Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Masa Lalu Budi Rahardjo


__ADS_3

"Jangan menangis tentang masa lalumu. Hidup itu penuh penderitaan. Biarkan rasa sakit itu menajamkanmu, tetapi jangan berpegang pada itu. Jangan pahit." - Trevor Noah


.


.


.


.


Ungkapan yang pernah di ucapkan oleh Trevor Noah itu mungkin adalah gambaran untuk kegundahan seorang Budi Rahardjo saat ini. Keputusannya untuk membawa serta anak sulungnya harus berakhir di ketidakpastian di malam yang sudah beranjak ini. Harapan yang terus di jaga kobarannya kini mulai terkikis putus asa. Dengan telaten ia masih saja menunggui putranya di depan rumah teman anak kesayangannya itu.


Budi Rahardjo sendiri bukan lah orang sembarangan. Dia merupakan mantan anggota terbaik badan intelejen milik negaranya. Karena mempunyai sifat dan kepribadian kuat dia mempunyai karir cemerlang dalam usia yang terbilang masih muda. Bahkan ia pernah bertugas di luar negeri dan di tempatkan di daerah konflik, yang setiap hari desingan peluru dan ledakan mortar adalah sarapan baginya setiap bangun pagi. Di kondisi itu dia bisa saja mati kapanpun setiap saat.


Namun sayang, ia lebih memilih mengambil pensiun dini setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Bersama wanita yang sudah menunggunya pulang dari belantara Papua waktu itu. Tugas terakhirnya mengintai para pemberontak bersenjata. Hidup menyatu bersama suku pedalaman hutan selama hampir 2 tahun membuat fisik dan instingnya sangat tajam. Walau kini badannya sudah tak se indah waktu aktif bertugas dulu namun instingnya tak pernah menumpul walau usianya sudah tak lagi muda. Dulu ia tak segan untuk menghabisi siapapun lawan di hadapannya saat sudah terpojok, dengan tangan kosong maupun dengan senjata.


Walaupun Keputusannya untuk mengambil pensiun dini di usia produktifnya bukan perkara mudah. Penolakan dari ibu tari, yang merupakan ibu kandungnya yang kini telah menjanda membuat ketakutan di tinggal anak yang tinggal satu-satunya karena kedua saudara kandungnya telah meninggal dunia dengan sebab tak menentu. Tak ada yang tahu dengan pekerjaan seorang Budi Rahardjo. Bahkan ibunya sendiri hanya tau anaknya kerja di kantor perusahaan dan sering di tempatkan di luar kota dengan waktu yang lama. Sungguh begitu cerdasnya Budi merahasiakan tentang jatidirinya kepada siapapun. Tapi bukankah itu memang syarat mutlak seorang agen untuk menjadi bayangan yang tak terlihat oleh siapapun??


Dengan kasih sayang tulus seorang anak, akhirnya sebuah restu untuk menikah diberikan untuknya. Ibu yang sudah tua renta itu memohon dengan perasaan keibuannya. Jika sudah menikah ia ingin anak dan menantunya itu untuk tinggal menemaniya. Namun, Budi Rahardjo menolak dengan halus. Ia ingin membangun keluarga dan kerajaan bisnisnya sendiri. Ia ingin mandiri dengan jauh dari desa kelahirannya. Keputusan yang membuat awal dari malapetaka di rumah itu kembali muncul. Bahkan jauh lebih rumit!


Jauh sebelum kepulangan Budi dari tugasnya. Ibunya yang sudah tua dan kesepian ternyata sudah menjadikan para Murid kesayangannya menjadi anak angkatnya. Tanpa di ketahui anak kandungnya sendiri. Terhitung ada tiga orang murid yang di sayangi nenek waktu itu. Heri, Utomo, dan satu orang wanita bernama Tiwi. Tiga bocah polos yang masih jauh dari kata licik saat itu!!!.


Saat Budi Rahardjo sudah pulang dari tugas di belantara. Dia langsung Mendengar ibunya mengangkat Heri menjadi anak angkatnya sekaligus sebagai kakaknya membuat Budi senang, mereka seumuran waktu itu hanya selisih satu tahun saja. Bahkan mereka sangat dekat, bisa di katakan mereka bersahabat. Namun ia heran kenapa ibunya mengangkat kedua bocah yang lain menjadi adik-adiknya? Sejujurnya ia tak menyukai perilaku mereka yang di nilai Budi mempunyai dua muka.


Hingga ia mengusulkan sang ibu untuk sekalian merawat Ningsih. Anak yang dia tolong saat ia mengalami kecelakaan mobil bersama ibu dan ayahnya. Kecelakaan yang menurut Budi dia juga andil dalam insiden tersebut. Mobil yang di kendarai Budi seorang diri tak sengaja di serempet mobil keluarga Ningsih yang sedang dalam kecepatan tinggi, karena sedikit mengalami senggolan di kecepatan yang sangat tinggi mobil itu berputar dan terguling begitu keras hingga asap mulai mengepul dari bagian mesin.

__ADS_1


Takut akan ledakan tak ada yang berani menolong apalagi mendekat, semua menunggu pihak berwenang datang dan mengambil alih. Sebuah insiden yang membuat seluruh penumpangnya tewas seketika akibat benturan di keras kepala kecuali seorang anak yang menangis berada di jok belakang dalam sebuah mobil yang masih terbalik. Ningsih.


Walaupun Budi di bebaskan karena tidak terbukti bersalah di karenakan ayah dari Ningsih lah yang membuat kesalahan karena mengemudi dalam pengaruh alkohol. Namun, ada perasaan mengganjal saat melihat tatapan anak itu. Terlihat tak ada gurat kesedihan dan tak mempunyai rasa takut pada dirinya saat bertatapan mata dengannya. Anak yang spesial mungkin itu lah yang di pikirannya saat itu. Kemudian anak yang masih berusia sekitar dua tahun itu di bawanya untuk di adopsi. Dan di tempatkan di rumah ibunya. Ibunya terlihat sangat bahagia waktu itu dengan kehadiran Ningsih.


"Akan aku jodohkan engkau dengan anakku kelak. Aku suka sifat tanpa rasa takutmu nduk, pertahanan itu,". Batin Budi mengelus rambut dari Ningsih kecil.


Seiring waktu berjalan Ningsih semakin besar saja, dan Budi sudah melangsungkan pernikahan megahnya dengan sang permaisuri. Fitriyani Kusuma putri, ibu dari kedua anaknya kelak. Rasa sayang yang di berikan ibu dan Budi membuat kedua adik tirinya Budi geram dan iri pada Ningsih. Membuat mereka kerap kali menghina dan menceritakan bagaimana kelamnya nasib Ningsih kecil dulu. Namun, namanya juga Ningsih dia hanya cuek saja dengan kakak-kakaknya membuat mereka menjadi berang. Dan hanya Heri lah yang paling dewasa memarahi dan menasehati kedua adiknya agar tidak bandel dan menganggu Ningsih terus. Patut jika ibu menjadikannya kakak. Benar-benar bisa mengayomi adik-adiknya.


*****


"Jadi udah dari dulu Tante Ningsih sifatnya ketus??,". Tanya didik yang kali ini menemani pak Budi yang sedari tadi pagi menjelang duduk di luar sampai hari beranjak siang ini. Terlihat Ningsih dan ayu juga menemani. Berharap bisa sedikit meredakan aura dingin dari seorang Budi Rahardjo.


"Ya seperti itulah Ningsihku,". Ucap pak Budi sedikit tersenyum sekilas kemudian berubah menjadi wajah serius lagi.


"Pantes susah dapet jodoh dan jadi perawan tua, mana ada yang mau sama tante-tante keras kepala,". Gumam didik lirih.


Sementara itu Ningsih tak memperdulikan kata-kata pedas dari didik barusan. Tak seperti biasanya ia langsung mencak-mencak kali ini dia hanya diam dengan semburat senyum menghiasi wajah bulatnya. Orang-orang di sekitarnya pun menjadi heran dengan hal yang aneh bin ajaib ini.


"Kalo Tante-tante ini bisa bikin kamu klepek-klepek gimana?? Tapi maaf ya kamu buka seleraku sih,". Jawab Ningsih yang akhirnya buka suara.


Kringgggg kringgggg


Suara ponsel dengan suara lantang berbunyi, itu ponsel milik pak Budi. Dengan segera ia mengangkat telpon yang seakan sangat penting itu. Wajahnya berubah menjadi dingin kembali.


"Apa?? Kamu serius?? Yakin sudah kamu cari betul betul...,". Pekik pak Budi di telepon. Aura dingin kali ini sudah berubah kembali menjadi menyeramkan. Membuat suasana kembali menegang. Tanpa kami mendengarkan kami sudah tahu apa yang membuat wajah pak Budi memerah. Pasti karena pencarian oleh orang-orang kepercayaannya di kebun belum membuahkan hasil.

__ADS_1


"Aku yakin kamu pasti bisa bertahan...." Gumam ayu lirih kali ini ia tak menangis, dia hanya berharap pada keajaiban yang maha kuasa.


"Bertahanlah Mahesaku....,".


Bersambung.....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


For Your Info : Trevor Noah adalah pelawak, penulis, produser, komentator politik, aktor dan pembawa acara televisi asal Afrika Selatan. Ia dikenal sebagai pembawa acara The Daily Show, sebuah program berita satir yang tayang di saluran TV Comedy Central. Mirip seperti Najwa Shihab kalau di Indonesia. ☺️


__ADS_2