
Jovanka dan Luke kembali ke Jakarta karena pekerjaan Jovanla terpaksa di tunda akibat insiden lampu jatuh. Jovanka memaksa untuk mengendarai mobil karena khawatir dengan kondisi Luke, namun pria itu menolak karena dia merasa baik-baik saja.
Selama perjalanan pulang Jovanka lebih banyak diam, wanita cantik itu sedang memikirkan siapa orang yang berniat mencelakainya, padahal selama berkarir sebagai model Jovanka merasa tak memiliki musuh.
Setibanya di mansion utama, Jovanka segera ke kamarnya. Namun setelah mengingat luka di punggung Luke, dia berencana memberi libur Luke selama dua hari ke depan. Tanpa mengetuk pintu Jovanka menerobos masuk ke dalam kamar Luke, wanita cantik itu membelalakan matanya melihat Luke dalam kondisi setengah telanjannngg. Luke hanya mengenakan boxer sehingga perut dan dada bidangnya terpampang di depan Jovanka.
"Nona," pekik Luke dengan wajah terkejut, pria itu kembali memakai celana serta kemejanya. Sementara itu Jovanka mematung di tempat dengan air liur yang hampir menetes. Imannya yang setipis tisu membuat Jovanka ingin sekali menyentuh dada bidang Luke.
"You are so sexxxyyy," puji Jovanka dengan tatapan lurus ke dada Luke meski kini Luke sudah berpakaian.
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Luke, untuk yang pertama kalinya pria itu menunjukan wajah kesal. Padahal Luke baru saja akan mandi, namun Jovanka malah menerobos masuk dan menatapnya dengan mesyumm. "Nona Jovanka," panggil Luke dengan keras karena Jovanka masih terpaku di tempatnya.
"Eh, iya. Ada apa Luke?"
"Apa yang anda lakukan di sini?" Luke mengulangi pertanyaannya.
"Ah, begini Luke. Dua hari kedepan kau boleh libur karena aku tidak ada jadwal pemotretan!"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya, kau boleh pergi kemanapun selama dua hari. Tapi ingat jangan matikan ponselmu!"
"Baik nona!"
Luke menatap Jovanka dengan kening mengkerut karena majikannya itu tak kunjung keluar dari kamarnya. "Anda tidak keluar, saya mau mandi?" usir Luke secara halus.
"Ah ya. Aku akan keluar. Ngomong-ngomong, kau sangat sexiii Luke!"
"Terima kasih pujiannya, silahkan keluar!" Luke menggiring Jovanka keluar dari kamarnya meski Jovanka terus menoleh ke belakang. "Lihat jala..."
Dugg...
"Anda baik-baik saja?" tanya Luke sambil menahan tawanya, entah sudah yang ke berapa kali Jovanka menabrak sesuatu saat sedang bersamanya.
Jovanka memutar tubuhnya dan menampilkan wajah kesal. "Menurutmu?" tanyanya ketus.
Luke mengamati kening Jovanka yang memerah, kening mulus itu terlihat sedikit lecet. "Hanya lecet sedikit," ujar Luke.
"Sakit sekali Luke," rengek Jovanka dengan manja. "Tolong obati keningku. Kening indah ini adalah aset berharga, dia tambang emas untuk mencari pundi-pundi rupiah. Kalau sampai lukanya tidak hilang dan aku sepi job, terpaksa aku tidak bisa membayar gajimu Luke," sambungnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Duduklah, saya akan mengobati anda!"
"Yes," Jovanka bersurak dalam hati, wanita cerdik itu lalu berlari masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa. Jovanka tidak sabar menunggu Luke mengobatinya. Luke menyusul Jovanka sambil membawa kotak obat, pria itu lalu membersihkan luka di kening Jovanka.
Jantung Jovanka memompa dengan cepat saat jarak mereka begitu dekat, Jovanka bahkan bisa merasakan sapuan nafas hangat milik Luke.
"Luke," panggil Jovanka dengan lembut.
"Hem."
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Jovanka.
"Belum," jawab Luke sambil mengoleskan obat di kening Jovanka.
"Kalau istri?"
Luke menggelengkan kepalanya. "Kenapa anda menanyakan hal itu?"
"Apa kau mau jadi kekasihku?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...