
Di sebuah gudang kosong dengan dua lantai, kami terus mengejar bayangan seorang wanita tua yang berjalan sangat cepat. Bahkan bagi dua orang pria dewasa seperti kami pun kecepatan itu sungguh mustahil dan di luar kemampuan manusia normal. Keringat deras membasahi sekujur badan kami. Mengejar nenek tua itu sampai ke dalam bangunan yang cukup jauh dari markas utama mereka.
Dan tepat di depan tong berbahan seng yang berjejer rapi nenek-nenek itu berhenti dengan masih membelakangi aku dan mas Didik. Terlihat mas Didik sudah dalam posisi bersiaga.
"Keras kepala juga kalian!" Bentak bi Sumi dengan suara yang berbeda tak seperti sebelumnya.
"Pergi kau ke neraka iblis laknat!!" Balas mas Didik dengan memasang wajah sangar.
"Hihihihi" bi Sumi tiba-tiba berbalik badan. Dan sebuah wajah mengerikan terpampang di hadapan kami. Senyum dengan gigi yang menghitam dan bola mata bengis terpancar jelas di bawah sinar rembulan yang menembus lewat celah-celah bangunan yang tak rapat.
"Mati kau!" Bu Sumi mulai merapalkan komat-kamit yang keluar dari mulutnya. Seketika juga suasana berubah menjadi dingin dan pekat. Rasanya seperti tenggelam dalam air yang begitu dalam. Dadaku seperti penuh sesak di buatnya. Kami seperti tertelan bulat-bulat dalam kegelapan di buatnya.
"Apakah se dahsyat ini kekuatan ilmu hitamnya?" Gumamku lirih.
"Entahlah..." Jawab mas Didik bersiap untuk maju.
Kyaaaaaaaaaaaaa...
Dan benar saja mas Didik maju dengan begitu cerobohnya. Dia menyerang begitu saja tanpa pertimbangan dan rencana matang. Terlihat ayunan pedangnya seperti tertahan sesuatu yang tak terlihat. Beberapa kali tebasannya meleset dan hanya mengenai angin. Dalam kegelapan pertarungan antara anak dan 'ibu' itu terjadi begitu sengit. Aku yang masih terdiam terus berfikir bagaimana bisa melukainya jika senjata pun tak mampu menyentuhnya sedikitpun.
Crassshhhhhh...
Aaaaarggggghh....bruaaakkkk
Tubuh mas Didik terpental kembali dengan luka setipis kertas terlihat samar di lengan kirinya. Remang-remang membuat kami harus sedikit berhati-hati dalam bertindak. Beruntung mas Didik tidak terluka parah. Dasar ceroboh!
"Kita harus memiliki rencana secepatnya! Kuharap kamu tidak bertindak ceroboh lagi!" Tukasku.
__ADS_1
"Oke bro." Balas mas Didik yang kemudian bangkit kembali.
Saat kami sedang berpikir bagaimana melawan musuh yang tak bisa kami sentuh. Tiba-tiba...
"Aaaaarggggghh...panasssssss..." erang mas Didik membuatku terkejut.
Tubuhnya mengejang seperti sedang terbakar hebat. Terlihat dia terus menghentakkan tangan kirinya ke lantai. Seakan tak perduli jikalau pun tangannya berdarah karena ulahnya sendiri. Terlihat buku tangannya mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Dalam kebingungan aku berusaha menenangkan mas Didik semampuku.
"Hihihihi. Hanya itu saja kemampuanmu bocah! Hihihi, Racun itu akan segera menyebar dan membuatmu mati perlahan-lahan!" Suara serak itu kembali terdengar dari bi Sumi yang terlihat memegang sesuatu yang berkilauan di tangannya.
"Racun?! Apa maksudnya?!" Geramku heran.
"Potong tanganku! Cepat!" Titah mas Didik membuatku terkejut bukan kepalang. Dia terlihat begitu kesakitan dan tangannya mulai melepuh dari bekas sayatan yang tak seberapa itu.
"Aku terkena tusuk konde miliknya. Ternyata itu sangat beracun. Tunggu apalagi! Cepat potong atau aku akan mati bodoh!" Titah mas Didik kembali. Kali ini dia mengikat lengannya dengan sapu tangan sekuat mungkin. Dengan berat hati aku mengambil pedangnya dan..
Crassshhhhhh...
"Selesaikan dia bro. Maaf aku dari sini tidak bisa membantu banyak." Ucap mas Didik sedikit berbisik.
"Akan ku buat kau membayar semua ini brengs*k!!" Geramku sudah berada di puncak ubun-ubun.
Di antara kesedihan dan keputusasaan yang kurasakan saat ini. Tiba-tiba saja aku merasa seolah semua pusaka yang ku pegang mulai bersinar terang. Tubuhku perlahan menjadi hangat karena sinar yang mulai menyelimuti diriku.
"Yakin lah bahwa kebajikan akan selalu menang melawan kebathilan!"
Suara misterius muncul begitu saja di telingaku. Berbisik pelan namun penuh penekanan. Di tengah kebingungan yang semakin melanda diri. Suara itu seakan kembali muncul tepat di telingaku.
__ADS_1
"Tembak dia dengan sinar dari pedangmu!"
Apa maksudnya? Menembak dia dengan sinar yang menyelimuti tubuh dan pedangku? Apa mungkin itu bisa berhasil? Bagaimana caranya? Batinku yang masih seperti orang linglung.
"Lakukan sekarang!"
Shyuuuuuuttttttt... duarrrrrrrr
Cahaya itu melesat bagaikan peluru menuju ke arah target di depanku. Dan meledak begitu menyentuhnya. Nampak bi Sumi tak siap dengan serangan yang barusan aku lancarkan. Akupun juga sama terkejutnya hingga sedikit terpental ke belakang.
"Kurang ajar!" Pekik bi Sumi dengan nada marah.
Shyuuuuuuttttttt... duarrrrrrrr..
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1