Musim Semi Di Paris

Musim Semi Di Paris
Selamat Tinggal Nicole


__ADS_3

Masih di ruangan yang sama, kegelisahan membuncah di hati Nicole. Dia sama sekali tak tahu apa isi dari flashdisk itu. Para tamu yang hadir di buat bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Mereka saling berbisik dan menciptakan opininya masing-masing. Sementara Rudolf mulai menyalakan laptob yang di bawakan anak buahnya atas perintah dirinya.


Rudolf mulai melihat rekaman cctv saat bagaimana Nicole menjebak Dave di dalam kamar hotel. Terlihat Dave sengaja di bawa oleh Nicole dengan keadaan setengah sadar. Hal berikutnya yang terjadi, Nicole mulai melucuti pakaian Dave kemudian dirinya sendiri.


“Dave, tunggu... jangan pergi!” Cegahnya ketika melihat laki-laki yang di cintainya mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Dave sama sekali tak menggubris teriakan Nicole yang di sertai tangis itu.


DOR..!!


Tiba-tiba lengkingan suara tembakan memekak kan pendengaran. Menggema di dalam gedung mewah itu. Teriakan dari sebagian para wanita saling bertabrakan. Semua tamu undangan histeris, mereka segera menundukkan badan agar tak terjadi hal yang tak dininginkan.


“Hentikan langkahmu atau kau akan mati saat ini juga!” Teriak Rudolf mengacungkan pistolnya kepada Dave yang belum mencapai pintu keluar.


Langkah Dave terhenti. Dia memutar badanya.


“Jadi, sekarang apa lagi? Kau akan menembak ku tuan Rudolf?” Dave menyeringai. Dia menggoyang-gotangkan telunjuk kirinya “ itu tidak dalam kesepakatan kita, benarkan?” Ucapnya mengingatkan tentang isi perjanjiannya dua hari yang lalu.


“Kurang ajar kau! Akan ku bunuh kau sekarang juga!” Kata Rudolf meninggi. Dia tak rela di kalahkan oleh lawan yang usianya jauh di bawahnya.


Detik berikutnya letupan timah panas di lepaskan dari bidikan Rudolf, melaju pesat ke titik jantung Dave. Namun kali ini Dave lebih siap dari sebelumnya, dia sudah menerka apa yang terjadi. Dave lolos dari keceptan tembakan itu. Dia berlari dan berlindung di balik tiang penyangga.


“Penjaga! Kejar dia..! Jangan biarkan dia kabur!” Perintahnya pada setiap para penjaganya disana.


Sontak teriakan histeris para tamu semakin berisik. Beberapa di antaranya bahkan menangis ketakutan. Nyaris seperti yang terjadi di film-film action. Dave berlarian menghindari tembakan demi tembakan. Memukul, menendang, berguling dan berlari lagi. Suasana sangat ricuh. Lampu-lampu hias pecah terkena tembakan yang meleset. Hiasan dan bunga-bunga yang tadinya terlihat cantik sekarang tlah jatuh berserakan.


Nafas Dave memburu saat dia berhasil mencapai mobil yang entah milik siapa. Dia segera melaju dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya, di susul 3 buah mobil sedan berwarna hitam yang terus melancarkan tembakan padanya.


Dave memacu mobilnya lebih cepat hingga dia sampai pada sebuah hutan yang tak pernah dia singgahi sebelumnya.


Dave keluar, dia berjalan ke arah hutan itu sementara di belakangnya masih mengejar para musuhnya.

__ADS_1


“Itu dia! Kejar!”


Dave bersembunyi di antara rerumputan.. dan ketika mereka mulai lengah Dave melancarkan serangan bertubi-tubi. Dave menyerang bagai singa kelaparan. Satu persatu mereka tumbang tanpa perlawanan. Darah segar mengucur dari hidung mereka. Tendangan yang mematikan.


“Angkat tanganmu sekarang juga!” Rudolf tiba di sana. Di tangannya mengacungkan sebuah pistol di hadapan Dave.


Dave menengok ke belakang, Tak ada jalan lagi.. beberapa langkah ke belakang adalah jurang yang sangat dalam. Tak mungkin bagi Dave unyuk melompat ke dalam jurang penuh batu di dasar sana.


“Kau lihai Dave, kau bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Andai saja kau di pihak ku aku sangat gembira!”


“Huh... dasar tua bangka, siapa yang sudi menjadi sekutumu, apa kau pikir aku tak tau apa yang ada di dalam otakmu hah!”


“Hahahahaha..... begitukah?!” Tawanya terlihat renyah namun menyimpan dendam.


“Dengar pak tua, selama aku masih hidup tak akan pernah bisa kau mendapatkan saham dari keluargaku cam kan itu!”


“Hahahaha....” Rudolf tertawa lepas, “kau benar.. maka dari itu sekarang juga aku akan membunuhmu!” Teriaknya


DOR...!!!!!


Lengkingan suara tembakan menggema di atas tebing. Timah panas berhasil di muntahkan dari pistol itu. Namun..


“Tidaaakk...!!” Pistol itu lepas dari pelukan jemari Rudolf. Jarinya tiba-tiba saja menjadi lemas. Dia gemetar seketika. Perlahan menghampirinya... berjalan... dan akhirnya berlari menghampiri...


Nicole..


“Sayang, ku mohon bangunlah...” ucapanya bergetar. Dia tidak pernah menyangka bahwa Nicole benar-benar mencintai Dave hingga rela menjadikan dirinya tameng bagi Dave.


“Pa..paman” ucap Nicole terbata di pangkuan Dave. Sementara tangannya berada dalam genggaman pamanya.


“Ja-jang-an sa-kiti Dave. Aku men-cintai-nya” Bidikan itu bukannya mengenai Dave melainkan Nicole yang tiba-tiba berlari di antara keduanya saat tembakan itu terjadi.

__ADS_1


“Sayang... maafkan paman, paman bodoh. Paman tidak sengaja mengenaimu” penyesalan yang tidak ada gunanya keluar dari mulut Rudolf.


“Nicole... bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit” ucap Dave sambil memangku Nicole yang berlumuran darah.


Nicole hanya menggeleng lemah. “Paman... a-aku men-cintai..Dave” Dia menjeda kalimatnya, mulutnya mulai memuntahkan darah segar. Pandanganya mulai kabur. “Dave, aku- minta-maaf.... aku- salah padamu.” Ucapnya menahan rasa sakit di bagian dadanya.


“Nicole bertahanlah..” ucap Dave yang masih memegagi tangan wanita itu.


“Tidak Dave..a-aku merasa di-dingin.. Dave, A-aku baha-gia berada-di- pelukanmu. Sela-mat tinggal Dave” ucapnya lemah sebelum dia menjatuhkan tangannya ke tanah yang gersang di atas bukit itu. Nicole meninggal saat itu juga.


Suatu kejutan jika semua berakhir seperti ini. Dave menutup kedua mata Nicole yang masih terbuka dengan jemarinya.


“Selamat tinggal Nicole” ucapnya untuk yang terakhir kali.


“Tidaaakkk..!!” Tiriakan Rudolf seolah menyesali perbuatanya.


“Tidak sayang, tidak, jangan tinggalkan paman. Kamu satu satunya pewarisku. Kamu keponakan yang sudah ku anggap putriku sendiri. Jangan pergi Nicole.....” Rudolf menangis meraung-raung. Dia memeluk jenazah keponakanya dengan sangat erat. Penyesalanya tak pernah bisa mengubah apapun.


Sirine terdengar nyaring memasuki area itu. Beberapa polisi datang mengamankan tempat kejadian. Rudolf pergi bersama mereka dengan cincin besi mengikat pergelangan tangannya. Sementara petugas medis membawa jenazah Nicole untuk di otopsi.


“Ini sudah berakhir” ucap Dave memandang jauh dibatas tebing yang curam.


“Aku akan pulang. Aku sangat merindukanmu, ma cheire” senyumnya tempak lega. Satu penyelesaian untuk beberapa masalah sekaligus sudah teratasi dengan baik.


****


Mohon dukungan dari readers semua ya....


Like coment vote dan folow me ya


Merci 🥰

__ADS_1


__ADS_2