. Ahh rumah ini membawa sial bagiku.


"Bulikkkk jangaaann."pintaku merintih menahan beban tubuh bulikku.


Dia seperti tak memperdulikan kata-kataku. Bibir mungilnya tersenyum. Sekian detik bibir mungilnya menempel di telingaku. Semerbak wangi mengalir memenuhi hidungku sekali lagi. Namun kali ini lebih wangi lagi.


"Aaaaaaaaaaaaaaaarghhh" teriakku. Aku terbangun dengan keringat bercucuran deras. Aku terbangun di pendopo yang mulai gelap karena senja perlahan mulai berganti malam.


Semua terasa begitu nyata bagiku walaupun Aku lega semua ini hanya mimpi. Aku duduk sambil mengusap keringat yang membasahi seluruh tubuhku. aku terduduk lemah.


"Kak kamu ngapain disitu?" Teriak pakdeku.


"Sini cah Bagus. Nggak baik surup-surup di luar rumah." Lanjut pakdeku.di luar rumah." Lanjut pakdeku.


"Iya pakde" jawabku sambil berjalan menuruni pendopo dan berjalan menghampiri pakdeku.

__ADS_1


"emmmm Kamu di apain aja tadi cah bagus?" Bisik pakdeku.


"Maksut pakde?" Tanyaku tak paham.


"Ahh Wes yasudah lupain aja. Ayo makan kamu kelihatan lapar sekali" lanjut pakde


Wah kebetulan sekali perutku juga sangat lapar sekali. Apalagi mimpi tadi seperti nyata. Bahkan rasanya tenagaku seperti habis terkuras.


Kulihat pakde berhenti sejenak untuk menutup pintu. Kemudian merangkul ku sambil menyerahkan sesobek kertas sambil menoleh kanan dan kiri seakan takut ada yang akan mendengarkan selain kami.


"Simpan ini. Bacalah saat kau di ganggu mereka. Jangan bilang siapapun termasuk ayahmu?!" Bisik pakde pelan namun dengan raut wajah penuh penekanan. Sorot matanya seperti elang. Tajam dan sangat berwibawa.


"Ini untuk jaga dirimu, suatu saat pasti kau butuh." pakde kembali menegaskan ucapannya sembari menyerahkan secarik kertas itu.


Sang kala Ireng


Sang kala lumagang,


sang sarasa karasa sira,


Apasang Sira manut marang ingsun.


Pangeranira sang nur zat Maya putih, Sira metuwa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2