Musim Semi Di Paris

Musim Semi Di Paris
Ternyata bos ku adalah Dave


__ADS_3

Kinan sudah duduk di ruang tamu saat ini, tepat di hadapan Dave, si pemilik rumah. Pikiranya tengah campur aduk kali ini.


“Matilah aku, kenapa harus dia” ucap Kinan tak jelas..


Dave mencoba menahan senyum, Dia memerhatikan ekspresi Kinan saat ini.


“Dia terlihat begitu lucu dan menggemaskan saat salah tingkah seperti itu” ucapnya dalam hati.


“Ok, tidakkah kau merasa sedang berhutang penjelasan padaku?” Dave membuka percakapan.


“Aku...aku..” Kinan ragu


“Iya?” Dave mengangkat alisnya.


“Begini, aku....” Ada perasaan malu sekaligus bingung bagaimana menjelaskanya. Kinan tak tau harus mulai dari mana. Dia menyadari ada banyak hal yang harus dia jelaskan, termasuk pertemuanya di Cafe kala itu.


“Bisakah kau lebih keras, aku sama sekali tak dengar” Dave sengaja berpura pura sambil menahan senyumnya.


Bugghh..!! Sebuah bantal yang sedari tadi di pegang Kinan sudah terlempar ke muka Dave.


Untung saja ini Kinan, bayangkan jika pelakunya adalah wanita lain, sudah di pastikan saat ini juga pasti sudah di seret oleh scurity ke jalanan atas perintah Dave yang dingin tak berperasaan.


“Apa yang kau lakukan em..” ucap Dave memegang bantal itu.


“Kau laki laki sialan..” Kali ini Kinan tak berteriak


“Oh ya? Di mananya?”


“Apa maksudmu?? Apa kau sudah lupa kau baru saja me...me...” Kinan tak melanjutkan kalimatnya


Lagi lagi Dave mengangkat alisnya, menunggu Kinan menyelesaikan kalimatnya..


Kinan tak dapat menyembunyikan rasa malunya, dia mengingat betul bagaimana mereka terjatuh bersama ke dalam bak mandi dengan tangan Dave yang tepat menyentuh gundukan Kenyal itu.


Wajahnya seketika merona “ahh sudahlah...” Kinan segera beranjak dari tempat duduknya. Kejadian itu benar benar membuatnya malu dan marah bercampur aduk. Seorang laki laki yang bahkan tak ada hubungan apapun denganya tlah melihat segalanya disana.. jatungnya berdebar kencang. Dia berjalan cepet menuju kamarnya. Dia tak harus berada disana dan membuat dirinya semakin malu lagi.

__ADS_1


Dave menyaksikan punggung Kinan yang berjalan semakin menjauhinya,dia tersenyum..


“Kinan tunggu” Dave berlari mengejar Kinan, namun sayang Kinan sudah menutup pintu kamarnya.


“Kinan, bisakah kau buka pintunya.. aku mau bicara” tak ada sahutan dari dalam.


“Kinan, ayolah ku mohon buka pintunya” Dave merengek


Masih tak ada sahutan


“Kinan kalau kau tak membukanya jangan salahkan aku mendobraknya” Dave masih saja menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar.


Tanpa pikir lagi Dave segera bersiap menerobos masuk.


Dave sedang mengambil ancang-ancang sekarang, dan 1..2..3... bruughh...!!


***


Di dalam kamar..


“Dave sialan.. apa yang harus aku lakukan sekarang” Kinan mondar mandir di dalam kamar. Dia mengingat setiap pertemuanya dengan Dave..


“Kinan kalau kau tak membukanya jangan salahkan aku mendobraknya!” entah ini suara Dave yang ke berapa. Dia mengancam kali ini.


“Dia gila, tapi sebelum dia kehilangan kesabaran dan menjadi benar benar gila, mungkin sebaiknya aku membuka pintu untuknya”


***


Bruughh!!


Kejutan!! sekali lagi, Dave jatuh tepat di atas tubuh Kinan..


Mereka berdua tengah berada di lantai yang sama.. saling terpaku.. tak ada sepatah katapun terucap dari bibir mereka, suasana begitu hening. Sejenak bahkan Kinan lupa akan kemarahanya..


Begitu pula Dave, entah sejak kapan.. perlahan namun pasti bahwa gadis ini tlah mengambil peran penting di dalam hatinya..

__ADS_1


Mereka saling berpandangan, begitu dalam, tanpa berkata, tanpa mengedipkan matanya.. dan tanpa mereka sadari, mereka tlah larut dalam suasana.


Kinan merasakan sebuah sentuhan lembut pada bibirnya.. lembut dan begitu hangat. Dave mencium Kinan tanpa perlawanan. Dia melakukanya dengan begitu manis dan hangat. Tak sadar Kinan mulai mengatupkan kedua bola matanya, merasakan kelembutan itu..


Melihat ekspresi Kinan, Dave semakin tergoda, Dia lantas memperdalam ciumanya. Dave semakin berani.. menjelajahi rongga mulut Kinan dengan lidahnya. Semakin dalam, dan semakin dalam hingga nafas keduanya pun mulai memburu..


“Hentikan Dave” lirih Kinan. Dia baru saja menyadari bahwa dirinya tlah berciuman cukup lama dengan Dave. Dia mendorong tubuh Dave dan merubah posisinya dengan duduk di tempat semula. Pipinya bersemu merah. Jantungnya berdebar hebat. Ada rasa luar biasa yang bergejolak di dalam hatinya.


Dave duduk di sebelahnya. Dia merasakan hal yang sama dengan Kinan. Jantungnya juga berpacu, Dave hampir saja tak dapat menguasai dirinya.


Mereka terdiam beberapa saat sebelum Dave berinisaitif membuka percakapan.


“Kau sudah makan?” Ada begitu banyak kalimat kenapa justru kalimat ini yang keluar.


Dave sendiri sedang di landa kebingungan.. dia sama sekali tidak merasakan canggung saat berciuman dengan Kinan, sementara itu tidak pernah berlaku dengan gadis manapun sebelumnya.


“Aku... aku.. belum masak tuan” ucap Kinan dengan nada canggung.


“Apa?? Tuan?? Kau panggil aku tuan?? Hahahahaha.......” seketika Dave tertawa terbahak bahak..


“Jadi kau adalah asisten rumah tangga yang di kirim mama kemari?” Dave pura pura bertanya meskipun dia sudah tau jawabanya.


Kinan mengangguk.


“Kinan, kau benar benar menggemaskan” Dave mengacak acak rambut kinan.


Sementara Kinan hanya cemberut melihat dirinya di tertawakan.


“Sini bangunlah” Dave menolong Kinan berdiri “gantilah bajumu, kita makan siang di luar, Ok” ajak nya


Kali ini Kinan mengangguk tanpa perlawanan. Tak dapat di pungkiri, dia juga merasa lapar sekarang “baik tuan”


“Dan satu lagi, aku lebih familiar kau katai dari pada mendenger kau memanggilku tuan”


“Apa?” Kinan bingung

__ADS_1


“Haha.. Tak apa, panggil Dave saja seperti biasa, Ok”


Kinan berjalan menuju kamarnya, dia mengganti bajunya seperti perintah majikanya. Tak butuh waktu lama Kinan sudah siap dan mereka berangkat ke restourant tak jauh dari kediaman Dave.


__ADS_2