
Satu hari sudah berlalu dengan begitu cepat. Dan tepat malam ini adalah malam yang bersama kami rencanakan sebelumnya. Malam ini aku harus menunggui istriku yang tak henti-hentinya menangis. Seperti firasat buruk yang terus menghantuinya. Takut akan skenario terburuk yang akan menimpa hidupku. Meskipun berkali-kali juga aku menjelaskan padanya bahwa aku akan baik-baik saja.
Aku harus menunggunya hingga benar-benar terlelap dalam mimpi. Terlihat goresan air mata yang baru mengering nampak jelas menghiasi pipi merahnya. Kecupan selamat malam tak lupa mendarat manis di pipi dan keningnya. Berharap ini bukanlah yang terakhir. Aku mencoba melepaskan pelukannya dengan sangat hati-hati. Helaan nafas panjang mengiringi langkahku meninggalkan rumah dari pintu belakang. Tersemat doa kecil dalam hatiku memohon pada sang pencipta. Meminta keselamatan dalam mengungkap kebathilan yang selama ini berdiri kokoh.
Nampak dari kejauhan sebuah cahaya senter mendekati diriku. Mas Didik sudah dalam posisi siap untuk malam ini. Bersiap menghadapi segala sesuatu buruk yang mungkin akan terjadi pada kami. Terlihat senyumnya begitu mengembang di antara ketakutan yang sama kurasakan saat ini. Adrenalinku benar-benar terpacu malam ini. Berdesir tak karuan di antara dingin dan pekatnya dingin yang mulai menusuk sendi-sendi tubuhku.
"Sudah siap?!" Ucap mas Didik. Terlihat ketegangan terpampang jelas dari sorot matanya.
"Lebih dari siap.." jawabku cepat.
"Mari kita lakukan!" Balas mas Didik tak kalah cepat dariku.
Langkah demi langkah kami tapaki. Menyusuri sungai yang menjadi sumbu kehidupan beberapa desa yang di lewatinya. Bergemericik merdu menemani nyanyian hewan malam yang mengiringi sepanjang perjalanan kami. Hawa dingin semakin pekat menusuk hingga ke tulang.
Entah berapa jam sudah kami lalui. Akhirnya sampailah kami di sebuah bangunan yang lebih mirip kastil horor untukku. Terlihat beberapa orang berada disana. Orang-orang misterius yang penuh akan maksiat yang sadar atau tidak sadar sudah mereka perbuat bertahun-tahun bahkan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Kali ini terlihat mungkin ada tiga kali lipat dari saat terakhir kali aku kesini beberapa hari yang lalu. Jika hanya berdua dengan mas Didik aku yakin kita pasti akan kalah jumlah dengan telak.
"Kita lewat belakang!" Lirih mas Didik memberi komando.
Dengan sedikit kesusahan kami akhirnya sedikit berputar arah. Merunduk di antara rimbunnya pohon kapulaga yang memenuhi sebagian semak disini. Bau harumnya mengingatkanku pada masakan Wulan istriku. masakan penuh aroma rempah yang sangat nikmat. Pokoknya Aku harus bisa kembali selamat agar bisa menikmati mahakarya masakan dari wulanku lagi. Semoga! Kami memutar arah dengan cara merangkak perlahan agar tak terlalu menimbulkan perhatian lebih dari iblis-iblis bertopeng manusia disana.
"Berhenti dulu!" Bisik mas Didik.
"Kenapa mas?!" Tanyaku sedikit panik. Takut jikalau terjadi hal-hal di luar rencana kami.
"Dengar dan lihat itu?!" Tukas mas Didik dengan mata melotot dan peluh yang mulai membanjiri keningnya. Menunjuk sebuah mobil hitam yang baru saja tiba. Terlihat jelas siapa yang turun dari mobil itu karena kami hanya berjarak kurang dari limapuluh meter. Terlihat jelas seorang wanita dengan mulut di sumpal dan kedua tangannya terikat dengan lakban hitam yang melilit pergelangan tangannya yang mungil. Dengan tak berdaya meronta di atas kursi rodanya. Terlihat tangisnya pecah seakan tertahan. sedangkan ia tak mengerti situasi apa yang sedang dia hadapi.
"Ayu!" Geramku sudah tak tertahankan lagi.
"Apa yang mau si brengs*k itu lakukan sebenarnya?!" Ketus mas Didik sama geramnya denganku.
__ADS_1
"Ayo sebaiknya kita cepat! Sebelum semua terlambat!" Ajak mas Didik mempercepat langkahnya. Dengan sedikit tergesa-gesa kami memutari bangunan itu. Hingga sampai di sebuah pintu yang terletak di samping bangunan berbentuk seperti istana. Pintu sudah usang di makan usia nampak kontras dengan beberapa kemewahan yang kami lihat selama ini. Kami berhenti sejenak dengan nafas sedikit memburu.
"Apa yang akan terjadi padamu yu. Bertahanlah!" batinku merasa terpukul melihat nasib yang akan di alami oleh salah satu sahabatku.
"Ayo cepat!" Pinta mas Didik.
Bruakkk
pintu belakang telah kami dobrak secara paksa.
"Ayo ayo cepat ikuti aku." Pinta mas Didik untuk lebih konsentrasi mengikuti setiap langkahnya.
Hingga kami sampai di satu ruangan yang hanya bercahayakan enthir templok (lampu minyak tanah). Ruangan dengan ukuran yang lumayan luas dan tata ruang yang menghadap pemandangan hutan yang rimbun. Namun sayang tempat cantik ini lah juga yang menjadi saksi bisu bagaimana gilanya Andre yang saat ini sedang mencoba memaksa ayu untuk melayani hasrat kebrutalannya. Di atas kursi roda ayu mencoba memberontak semampunya. Meskipun pakaian atasnya tetap saja terkoyak berhamburan di lantai.
"Hahahaha..sudah kuduga kau disini!" Sergah mas Didik melihat sekelebat bayangan pria yang sedang menikmati bagian atas tubuh ayu yang tinggal hanya di tutupi singlet hitam tipis menonjolkan dua bongkahan yang terekspos begitu saja. sedangkan bajunya sudah sobek kemana-mana karena di buka paksa oleh pria gila di hadapannya.
"B*jingan!!!" Terlihat Andre begitu marah karena kami menganggu aktifitasnya.
"Sudah memiliki keberanian kau rupanya! Majulah bedebah!!" Balas Andre tak kalah keras. Suara menggema keduanya sungguh memekakkan telinga. Sejurus kemudian ia mengeluarkan pedang yang nampak sedikit mirip dengan pedang kalimasada milik mas Didik.
Kyaaaaaaaaaaaaa... cpranggggggg..
Terdengar dua pedang yang saling beradu. Sama-sama menunjukan kemampuan dalam melakukan serangan. Dengan mata yang tajam layaknya melihat hewan buruan di hadapannya. Keduanya menyerang dengan membabi buta. Sebuah kesempatan tak datang dua kali. Aku segera menghampiri ayu yang sudah acak-acakan kondisinya. Dengan tangis yang sudah membuncah sedari tadi.
"Cepat! Jangan banyak tanya..aku harus bawa kamu keluar dulu dari sini..!" Ucapku yang masih berusaha membuka lakban yang melilit kuat kedua tangannya. Kemudian setelah terbuka semua. Aku memberikan jaketku untuk menutupi tubuhnya yang sudah hampir setengah polos. Menggendongnya untuk keluar sementara dari sini.
Bruuakkkk.
Tak di duga sebuah tubuh terhuyung keras kearahku. Tanpa di sengaja dia menabrak ku hingga menjatuhkan ayu yang ada dalam gendonganku dan membuat beberapa enthir templok, Sumber penerangan yang berbahan bakar minyak itu pun jatuh dan menimbulkan sumber api yang cukup besar. Sesaat aku tak bisa berdiri karena tubrukan yang tak di sengaja itu. Namun mengingat api yang sudah berkobar hebat, aku segera merangkak mencari ayu dan segera keluar sementara.
__ADS_1
Dengan rasa ngilu yang masih menjalar, terlihat ayu berada dalam cekikan tangan kekar Andre. Api yang sudah merembet di beberapa perabot menampilkan kejadian itu dengan sangat terang. Satu tendangan dari mas Didik kembali menghempaskan Andre ke pojok ruangan kembali.
"Broo..ambil enthir itu!" Teriak mas Didik. Segera aku menuruti keinginannya. Dan mendekatinya yang sudah berlumuran darah di lengannya.
"Lari!!!!" Teriak mas Didik. Yang kini sudah mundur menjauh dari ruangan itu. Tepat di ambang pintu.
Aku dengan cepat meraih tangan ayu dan menariknya sedikit kasar. Tak ada waktu lagi karena aku tahu apa yang akan di lakukan mas didik. Dengan cepat dia melemparkan dua enthir itu bak bom molotov. Yang meledak dengan cukup keras karena dengan bahan bakar penuh yang membuat ledakan itu cukup membuat kobaran yang sangat besar. Apalagi disana semua terbuat dari kayu membuat api dengan mudah merembet cepat.
"Mau kemana kalian! Ayo matilah bersamaku!! Hahaha!" Suara serak itu begitu mengerikan.
Andre dengan cepat meraih kaki ayu dan menahannya. Membuat langkahku sontak terhenti. Ayu berusaha sekuat tenaga melepaskan kakinya dari cengkraman tangan kuat Andre. Aku juga coba membantunya semampuku. Suasana panik karena api yang sudah membesar menyelimuti kami berdua.
Duarrrrrrrr...
Sebuah ledakan kembali terdengar hanya beberapa meter dari kami. Melemparkan api yang seakan menguyur dua tubuh dengan yang satunya mencoba melepaskan diri. Ayu harus terpental bersamaku karena ledakan yang cukup besar itu. Meninggalkan luka bakar di seluruh tubuh lemah ayu dan sebagian besar lengan kananku.
"Ayo cepat kita harus keluar!!" Ucap mas Didik yang akhirnya menemukan kami. Kobaran api benar-benar membuat pandangan dan pikiran kami menjadi serba terbatas.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..