
Dave membanting pintu mobil.. dia bergegas masuk ke dalam apartemennya dan segela mengguyur tubuhnya dengan shower. Dia masih saja mengumpat. Tak henti hentinya memaki wanita itu bahkan dirinya sendiri. Dave butuh waktu kurang lebih saju jam untuk ritual mandinya..
Kinan sedang di lantai bawah menonton siaran televisi, Dave turun kemudian duduk diam di sebelah Kinan. Kinan memerhatikan Dave yang dingin tanpa ekspresi
“Apa yang terjadi? kau seperti mayat hidup saja” ucap Kinan menyelidik
Dave menggeleng, pandanganya menerawang jauh entah kemana.
Kinan benar, Dave seperti mayat hidup, tanpa berkedip, tanpa ekspresi!
Kinan menempelkan punggung tangannya ke dahi Dave dan tak menemukan tanda-tanda Dave sedang deman atau sejenisnya.
“Kau kenapa?” Kinan bertanya lagi.
Dave menggeleng untuk ledua kalinya. Kinan semakin bingung di buatnya. Tadi dia melihatnya masuk rumah dengan terburu-buru, sekarang dia keluar kamar dengan rambut setengah basah dan pucat seperti zombi.
“Apa kita perlu ke dokter Dave” Kinan mulai sedikit khawatir.
Dave diam beberapa saat sebelum mulai berbicara
“Kinan, bisakah kamu tak menyuruhku berurusan dengan wanita lagi?” Dia bertanya dengan nada memohon.
Kinan mengeritkan kedua alisnya, dia tidak mengerti apa maksud perkataan Dave.
“Kau tau sendiri kan, aku anti wanita.. yahh.. maksudku.. selain dirimu..” Dave berbicara dengan nada yang melas.
“Oh God, aku lupa.. tante pernah bilang Dave ada phobia terhadap para wanita. Jangankan menyentuhnya, memandang ataupun berbicara saja dia tidak sudi. Pantas saja dia seperti zombi..” ucap Kinan dalam hati
Kinan merasa bersalah.
“Dave maaf, aku lupa” Kinan menangkupkan kedua tangannya memohon agar Dave memaafkanya. Bagaimanapun ini adalah kesalahan Kinan, dia yang memaksa Dave mengantarkan Clara, meskipun sebenarnya di hati kecil Kinan ada rasa tak suka pada Clara sedikitpun.
__ADS_1
Dave masih tertunduk lesu. Kinan tak tau harus berbuat apa.
Kinan membaranikan diri menyentuh tangan Dave, dia sendiri sekikit ragu. Dia takut akan membangkitkan rasa phobia itu lagi. Namun Kinan tak punya pilihan, dia merasa harus menenangkan Dave. Dan ternyata perlahan Dave merasa hangat saat mendapatkan sentuhan Kinan. Dia mengangkat kepalanya yang tertunduk, dia memandang lekat wajah Kinan. Kinan pun terdiam memandangi wajah Dave yang berangsur membaik.
“Dave...”
Belum sempt Kinan melanjutkan kalimatnya, Dave sudah menarik Kinan ke dalam pelukanya.
“Dave..”
“Kumohon, biarkan saja seperti ini, biarkan aku memelukmu sebentar. Aku... aku takut”
Dave memeluk Kinan dengan erat, swaranya bergetar begitu pula tubuhnya.
Takut?? Jadi itulah sebabnya dia seperti mayat hidup sedari tadi... hanya karena dekat dengan perempuan tapi rasa takutnya seperti baru saja melihat hantu.. antara ingin tertawa dan kasian juga khawatir bercampur aduk di dalam hati Kinan. Namun dia membiarkan dirinya terus berada di pelukan Dave.
“Kinan apa kamu sedang menertawakan aku?”
“Lalu..?”
“Aku baru pertama kali melihat laki-laki penakut, kebanyakan laki-laki biasanya akan tergoda dengan wanita cantik dan sexy”
Dave melepas perlahan pelukanya.. perasaanya sudah lega.
“Aku memang sedikit lain dengan pria kebanyakan. Aku tak tau bagaimana cara mengatasinya”
“Apa kau pernah berobat?” Kinan bertanya.
Dave mengangguk “tapi tak bertahan lama, aku terlalu di sibukkan dengan pekerjaan”
“Tapi Dave, ada satu hal yang ingin ku ketahui....” Kinan menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
“Bagaimana rasa phobiamu.... tidak... berpengaruh kepadaku...” Kinan merasakan ada kejanggalan disana namun dia berusaha berhati-hati saat bertanya.
Dave memandangnya lekat lekat, dia juga menyadarinya mengapa phobia itu tidak berpengaruh sama sekali kepada perempuan di hadapanya saat ini..
“Aku.... tidak tau...” jawaban Dave terkesan menggantung.. namun benar jika Dave pun tak tau mengapa demikian.
Kinan begitu cantik, dengan bibir gloosy berwarna pink muda, pipi merah merona dan mata yang bersinar cerah.. membuatnya benar benar melupakan segalanya.
Dave terus memandanginya.. begitu juga Kinan.
Mereka saling berpandangan cukup lama hingga entah siapa yang memulai, kedua mata mereka saling mengatup dan bibir mereka saling merasakan kelembutan ciuman sosok di depanya. Mereka berciuman cukup lama hingga tanpa mereka sadari ciuman itu berubah menjadi ******* yang panas dengan nafas memburu.
Dave merebahkan Kinan di sofa dimana mereka duduk tadi, gerakan Dave semakin liar sementara Kinan hanya pasrah menikmati setiap sentuhan Dave. Tangannya mulai menelusup di bawah bra yang di kenakan Kinan, bibirnya menciumi setiap inci leher Kinan. Desahan pelan terdengar dari bibir Kinan, membuat Dave semakin tak dapat mengendalikan juniornya.
“Ting tong..!!”
Bel berbunyi. Kinan tersentak kaget, dia menyadari tlah hanyut beberapa saat dalam buaian Dave.
Sepertinya ada orang yang datang. Kinan segera bangkit merapikan diri dan bergegas membukakan pintu.
Dave duduk kembali di sofa, ada rasa kecewa sekaligus bahagia.. dia tau, Dia benar-benar menginginkan Kinan.
****
Cie cie..... ga sabaran nih...
Maaf ya adegan dewasanya kita sensor dulu, ada tamu datang 🤭
Jangan lupa like and coment yach...
Selamat membaca 😘
__ADS_1