
Ini adalah kali kedua kejadian seperti ini terulang. Dave adalah pembisnis muda yang handal, tak heran ada banyak cara bagi pesaingnya untuk menumbangkannya. Itulah sebabnya Dave rajin untuk menabung darahnya sendiri pada kantong darah saat keadaanya sangat sehat.
“Tante, bukankah Dave masih memiliki tabungan Darah di rumah?” Tanya Mike pada Bellena
Belllena hanya menunduk lemas. Dia menggeleng perlahan “tidak Mike, tidak satupun” raut wajahnya sangat sedih ketika mengucapkan kalimat itu.
“Dave marah saat itu, aku tak tau pasti apa yang membuatnya marah. Dia menghancurkan semua kantong- kantong darah miliknya. Sejak saat itu, Dave tidak pernah menabung darahnya kembali”
Ucapan Bellena bagai petir di hari yang terik bagi Kinan, dia tak tau apa yang harus dia perbuat. Dia bahkan tak tau kejadianya akan seperti ini. Hanya meratapi kebodohanya saja yang bisa di lakukanya saat ini.
“Jangan khawatir om, tante.. akan ku cari jalan keluar.” Ucap Mike memecah keheningan. Ini bukan hal yang mudah, tp setidaknya berusaha adalah jalan terbaik. Mike segera menghubungi semua media massa. Dia akan membuat pengumuman barang siapa dapat memberikan darah dengan golongan Rh-Null akan di berikan uang dengan nilai yang fantastis. Tentu saja dengan satu syarat, yaitu beradal dari tubuhnya sendiri, bukan orang lain. Ini bertujuan agar tidak terjadi lonjakan angka kejahatan atas penculikan orang-orang kecil untuk di ambil darahnya.
****
Hampir dua jam dari waktu yang di tentukan, dan tak seorangpun datang dengan golongan darah seperti yang mereka minta. Sebenarnya bukan tak ada, justru sangat banyak orang-orang yang mengantri karena jumlah angka yang di tawarkan sebagai kompensasinya sangat menggiurkan, namun sayangnya dari sekian banyak orang tak satupun memiliki golongan darah yang sama Dengan Dave. Mereka hampir saja putus asa ketika tiba-tiba seorang gadis datang menawarkan darahnya, di tangannya membawa laporan hasil test darah dan pasport dengan keterangan sama.
“Hallo, nama saya Nicole” ucap Wanita itu mengulurkan tangannya
****
__ADS_1
Dave sudah di pindahkan ke kamarnya. Operasinya berjalan lancar, Dia sudah melewati masa kritisnya, namun kondisinya masih juga tak sadarkan diri. Di tubuhnya, masih menempel alat-alat medis untuk memantau tekanan jantungnya. Di hidungnya masih terpasang selang yang terhubung ke mesin ventilator.
Di sebuah Kamar VVIP, di sanalah Dave sekarang. Kinan duduk di hadapan Dave yang masih tidur tak sadarkan diri. Jemarinya menggenggam erat jemari Dave. Matanya masih mengisayaratkan penyesalan.
“Maafkan aku Dave.. bisakah kau mendengar ku em?” Ucap Kinan lirih. Matanya sembab karena tak henti-hentinya butiran kristal meleleh dari kedua kelopak matanya.
“Harusnya aku tak meninggalkanmu waktu itu” Kinan membelai pipi Dave.
“Bangunlah Dave, kenapa kau tak mau bangun? Apa kau suka tidur ? Tapi sudah dua hari ini kau tidur terus. Bukankah kau berjanji akan mengajak ku keliling paris em?” Dia berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya
“Kau bahkan belum membawaku ke jembatan gembok cinta seperti kataku waktu itu” air mata Kinan menetes lagi. Dua hari berlalu dan Dave belum ada tanda-tanda akan siuman.
Bellena bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Kinan yang masih setia menggenggam jemari Dave.
“Sayang, pulanglah.. kau juga butuh istirahat” bujuk bellena kepada Kinan.
Kinan menggeleng dengan cepat “tidak tante, Aku akan tetap disini. Aku akan menunggunya disini” pandangan matanya tak kepas dari Dave
“Sayang, kau sudah dua hari berada di sini. Kau pasti lelah. Biar om dan tante saja yang berjaga disini” ucapnya lagi
__ADS_1
“Tante, om... kalian juga capek. Setelah perjalanan kalian malah harus berada di sini. Kalian juga butuh istirahat, biar aku disini bersama Dave”
“Tapi sayang....” Willian baru saja ingin menambahi kalimat istrinya
“Tidak apa-apa om,tante. Ada kak Mike, aku bisa minta tolong kalau butuh sesuatu. Ucap Kinan memotong kalimat William.
Merekapun terdiam beberapa saat, Kinan adalah gadis yang bersikukuh dengan pendapatnya. Percuma saja memaksanya.
William mengangguk, dia juga mengerti bagaimana kondisi istrinya. Dia pasti juga lelah.
“Baiklah kalau begitu, om dan tante akan pulang dulu. Besok kami akan kesini membawakan baju ganti untukmu” ucap William
Kinan hanya mengangguk tanpa memandang wajah mereka.
“Sayang, jaga kesehatanmu ya.. tante dan om pulang dulu” tambah Bellena
***
Dalam bab ini tidak ada cerita tentang siapa itu Nicole.. tapi akan segera muncul kembali di beberapa bab setelahnya ✌🏻
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya 🥰🥰