
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Gumamku di depan sebuah tubuh yang kini masih terbujur lemah di atas matras rumah sakit.
Sedari semalam pikiran ku yang sudah kalut kali ini bertambah tatkala melihat kondisi Briptu Eko yang memprihatinkan. Entah bagaimana caranya hati dan pikiranku merasa ada yang tidak beres disini.
Sudah dua orang terkapar disini, dengan kondisi yang tak alami. Luka yang di alami keduanpun terbilang cukup parah. membuatku enggan untuk pulang sebelum mendengar kalau memang ini sebuah kebetulan saja dan semuanya masih dalam kondisi baik-baik saja.
"Bangunlah kawanku, katakan kalau ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka" bisikku lirih di samping ranjang mas Eko.
Sementara matahari sudah perlahan naik di atas ubun-ubun kepala dengan gagahnya. Aku masih berkutat dalam lamunanku terbawa perasaan ganjil yang terus menerus menghantui diriku.
"Sialan! Kenapa masalah ini sepertinya semakin rumit saja! Apa sebenarnya yang terjadi padamu mas Eko. Kumohon bangun dan bicaralah tuan polisi! Katakan sebuah kebenaran padaku" umpatku di tepi ranjang mas Eko.
"Sepertinya aku harus mencari jawaban ini sendiri!" Gumamku sembari berlalu pergi keluar ruangan. meninggalkan tubuh mas Eko yang masih terbujur tak berdaya.
****
Di tempat lain Didik dan pak Adi sedang berkutat dalam sebuah ruangan sempit yang lebih mirip penjara bagi mereka. Dalam kondisi keduanya terikat kaki dan tangannya dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
Dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, Didik berusaha bangun mengumpulkan segala kesadarannya. Ia telah berada dalam satu ruangan remang-remang dan di kelilingi beberapa orang dengan jubah hitam dan topeng butokolo menempel menutupi seluruh wajah mereka.
Sekilas terlintas ingatan pertarungan singkat dia dan mas Adi menjelang pagi tadi. Pertarungan adu ketangkasan bertarung dengan senjata yang kelihatan kurang imbang nyatanya membuat mereka harus terkapar karena keganasan musuh yang hanya satu orang, Andre!
"Sssttt ssstttt mas bangun mas" bisik Didik lirih di sertai menyenggol bahu pria yang saat ini tengah di ikat bersamanya.
Rasa nyeri di bahunya seketika kembali terasa. Karena pecahan proyektil yang tak sengaja menembus lengan kirinya. Terlihat samar darah yang mengalir tadi kali ini mulai mengering.
"Emmmmmhhh" Hanya terdengar gumam rintihan dari mulut pria di belakangnya. Mungkin karena kondisi pria yang saat ini di belakangnya bisa di bilang lebih parah dari yang dia derita.
"Apa kita sudah mati dik?" Tanya mas Adi yang mulai tersadar. Nampak darah mengalir dari dahinya menutupi sebagian wajah tegasnya. Suaranya terdengar lirih seakan pasrah menerima kenyataan.
"Kalian sudah bangun rupanya" terdengar suara berat parau seorang wanita tua memasuki gerombolan orang yang sedang duduk bersila mengitari Didik dan mas Adi.
Mendengar suara itu telinga Didik seakan bergetar. Suara yang menerornya sedari kecil. Sosok yang begitu picik bahkan rela bersekutu dengan iblis demi menggapai tujuannya. Meski dia sudah memperingatkannya dulu.
__ADS_1
"Si-siapa dia dik?" Tanya mas Adi dengan bibir bergetar menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Ampun Nyai, apa sebaiknya tidak kita segera b*nuh saja mereka! Aku sudah tidak sabar. Hahaha" suara dari salah satu pria berjubah hitam di sebelah nenek itu bersuara.
"Dik, gimana ini" lirih mas Adi yang nampak sudah panik, keringat mengucur deras dari kedua pelipisnya. Tak seperti biasanya mas Adi terlihat sangat ketakutan saat ini.
"Dan siapa dia sebenarnya dik? Kau berhutang banyak cerita padaku. Jangan buat aku mati dengan rasa penasaran. bodoh!" Bisik mas Adi dengan lirih dan sendu.
"Apa dia ketua kelompok bedebah ini?!" Bentak mas Adi kali ini suaranya meninggi.
"Memang benar mas, Dia.." jawab Didik ragu.
"Hahaha. Sepertinya kau memang polisi yang ceroboh! Kau bahkan tidak tahu siapa yang menjadi rekanmu saat ini! Kau takkan bisa mengusik kami sedikitpun!" Hardik pria tua berjubah hitam itu kali ini dengan nada penuh ancaman.
"Diamlah kalian!" Gertak nenek tua yang kali ini semakin mendekati Didik yang sedang terduduk pasrah.
"Kenapa kau tidak memperkenalkan simbokmu kepada temanmu ini?" Ucap nenek tua itu lirih mengalun masuk kedalam telinga keduanya. Membuat mas Adi terbelalak sempurna dengan menahan segala amarah dan ketidakpercayaannya.
"Benar mas, dia ibuku. Apa kau terkejut?" Ketus Didik menyeringai dengan senyum mengerikan.
"aku harus berhenti melawan sesuatu yang lebih kuat dariku. aku lelah terus bermain kejar-kejaran." Imbuhnya.
Seseorang kemudian membuka tali yang mengikat Didik saat ini. Sementara mas Adi hanya bisa membisu tak percaya dengan semua yang di alaminya saat ini sekilas dia merasa seperti mimpi.
"Bawa dia ke bibir sungai belakang! Kita segera sudahi permainan ini" Titah Didik yang kemudian di sertai anggukan dari beberapa anggota yang sedang duduk bersila.
"Beraninya kau menjebakku Bangs*t!!" Tak henti-hentinya mas Adi menghardik pria yang seketika berubah dingin di hadapannya itu. Beberapa orang kemudian menggotongnya sementaranya yang lain membungkam mulutnya dengan lakban hitam. Didik tak menggubrisnya sama sekali.
"Maafkan aku ibu telah mengkhianatimu selama ini. Sekarang aku tahu dan akan bersedia menerima takdirku" ucap Didik bersimpuh di hadapan wanita tua itu.
"Baiklah le, simbok maafkan kamu. Sekarang segera akhiri kutukan ini dan dapatkan mantu ke Pitu (tujuh) untuk ibu. Ayo bersama kita akhiri kutukan budhemu"
"Gara-gara budhemu bersekutu dengan Buto Sengkolo, kita yang harus terkena imbasnya." Imbuh nenek itu menatap langit-langit. Matanya terlihat sendu menahan kesedihan.
__ADS_1
"Ampun simbok, apa tidak ada cara lain menghentikan iblis itu mbok?" Tanya Didik ragu.
"Jangan bertanya seperti itu lagi le! Apa kamu masih mau memperdebatkan lagi perintah simbok seperti delapan tahun lalu?!" Ucap nenek itu dengan suara tinggi menggema. Tak ada yang berani melihat kedua matanya.
"Maaf mbok" Didik dengan reflek bersimpuh kembali.
"Sekarang pergilah, selesaikan laki-laki itu segera!" Perintah nenek itu sembari pergi keluar ruangan itu.
"Dan kau Andre, temani anakku! Pastikan dia tidak berkhianat lagi. Bukankah kalian dulu bersahabat? Hahahaha" tukas nenek itu pergi dengan diiringi beberapa anggota yang menyembah sujud padanya sepanjang kakinya melangkah keluar ruangan.
"Baik Nyai Sumi" ucap Andre bersamaan dengan Didik.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
NB:
Maaf untuk semua pembaca Misteri Rumah Nenek, belakang ini author jadi kurang update ya. Ada banyak tugas yang udah hampir deadline jadi nggak bisa tiap hari update seperti biasanya deh. Semoga segera selesai tugasnya dan bisa rajin update lagi deh. Apalagi setiap episode di novel ini harus melalui riset dulu dari beberapa bab sebelumnya. Jadi satu episode saja cukup memakan waktu yang nggak sedikit.
Author sekali lagi mohon maaf ya semuanya. Dan karena masih suasana IdulFitri author beserta tim Nocturnal mengucapkan selamat hari raya idul Fitri minal aidzin wal Faidzin buat semua pembaca setia yang masih nungguin akhir dari Mahesa dan kawan-kawan.
Jangan lupa tinggalkan vote, bunga, dan komen juga ya, biar author tambah semangat menyajikan cerita yang nggak kacangan. let's go to the next episode!
__ADS_1