Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Kepingan Puzzle yang Hilang


__ADS_3

"Ada orang terluka Bu bidan! Tolong. Sepertinya dia sedang terluka parah." Ucap salah seorang perempuan warga setempat.


"Dimana pak, Bu,?" Tanya Wulan yang baru keluar dari ruang tamu.


"Ada di kebun pinggir sungai Bu!"


"Pinggir sungai?!" Pekik Wulan.


"Dimana dia sekarang pak, Bu, ?" Tanya Wulan.


"Dia di rumah saya Bu," ucap salah satu bapak-bapak yang ada disana.


Mendengar permintaan para warga yang sudah mengerumuni rumahnya, Wulan dengan segera langsung menuju ke rumah salah satu warga yang melapor. Dia memutuskan berjalan kaki karena lokasi yang di rasa tak jauh dari rumahnya.


Sembari berjalan Wulan juga berbincang dengan beberapa warga yang pertama kali menemukan pria yang katanya pingsan itu. Ada rasa ingin tahu dalam dadanya. Berharap apa yang ia bayangkan tentang sosok yang ia rindukan tak terjadi. Terlihat beberapa warga yang mulai beranjak dari rumahnya untuk mengais rezeki berpapasan dengan Wulan dan warga yang berjalan terburu-buru.


Shyuuuuuuttttttt..


Tiba-tiba angin berembus dingin meniup tubuhnya di pagi yang sejuk ini. Di ujung matanya ia menangkap sosok nenek-nenek yang sedetik lalu berpandangan dengannya. Ada rasa tak asing dalam pikirannya. Namun, mengingat ada yang lebih butuh dirinya saat ini ia berjalan lebih cepat lagi untuk segera sampai di rumah tujuannya.


Kini Wulan sudah tiba di rumah seorang warga yang di tujunya. Rumah sederhana khas pedesaan dengan karung gabah (padi) ukuran besar yang masih bersandar di pekarangan rumah sederhana itu. Rumah yang terlihat asri itu kini sedang di kerumuni beberapa orang yang ingin menolong dan juga hanya ingin tau lebih jauh saja.


"Mari Bu, silahkan masuk" ucap bapak-bapak yang membawa Wulan kemari.


"Assalamualaikum" salam Wulan saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, Monggo Bu. Itu mas nya Bu. Masih belum sadar" ucap wanita paruh baya tersenyum dengan hanya memakai kemben untuk menutupi sebagian tubuhnya. Sepertinya dia istri bapak-bapak tadi.


Wulan sedikit merasa lega melihat pria di hadapannya bukan yang selama ini ia rindukan. Meskipun ada gundah di hatinya. Melihat pria itu terkapar di tepi sungai, pikirannya kembali merangkai cerita dari ayah sang pujaan hati. Dia mencoba cukup keras untuk mengingat sesuatu kala melihat wajah pria yang tak asing baginya itu.


"Saya cek dulu ya. Mohon maaf, Yang tidak berkepentingan saya mohon tolong minggir dulu ya." Pinta Wulan sopan pada kerumunan warga yang melongok ingin melihat pria itu dari dekat. Ia pun terus memperhatikan lekuk wajah pria kurus pucat di hadapannya.


"Pak polisi?!" Gumamnya terkejut.

__ADS_1


"Bu bidan kenal sama laki-laki ini??" Tanya wanita muda yang tadi ikut mengerubungi tubuh lemah yang sedang terbaring di sofa panjang itu.


"Iya. Dia temen saya Bu namanya pak Adi. Nanti saya kabari polindes dulu ya. Biar bisa di rawat dulu disana." Ucap Wulan setelah mengecek semua denyut nadi dan tekanan jantung pada polisi bernama Adi.


"Semua normal, hanya mungkin dia kecapekan sama dehidrasi yang lumayan parah." diagnosa Wulan yang baru saja melakukan tes.


"Sekarang saya pulang dulu ya Bu. Nanti ada petugas yang lagi piket bentar lagi kesini. Untuk sementara ini tolong biarkan dulu jangan di kerubungi kaya tadi. Biar dia dapat banyak oksigen supaya cepat sadar." Ucapnya sembari melipat kembali stetoskopnya.


"To..Lo..Ng." suara parau dari lelaki yang sedang terbaring mengejutkan semua yang berada di ruang tamu.


"Me..reka Se..dang dalam bbb..ba..haya!" Ucap pak Adi dengan suara yang terbata-bata. Namun matanya masih saja terkatup rapat.


"Ma..hesa dalam bah..Aya." imbuh pak Adi lagi berusaha memberi informasi walau nafasnya tersengal-sengal.


Wulan sontak terkejut. Matanya membulat seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Entah dia harus percaya atau tidak. Bagaimanapun pria di depannya seperti mengigau dalam ketidaksadaran. Tapi dia tau betul kalau polisi ini adalah teman dari Mahesa. Lututnya terasa tak mempunyai tenaga lagi. Pikirannya semakin mengacau melayang kemana-mana.


Dengan buru-buru ia pamit dan berpesan untuk membuatkan teh hangat untuk pak Adi. Meninggalkan tempat itu dengan seribu tanya di kepalanya dan beberapa warga yang memandangnya dengan heran. Hanya seorang saja yang bisa menolongnya saat ini dan ia harus membawanya segera menemui pak Adi yang sudah siuman. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk segera menyelamatkan Mahesa yang sedang bermain di ujung maut.


"pak Budi!"


(*_ Mahesa_*)


Pagi telah memancarkan sinar hangatnya. Kami bertiga berjalan dengan langkah tertatih, sesekali canda keluar dari mulut kami bertiga. Sekedar menyeka lelah yang mengakar di kaki dan tubuh kami. Walaupun pun belum bisa membunuh dedengkotnya, paling tidak kami sudah memberikan luka yang cukup berat padanya.


Setelah hampir setengah jam menyusuri sungai, terlihat rumah penduduk yang jarang-jarang mulai nampak di ujung netra. Pertanda perjalanan kami sementara ini harus di akhiri dahulu. Karena tak mungkin terus memaksakan fisik yang sudah kehilangan lebih dari separuh tenaga. Kami harus mengisi daya kami hingga full lagi.


"Kakek cuma bisa antar sampai sini ya Le," ucap kakek Darto mengelus punggung kami berdua. Aku dan mas Didik.


"Lho kakek kenapa nggak ikut aja. Kita bisa istirahat disini dulu. Kakek juga bisa mandi-mandi dulu juga nggakpapa kek" ucapku tak rela melihat sesosok orang yang menolongku pergi tanpa aku bisa membalas apapun darinya.


"Nggak kakek langsung pergi saja. Kita bertemu lagi hari Jum'at pahing. Tepat di hari itu semua kekuatan gaib akan melemah. Dan itu waktu yang tepat buat kita menyerang mereka. Sebelum saat itu temui kakek segera. Didik tahu dimana menemukan kakek lagi" ucap kakek Darto tersenyum.


"Kenapa harus Jum'at pahing Mbah? Bukankah itu waktu dimana mereka melakukan ritualnya?" Tanya mas Didik penuh penasaran.

__ADS_1


"Simbah juga nggak tau le. Yang pasti di waktu itulah para dedemit menjadi lemah. Dan kita bisa mengurusnya cepat." Tukas kakek Darto singkat.


"Kapan hari Jum'at pahing itu kek?" Tanyaku yang masih bingung dengan penanggalan Jawa.


"Tiga hari lagi!" Jawab kakek Darto singkat kemudian kembali menghilang kembali dalam rimbunnya ilalang. Cepat sekali sama seperti saat dia datang.


"Kita sudah sampai di kampung bro. Kamu mau kembali ke rumah dulu atau gimana?" Tanya mas Didik setelah kami lama terdiam memandang punggung kakek Darto yang sudah semakin hilang dari pandangan.


"Mungkin aku akan kembali dulu ke rumah. Aku perlu istirahat. Besok tiga hari lagi datanglah kemari. Kita masih belum selesai." Ucapku yang sudah sangat kelelahan.


"Oh iya. Katakan padaku mas dik. Siapa sebenarnya kakek Darto itu?! Dan kenapa dia sudi membantu kita?!." Tanyaku yang sudah lama ingin tahu tentang hal itu.


"Hehehe, Dia adalah potongan puzzle dalam teka-teki yang sedang kita mainkan bro." Ucap mas Didik dengan tatapan mata dan seringai tajamnya.


"Kita bertemu tiga hari lagi. Istirahatlah. Kau membutuhkannya bro." Ucap mas Didik kembali lalu pergi berjalan meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.


"Sudah kuduga!!"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2