
Luke memeluk tubuh ibunya yang begitu kurus, air matanya tak bisa berhenti, Luke bahkan tidak bisa membayangkan betapa menderitanya sang ibu selama ini.
Larut malam Luke mendengar suara jeritan, pria itu terbangun dan mendapati anak buah Wilson menyeret seorang gadis lalu mengikat tangan dan kakinya dalam kondisi berbaring. Gadis itu terus menjerit dan meronta, namun tak lama setelah itu anak buah Wilson menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh gadis itu dan membuatnya pingsan.
Luke memeluk ibunya saat anak buah Wilson berjalan ke arah mereka, salah satu dari mereka membuka pintu sel dan satu yang lainnya menodongkan senjata ke arah Luke.
"Dokter Martha, anda harus bertugas malam ini," ucap anak buah Wilson.
Martha melepaskan pelukan Luke lalu berdiri, Luke menyusul sang ibu dan menahannya. "Tugas apa mom?" tanya Luke penasaran sekaligus khawatir.
"Cepat atau aku akan menembak putramu!" ancam mereka seraya menodongkan pistol di kepala Luke.
"Maafkan momy Luke,"ujar Martha dengan mata berkaca-kaca, wanita itu lalu keluar dari ruangan sempit itu dan berjalan menghampiri sang gadis yang sudah tak sadarkan diri.
Luke mengikuti Martha dengan kedua tangan terangkat, rasa penasarannya mulai terjawab saat Martha membuka sebuah kotak berisi alat-alat medis yang biasa di gunakan untuk operasi.
Martha lalu memakai jubah medis dan sarung tangab medis, dia juga membuka pakaian gadis malang itu dan mensterilkannya. "Mom, what are you doing?" pekik Luke dengan suara bergetar, tanpa Martha menjawab pun Luke sudah paham apa yang akan di lakukan sang ibu.
"No mom, jangan lakukan itu!" teriak Luke mencoba menahan sang ibu.
Martha menoleh dan menggelengkan kepalanya, bukan tanpa alasan dia mau melakukan pekerjaan keji itu, Martha melakukannya demi melihat Luke tetap hidup. Selama enam tahun Martha bertahan demi Luke, Martha melakukan operasi dan mengambil organ manusia yang tidak bersalah di bawah ancaman Wilson.
"No mom," Luke menangis sejadi-jadinya saat menyaksikan sang ibu membedah tubuh gadis itu dan mengeluarkan semua organ tubuhnya. Hati Luke begitu sakit, dia akhirnya tau penderitaan seperti apa yang selama ini di lalui oleh sang momy.
Beberapa jam kemudian Martha sudah selesai melakukan tugasnya, dia lalu menutup kembali tubuh gadis malang itu. Meski Martha merasa sangat berdosa dan tak pantas melakukannya, Martha menyempatkan diri mendoakan gadis itu agar tenang di atas sana. Martha berharap semua orang yang telah dia bunuh tidak akan pernah memaafkannya.
Martha kembali ke ruang tahanan, wanita itu menangis seraya menatap kedua tangannya yang bergetar hebat. Martha sangat berdosa, dia bahkan tak pantas di panggil seorang dokter.
"I'm so sorry Luke," ucap Martha penuh sesal. Luke hanya diam dan memeluk tubuh renta sang ibu. "Momy bahkan tak pantas untuk hidup!" sambung Martha.
"Aku tau momy melakukannya demi melindungiku. Momy harus tetap bertahan. Kita pasti akan keluar dari neraka ini mom. Kita pasti akan keluar," ujar Luke seraya mengusap punggung sang momy.
__ADS_1
"Kau harus keluar dari tempat ini nak, kau hars tetap hidup!"
"Tidak mom, kita harus keluar bersama!"
"Momy bersyukur karena kau masih hidup, kalaupun momy harus mati sekarang momy rela!"
"No, jangan katakan itu. Kita akan keluar dan hidup bersama seperti dulu lagi. Apa momy tidak ingin melihat menantu dan cucu momy?"
"Cucu?" ulang Martha.
"Ya mom, aku sudah menikah dan istriku sedang hamil!" Luke mengeluarkan foto Jovanka yang dia simpan di saku celananya dan menunjukan kepada Martha. "Dia cantik kan mom?"
Martha tersenyum penuh haru saat menatap foto Jovanka. "Dia sangat cantik," puji Martha dengan tulus.
"Ya mom, selain cantik dia juga sangat baik hati!"
"Semoga momy bisa bertemu dengannya. Siapa namanya Luke?"
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba seseorang datang dan bertepuk tangan di iringi tawa. Luke mempertajamkan penglihatannya, ternyata Morgan yang datang. Dia pasti datang untuk mengambil organ tubuh gadis malang itu.
"Kita bertemu lagi Luke. Seandainya kau memberikan bukti itu lebih awal, kau pasti tidak menderita seperti ini! Karena ibumu berjasa dalam bisnisku, aku akan mengampuni kesalahanmu di masa lalu! Sampai bertemu lagi Luke!"
Sementara di tempat lain, Andrew berhasil menemukan lokasi Luke, dia langsung mengirim beberapa anak buahnya untuk memeriksa apakah lokasi tersebut sesuai dengan tempat Luke di sekap. Tak butuh waktu lama, anak buah Andrew memberi kabar jika Luke berada di tempat tersebut. Setelah memastikan keberadaan Luke, Andrew mengirim dua puluh orang yang dia sewa untuk mengepung tempat Luke di sekap, lalu dia dan Josh menyusul anak buahnya ke tempat tersebut.
"Bagaimana kondisi Luke?" tanya Andrew pada anak buahnya.
"Kami tidak bisa memastikannya, dia di sekap di penjara bawah tanah!"
"Apa Wilson ada di tempat ini?'
"Tidak. Tapi beberapa menit yang lalu Morgan datang ke tempat itu, sampai sekarang dia belum keluar!"
__ADS_1
"Morgan?" ulang Andrew.
"Mafia yang bekerja sama dengan Wilson!"
"Tunggu sampai Morgan pergi, setelah itu kita serang tempat itu!"
"Baik tuan!"
Sementara Andrew sibuk dengan anak buahnya, Josh sibuk mengirim bukti kejahatan Wilson kepada Polisi setempat, Polisi Militer, Sekretaris Presiden serta menayangkan semua bukti tersebut di Billboard Time Square New York, bukan hanya itu Josh juga mengirimkan bukti tersebut ke salah satu stasiun televisi milik kenalannya. Pria itu tersenyum setelah bukti tersebut berhasil dia kirim.
"Oh God, sepertinya kita punya bakat menjadi Mafia Luke," ucap Josh penuh percaya diri.
"Benarkah. Lalu nama apa yang tepat untuk geng kita mafia kita tuan?" jawab Andrew dengan wajah serius meski dia tau Josh hanya sedang bercanda.
"Hmmm. bagaimana dengan Blue Bloods?"
"Kenapa harus Blue Bloods?" tanya Andrew penasaran.
"Karena aku keturunan ningkrat!"
Andrew menepuk keningnya sendiri, lelucon bapak-bapak modelan Josh sungguh di luar nalar. "Terserah tuan saja lah!"
Di rumah pribadinya, Wilson dan anak buahnya sedang berusaha membuka data yang tersimpan di dalam flashdisk yang Luke berikan. Wilson begitu kesal karena Luke memasang kode yang tidak bisa di buka oleh anak buahnya. Namun Wilson tidak menyerah, dia bahkan menyewa seorang IT untuk membuka dokumen tersebut. Setelah beberapa jam akhirnya dokumen terdebut berhasil terbuka. Namun alih-alih bukti yang dia inginkan, dokumen tersebut hanya berisi dua kata berhuruf besar dan bercetak tebal.
...THE END...
"Luke!" Wilson menggeram dengan rahang mengatup, amarahnya meledak karena Luke berani mempermainkannya. Di saat yang bersamaan, anak buah Wilson datang dan melaporkan kekacauan yang terjadi.
Wilson semakin murka saat bukti kejahatannya tersebar luas. Bukan hanya di internet, bahkan semua saluran televisi sedang menyiarkan kejahatannya.
"Awas kau Luke!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...