
Jam 9.15 malam Dave sudah berada di dalam apartemenya. Tak seperti harapanya, ruangan itu tampak gelap. Tak terlihat tanda-tanda Kinan ada di sana. Dave memeriksa kamar Kinan yang tak terkunci, namun Kinan tak terlihat juga disana.
“Kinan? Kamu dimana?” Dave mencari-cari Kinan di seluruh ruangan, namun tak juga menemukan Kinan disana. Dave menyandarkan punggungya pada sofa di ruang tengah. Melihat ponselnya, mungkin Kinan meninggalkan pesan disana.
“Kinan, kamu kemana sih. Kalau mau keluar-keluar setidaknya beri tahu aku” Dave merasa sedikit cemas. Dia khawatir Kinan pergi keluar seorang diri, Bagaimanapun juga, Paris adalah kota asing bagi Kinan.
Dave mengamati sambungan GPRSnya. Sebuah lokasi yang membuatnya mengernyitkan dahi begitu melihat keterangan di sana.
“Hotel X??”
“Sedang apa dia disana?” Seketika Dave menjadi gusar. Tak banyak berfikir lagi Dave meraih kunci mobil di atas meja dan segera mengendarai mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Selama perjalanan hatinya menjadi tak tenang, memikirkan tentang kemungkinan apa yang sedang terjadi. Apa Kinan dalam bahaya?? Dave semakin khawatir. Dia tak mempedulikan berapa kali dia harus menerobos lampu merah, tak meladeni teriakan orang-orang yang menyumpahinya karena berkendara ugal ugalan. Hatinya menjadi gundah, Kinan lebih penting dari apapun saat ini.
Setibanya di lobi hotel, dia segera menanyakan kepada receptionis seseorang yang chek in atas nama Kinan Anastasya, namun sayang karena peraturan hotel tak dapat mempublikasikan para tamunya kepada orang lain. Dave semakin marah dibuatnya. Dia sudah mengulangi kata-katanya berkali-kali namun pihak hotel masih saja mempersulitnya.
“BRAK!!”
“Panggil managermu kesini sekarang juga!” Bentak Dave kepada dua orang receptionis wanita disana.
“Maaf Tuan kami tidak bisa memberitahu anda meskipun manager kami kasini”
“Aku bilang, panggil managermu sekarang juga atau kalian akan rasakan akibatnya!!” Ancam Dave semakin marah.
Kegaduhan itu membuat orang- orang tak jauh dari sana menoleh ke arahnya. Scurity yang berada di dalam lobby hotel itu segera menghampirinya. Baru saja dia akan mengamankan Dave saat manager hotel itu datang.
“Tu.. Tuan David?” Sapanya heran pada Dave karena ternyata seorang David McLaughlin lah yang membuat kegaduhan di hotel itu.
__ADS_1
“Pergilah” perintahnya pada scurity itu, di sertai anggukan.
“Tuan David, ap.. apa yang bisa saya ban..bantu untuk anda?” Manager itu tampak gemetaran melihat raut muka Dave yang sangat marah.
“Perintahkan pada karyawanmu untuk melihat di kamar berapa Nona Kinan berada”
“Ba.. baik tuan” ucapnya terbata
“Cepet laksanakan!” Perintahnya pada kedua wanita disana
“Tapi pak..”
“Cepat!!” Bentaknya
“Baik pak”
Mereka segera melakukan pengecek an seperti perintah managernya, namun sayang nama itu tak tertera di sana.
“Tidak mungkin, aku melacak sambungan GPRSnya.” Dave berpikir keras “tunggu, lihat rekaman CCTV sekarang juga!”
“Tapi tuan..”
“Laksanakan sekarang juga, atau kau berhenti saat ini juga”
“Ba.. baik pak”
“Kedua gadis disana hanya menyaksikan managernya yang kejam berubah menjadi seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Mereka saling berbisik, siapa laki-laki ini sehingga managernya sangat ketakutan terhadapnya.
__ADS_1
“Tunggu, ulangi rekaman tadi” Dave menemukan kejanggalan disana. Dia melihat seorang gadis yang terlihat tidak sadarkan diri sedang di gendong oleh seorang Pria.
“Kinan??”
Tak salah lagi, itu adalah Kinan. Dan laki-laki itu membawanya ke kamar 246. Rekaman itu menunjukan keterangan bahwa kejadian itu sekitar limabelas menit yang lalu.
Dave berlari menyusuri lorong, mencari dimana letak kamar dengan nomer itu. Semoga tak terjadi apa-apa dengan Kinan, hanya itu saja yang selalu di ucapkan Dave dalam hatinya.
***
Di lobby hotel
“Pak, siapa laki-laki itu? Kenapa dia bisa mengancam kita seperti itu?”tanya salah satu receptionis disana.
“Benar, siapa dia berani bertindak sesuka hati” ucap reseptionis yang lain.
“Jadi kalian belum tau.. Itu adalah tuan David, pemilik hotel ini” ucap managernya lemas.
“Apa?? Oh tidak... apa yang harus kita lakukan sekarang!” Mereka seketika menjadi takut akan nasibnya yang di ujung tanduk.
“Matilah kita” ucap manager itu pasrah.
****
Duuuhhh gumusshhh deh sama Rico, tega-teganya mau nodain tokoh itama kitah 😤😭
Sabaaarrrr.... biar ga ikutan marah yuk kita jalan jalan pake mobil Dave dulu 😋
__ADS_1
Jangan lupa laik dan komen ya 😛