Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Peka


__ADS_3

"Kita udah nyampe, Ini rumahku bro. Moga betah ya sorry kalo berantakan bro. Hehehehe.". Ucap mas Didik dengan bahasanya yang di buat-buat sok asik, menunjukkan huniannya yang akan kujadikan tempat sementara untuk bernaung.


"Iya mas maaf ya sekali lagi saya ngrepotin.". Jawabku sungkan.


"Ah nggak papa itung-itung nemenin saya disini.". Ujarnya sembari beres beres ruang tamunya yang terlihat berantakan.


"kamu Duduk sini dulu, mau tak buatin kopi atau air kobokan hehehehe". Gurau mas Didik.


"Saya ngikut akang aja, yang penting jangan kasih saya harapan palsu, hahahaha.". Balasku cengengesan. Memang nikmat kalau bertemu orang dengan satu frekuensi. Hehehe


"Oalah dasar bucin,". Ejek mas Didik. Kami tertawa dengan lepas bersama.


Rumah mas Didik memang tak terlalu jauh dari rumah ayu, mungkin sekitar 100 meteran dari rumah ayu. Tak kusangka Rumah mas Didik nyaman juga. Memang tak terlalu besar namun rumah dengan cat putih dengan lantai keramik semen. Sungguh hunian sederhana namun terkesan benar-benar nyaman sekali. Cukup lama kami ngopi di ruang tamu sambil ngobrol kesana-kemari, tak terasa senja sudah beranjak menjadi gelap. Meninggalkan jejak jingga di ujung pelupuk langit sore.


"Ntar habis Maghrib nyari makan bro, huaaahh aku mau mandi dulu wes. Kamu kalo mau mandi di belakang Yo kamar mandinya.". Ajak mas Didik sembari masuk melewati ruang tamu.


Setelah mas Didik memutuskan untuk mandi, aku sedikit selonjoran di atas bangku panjang di ruang tamunya. Rasanya badanku belum terlalu fit juga. Saat sedang menikmati suasana, entah mengapa ada yang sedikit mengganjal di saku celanaku. Ku raih benda itu dan, ahh ternyata cuma kalung yang di tinggalkan ayah untukku. Entah sengaja atau tidak. Kuamati kalung yang sebenarnya biasa saja buatku namun, bandulnya lah yang membuat kalung ini sepertinya istimewa.


Bandul warna hijau muda dengan bentuk diamond yang memanjang sebesar satu ruas jari. Pantulan dari dalam kristal ini ketika terkena cahaya lampu sungguh indah sekali. Dengan agak ragu ku pakai kalung dengan kristal indah ini. Benda yang tadinya mau ku buang sebetulnya.


"Wihh kalungnya bagus bro, cakep,". Sergah mas Didik yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku.


"Dari siapa tuh, kalau di lihat-lihat keren juga bro,". Kekehnya. Namun, aku enggan menanggapinya.


"Alah cuma kalung biasa paling di pasar juga di jual dua puluh ribuan. hehehe .", Balasku.


"Ayo jadi makan nggak mas, perutku udah dangdutan ini,". Lanjutku dengan mengelus elus perutku.


"Walah kamu itu laper tapi kaya wong hamil, hahahaha,". Ejeknya padaku.


"Yowes ayo, nanti bawa motorku aja. Kalo jalan kaki bisa bengkak betis kita,". Ucap mas Didik yang di ikuti gelak tawa kita berdua.

__ADS_1


Setelah mengeluarkan motor dari samping rumah tak lupa mas Didik juga mengunci pintu dan kami pun berangkat dengan berboncengan. Dengan kecepatan sedang kami melaju di jalan kampung, kami beberapa kali berpapasan dengan warga yang sedang pulang dari mushola. Terlihat kami melewati rumah ayu, terlihat di dalam rumah ada bi Tutik disana, rupanya beliau sudah pulang. Mataku mencoba mencari siluet lain tapi tak menemukannya. Siapa lagi yang ku cari kalo bukan ayu.


"Hei brother, kita makan di warung depan itu ya. Itu warteg paling rame di kampung ini lho.", Jelas mas Didik.


"Terserah sampeyan aja mas, hehehe.". Jawabku bersemangat.


Tak berselang lama kami turun dan masuk ke dalam sebuah rumah makan yang cukup luas. Dengan etalase besar di depan memajang berbagai lauk pauk andalan mereka. Setelah memasuki warung kami duduk di pojok berjarak dua meter persis menghadap etalase yang berbentuk huruf L.


Tiba-tiba angin berhembus menatap wajahku. Kaget? pasti karena kurasa angin seperti di lempar mendadak ke arahku sedikit membuat aku tersentak. Dan hal yang membuat dengkulku lunglai terjadi lagi disini. Kulihat di balik etalase tersebut terdapat sosok tinggi besar dengan bulu menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya seperti gorila dengan gigi taring atas bawah yang sangat panjang, matanya yang merah menyala nampak melihat ke kanan dan kiri mengawasi seluruh orang yang ada disini satu persatu. Aku seperti di paku dan tak mampu bergerak satu langkah pun !


Dan di meja kasir sebelah etalase terdapat sosok dengan tubuh anak kecil telanjang sedang berjongkok di atas meja. namun raut mukanya nampak sudah keriput dengan mata hanya sebesar kancing baju, namun yang paling menjijikkan adalah lidahnya yang selebar telapak tangan orang dewasa dengan panjang mungkin separuh dari tubuhnya di tambah liur yang meluber kemana-mana. Dan yang epic adalah kedua makhluk membuatku kehilangan rasa laparku seketika. Terlihat si besar berbulu itu selalu meludahi piring yang di gunakan untuk menyajikan makanan dan si makhluk yang kecil selalu melewatkan piring yang penuh lauk pauk dengan menyapukan lidahnya yang penuh air liur membuat makanan itu basah dengan air Liur di lidahnya yang bahkan mulutnya pun tak mampu menampungnya, sebelum di sajikan ke pembeli. Benar benar dia menjilatinya hingga penuh dengan liurnya. Menjijikkan!


Melihat hal yang benar benar membuat mual tersebut, aku berlari ke arah parkiran dengan perut serasa di aduk aduk karena ingin muntah. Hanya Rasa takut bercampur mual yang ku rasakan saat ini. Tubuhku sudah bermandikan keringat. Rasa lapar yang tadi sempat menguasaiku mendadak sirna. Terlihat mas Didik berlari cemas menghampiriku.


"Kamu kenapa to bro? Kamu masuk angin?". Tanyanya cemas.


Dengan wajah pucat Aku hanya menggelengkan kepala saja. Rasa di aduk aduk dalam perut masih ku rasakan.


"Mau di bungkus aja apa gimana nanti di makan di rumah,". Tanya mas Didik lagi.


Setelah melihat apa yang ada di dalam sana aku sudah pasti aku menolak dengan tegas. Bagaimana bisa dua makhluk menjijikkan itu ada disana?


"Yaudah kita pulang aja, nanti mampir di warung Deket rumah ayu ya. Beli mie instan sama sekalian beli kopi.". Ucap mas Didik.


"Iya mas.". Jawabku singkat.


Akhirnya kami meninggalkan warung dengan aura gaib tersebut. Sepertinya mie instan jauh lebih baik saat ini. Tak berselang lama kami sudah tiba di warung dekat rumah ayu. Rupanya disini kalau siang warung sembako dan jika malam di sulap berubah jadi angkringan. Dengan lampu kuning di gerobak yang menggelar berbagai gorengan dan nasi sekepal tangan kami akhirnya mampir dan memutuskan makan disini saja. Terlihat beberapa pemuda disana yang sedari tadi menghabiskan waktu malam dengan berkumpul bersama teman-temannya atau hanya sekedar menghilangkan suntuk.


"Mas Anto wedang jahe dua Yo,". Ucap mas Didik kepada pemilik warung angkringan.


"Eh Jon gimana lu udah dapetin ayu belum? Udah jadi pacarmu durung (belum) ? Hahaha, Sepertinya kamu sudah kalah saing Jon. Wong kemaren aku lihat dia di dalem rumah itu sama laki-laki Jon. Lebih ganteng dari rupamu (wajahmu) .". Kata seorang pemuda di seberang kami dengan tergelak cukup keras.

__ADS_1


"Rausah (nggak usah) bahas ayu pet, kamu nggak lihat aku lagi patah hati gini po, tapi sebelum janur kuning mengambang ehh melengkung aku masih punya kesempatan kan. Aku harus berjuang, hehehe.". Balas pemuda yang tadi mengejeknya, terlihat menyemangati dirinya sendiri.


"Wes sak karepmu wae Jon Jon, hahaha.". Balas pemuda dengan tubuh kekar itu.


"Sepertinya kamu harus secepatnya nikahin ayu, tuh lihat kan banyak buaya yang ngincer.". Bisik mas Didik di telingaku.


Aku hanya menanggapinya dengan senyum. Apalagi mendengar pemuda pemuda itu berdebat. Sungguh hiburan tersendiri buatku. hiburan setelah sejam yang lalu menguras habis isi perutku.


Drrrrrttt drrrrrttt


Sebuah telfon masuk, segera kulihat notifikasi yang masuk. Hehehe. Panjang juga umurnya, baru di omongin udah telpon. Segera aku mengkode mas Didik untuk menjawab telpon dari ayu. Dia hanya tersenyum.


"Ngapain sih ni anak, orang tinggal melambai sayang udah keliatan kok, pake acara telpon segala,". Gumamku terkekeh geli.


📲 "Halo ayu, kenapa udah kangen?" Sapaku


📲 "hehehe Dasar gombal, ada berita penting buat kamu." Jawabnya.


📲 "Apaan cantik hehehe," godaku


📲 "Serius putra, pak Heri baru aja kecelakaan dan meninggal dunia" jawabnya


📲 "Pakdhe Heri?" Tanyaku cukup terkejut.


📲 "Iya, yaudah ayu mau bobok dulu ya ngantuk capek ayu" tukasnya.


📲 "Yaudah makasih ya infonya, selamat bobok ayu yang cantik" godaku lagi padanya.


📲 "Hehe gausah gombal-gombal, garing gombalnya. kamu itu orang ke satu juta dua ratus sembilan puluh tiga orang yang gombalin ayu kaya gitu. hehehe," Jawab ayu dengan tertawa geli.


"Hmmmmmm, Tak kusangka pakdhe Heri meninggal, Semakin menarik saja pertujukan ini..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2