Musim Semi Di Paris

Musim Semi Di Paris
Kegagalan


__ADS_3

Irama musik nan lembut memenuhi ruangan dan mengalun di tiap rungu para undangan. Aroma bunga crissan,mawar putih dan white lily semerbak bagai musim semi yang tak kunjung berakhir. Para pelayan hilir mudik menawarkan sampanye yang di tuang pada glasswere kepada para tamu undangan. Suasana yang begitu identik dengan pesta pernikahan sekelas artis papan atas terlihat disana.


Jam terus berputar, Nicole mulai merasa cemas karena calon mempelainya belum kunjung tiba. Dia mencoba berkali-kali mengubungi ponselnya namun tak ada jawaban.


“Paman, apa yang terjadi. Kenapa Dave belum datang juga” kecemasan Nicole terlihat lebih jelas dari sebelumnya.


“Tenanglah sayang, paman akan cari tau” ucapnya menenangkan keponakan kesayanganya.


“Hai sepupu, seertinya kau tidak dalam suasana hati yang senang saat ini” sapa Alex yang baru daja datang


“Tutup mulutmu Alex, kau membuatku semakin gelisah”


“Oh ayolah, jangan marah.. ini hari pernikahanmu kan? Kau pasti tak ingin terlihat buruk di mata para tamu undangan” ejek Alex yang notabennya adalah sepupu dari Nicole.


“Sudahlah Alex, jangan ganggu Nicole, dia sedang gelisah karena Dave belum datang juga” ucap Rudolf kepada keponakan laki-laki yang juga kesayangannya, anak dari Barbara adik perempuan satu-satunya.


“Tenang paman, kalian sudah merencanakan dengan baik. Dia pasti akan tiba tak lama lagi”


***


Masih di kamar hotelnya yang nyaman, Dave duduk di sebuah sofa bernuansa maroon. Di hadapannya sebuah laptob sedang menampilkan sesuatu yang membuat bibirnya melengkung, menciptakan senyuman licik yang tak seorangpun tau.


“I got you!” Suaranya setengah berteriak. Sesuatu disana membuatnya bersemangat. Dengan cepat dia meng-copy nya ke dalam benda kecil berwarna hitam yang di ambil dari sakunya.


Tak butuh waktu lama, Dave sudah memasukkan kembali benda kecil itu ke dalam saku celananya. Saat ini dia sudah siap dengan tuxedonya dan sekuntum bunga mawar putih menghias saku tuxedonya. Bibirnya menyeringai seolah sedang merencanakan sesuatu yang licik.


“Ok, ayo kita bermain” ucapnya

__ADS_1


Dave menyambar berkas-berkas penting di atas meja. Berkasbyang sedah di persiapkan sebelum datang ke kota ini. Dave tau, berurusan dengan Rudolf bukan hanya harus memiliki keberanian tp juga otak. Siapa yang tak kenal Rudolf, mafia kelas kakap dengan segudang trik licik yang di segani banyak orang. Dia selalu menggunakan trik kotor agar lawanya tumbang tak berdaya. Namun sayang, itu tidak berlaku bagi Dave! Tak ada siapapun yang membuat Dave merasa gentar. Termasuk Rudolf.


Di lobby hotel, sudah menunggunya sopir untuk mengantarnya ke gedung pernikahannya dengan Nicole. Sedan limosin berwarna hitam tepat berada di depan pintu masuk hotel siap membawanya sekarang juga.


“Tambah kecepatanya!” Perintahnya kepada supir setelah mobil yang Dave tumpangi sudah menembus kepadatan lalu lintas.


“Tentu tuan”


Di tatapnya mesin penunjuk waktu di pergelangan tanganya. Sudah satu jam lebih dari waktu yang di tentukan. Hanya satu tikungan mobilnya akan berhenti di sebuah gedung mewah.


Gedung mewah itu bukan hanya di penuhi para undangan dari kelas atas, tapi juga para bodyguard yang ada di setiap sudutnya. Dave menapaki tangga lantai di gedung itu, suara riuh menyambutnya dengan sukacita. Ucapan selamat dari para tamu tertuju padanya. Dave hanya tersenyum menanggapi basa basi mereka. Kakinya terus berjalan hingga sebuah uluran jabat tangan dari Alex menghentikan langkahnya.


“Hai calon se-pu-pu” ucapnya sinis pada Dave.


“Oh kau? Ku kira aku tak kan dapat melihatmu lagi”


“Kau tak perlu basa basi, aku tak butuh itu! Dan ucapan selamatmu? Lebih baik kau simpan saja ok” Dave menepuk pundak Alex sebelum pergi meninggalkannya begitu saja.


Langkahnya semakin dekat pada Rudolf dan Nicole. Dari jaraknya kali ini, dia dapat melihat senyum cerah di wajah Nicole. Dia terlihat sangat bahagia. Pernikahan yang dia impikan.


“Dave kau datang” Nicole menyambutnya dengan hangat. Menggelayut manja pada lengan kekar Dave.


“Hahahaha.... anak muda, kau telah kalah dariku.. sekarang segeralah naik ke Altar, dan sambut mempelaimu” ucap Rudolf membanggakan diri.


Senyum sinis Dave mengembang lagi..


“Anda salah tuan Rudolf! Dan Nicole, lepaskan tanganku sekarang juga” kalimat Dave membuat keduanya tertegun.

__ADS_1


“Apa maksudmu?!” Rudolf meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya.


“Aku datang sesuai janjiku, tapi maaf.. kedatanganku bukan untuk menikahi keponakan anda!” Ucapnya lantang


“Kurang ajar, apa kau bosan hidup hah?” Rudolf setengah berteriak


“Paman, apa yang terjadi? Dave ada apa denganmu?” Nicole mulai panik. Dia baru saja di hempaskan Dave ketika menggelayut pada lebgan Dave sesaat tadi.


“Tenang sayang, biar dia jelaskan dulu.” Rudolf mencoba menenangkan keponakannya.


Dave tak berbasa basi lagi. Dia menarik sebuah benda kecil berwarna hitam dari saku celananya.


“Tuan, apakah anda masih ingat kesepakantan kita. Saat aku tau ini hanyalah trik murahan kalian berdua, maka aku berhak untuk membatalkan pernikahan”


“Apa?! Ku-kurang ajar kau!” Rudolf mulai meninggi, membuat para tamu undangan saling berbisik bisik. Mereka mulai mengerumuni keributan antara Dave dan Rudolf.


“Tak perlu berteriak, sebaiknya anda lihat ini. Dan lakukan seperti yang anda janjikan.!” Ucap Dave pada Rudolf dengan tenang


Rudolf menatap benda kecil di tangan Dave. Sebuah flashdisk hitam di ulurkan kepadanya.


“Apa ini?”


“Anda bisa melihatnya dulu, dan kesepakatan kita berakhir!” Dia menjeda kalimatnya “Nicole, kau salah jika menganggapku bodah”


****


Maaf ya yang nunggu up nya kelamaan, Author di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang sangat penting.. 😅

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan folow Author ya... 🥰


__ADS_2