My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Kedatangan Martha


__ADS_3

Martha tiba di Jakarta dengan selamat, dia di jemput oleh Luke di bandara dan segera menuju mansion keluarga Janzsen. Meski tau jika Jovanka berasal dari keluarga kaya, namun Martha tetap tertegun saat sampai di mansion yang begitu besar dan luas.


Kedatangan Martha di sambut hangat oleh seluruh anggota keluarga Janzsen, wanita itu bersyukur karena Luke bertemu dengan keluarga yang baik.


"Mom," Jovanka memeluk ibu mertuanya dengan erat.


"Bagaimana kondisimu nak?" tanya Martha seraya mengusap punggung sang menantu.


"Aku sudah baik-baik saja mom. Mom pasti lelah, ayo kita ke kamar mom," Jovanka melepaskan pelukannya dan mengajak Martha ke kamar tamu agar Martha bisa istirahat.


"Dimana cucuku?" tanya Martha setelah dia berada di kamar.


"Dia di sini mom," Luke masuk ke dalam kamar sambil menggendong bayinya. Martha menghampiri Luke dan tersenyum melihat wajah sang cucu untuk yang pertama kalinya.


"Dia sangat tampan, dia mirip sepertimu Luke. Oh tidak, matanya mirip dengan Jovanka. Kau benar-benar perpaduan antara momy dan dady mu sayang," ucap Martha dengan gemas. "Momy harus mandi dulu, momy ingin menggendong cucu momy!"


Selagi Martha mandi, Luke dan Jovanka tetap berada di kamar. Mereka menaruh baby JV di atas tempat tidur.


"Kondisi momy sepertinya lebih baik Luke. Momy tampak lebih berisi," bisik Jovanka pelan, dia tidak ingin Martha mendengar ucapannya.


"Ya, semoga saja ini awal yang baik!"


Setelah membersihkan diri, Martha keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri cucunya.


"Momy boleh gendong kan?" tanya Martha tak sabar.


"Tentu saja mom," jawab Jovank


Martha lalu menggendong baby JV dan menimangnya penuh kasih sayang. Martha tak pernah meyangka jika dia memiliki kesempatan untuk menimang seorang cucu. Semenjak dia di kurung oleh Wilson, dia mengira jika hidupnya telah berakhir. Dia kehilangan suami dan kedua putranya sehingga dia tak memiliki semangat untuk tetap hidup. Rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertemu kedua putranya meski akhirnya Charli harus meninggal. Dan kini dia sangat bersyukur karena bisa melihat dan menimang cucunya.


"Seandainya dady masih hidup, dia pasti sangat senang karena memiliki seorang cucu," ucap Martha dengan mata berkaca-kaca. Dia merindukan suaminya, namun dia tidak tau kemana harus berkunjung saat sedang memikirkan sang suami.


Jovanka menghampiri Martha lalu memeluk ibu mertuanya dari samping. "Aku yakin dady bahagia melihat kita dari atas sana," ucap Jovanka sedih.


"Benar kata Jov, dady dan Charli pasti sedang tersenyum melihat kita sekarang mom," sahut Luke seraya menahan air matanya.

__ADS_1


Bukan hanya Martha yang ingin tau dimana Anderson di makamkan, Luke juga sangat ingin tau dimana jasad ayahnya. Luke ingin mengubur Anderson secara layak. Sebelum pulang ke Indonesia, Luke meminta bantuan polisi dan tentara setempat untuk mencari keberadaan jasad sang ayah, namun sampai saat ini Luke belum mendapatkan kabar apapun dari mereka.


Tak terasa seminggu sudah Martha berada di Jakarta, wanita itu harus kembali ke Amerika. Luke sebenarnya ingin sang ibu tetap berada di Jakarta, namun Martha menolak karena Martha mulai nyaman tinggal di pedesaan dan berbaur dengan warga desa.


"Besan, padahal saya senang anda tinggal di sini. Bagaimana kalau anda tidak usah pulang ke Amerika lagi," ucap Katherine saat akan mengantar Martha ke bandara.


"Saya juga betah di sini, tapi saya harus kembali. Mereka membutuhkan saya di sana," tolak Martha secara halus.


"Apapun pilihan anda, semoga anda selalu sehat. Kapanpun anda akan datang kemari, pintu rumah kami akan selalu terbuka," Katherine lalu memeluk besannya.


"Hati-hati di jalan mom," ucap Jovanka sedih, dia memeluk Martha lalu menangis karena tidak tega harus melepaskan Martha hidup sendirian lagi.


"Jaga dirimu baik-baik nak. Menjadi ibu baru bukan hal yang mudah, tapi momy yakin kau pasti bisa merawat JV dengan baik. Momy titip Luke ya, tolong jaga dia untuk momy!"


"Hem, aku akan merawat JV dan Luke dengan baik. Momy juga harus merawat diri momy dengan baik!"


Kepulangan Martha menyisakan kesedihan mendalam bagi Luke dan Jovanka, namun mereka harus tetap menghargai keputusan Martha karena mereka yakin itu yang terbaik untuk Martha.


Di bandara, Luke memeluk Martha seakan tidak rela melepas kepergian sang momy.


"Ya mom, aku akan menjaga dan menyayangi mereka!"


.


.


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa enam bulan telah berlalu. Selama enam bulan banyak hal yang Jovanka dan Luke lewati. Mereka melihat baby JV tumbuh setiap hari. Kini bayi mungil itu sudah tengkurap dan mulai berlatih merangkak.


Selama enam bulan Jovanka hanya fokus menjadi ibu rumah tangga, dia belum tertarik untuk kembali ke dunia hiburan karena dia tidak ingin kehilangan momen bersama sang anak.


Selama enam bulan itu juga Luke menoreh prestasi yang luar biasa di kantor. Setelah mengadakan rapat pemegang saham, akhirnya Luke di tunjuk menjadi seorang CEO menggantikan Jimmy untuk memimpin J&J Company. Mereka semua sepakat menjadikan Luke pimpinan karena melihat kinerja Luke yang luar biasa dalam upaya mengembangkan J&J Company.


Banyak hal bahagia yang menyertai perjalanan Luke akhir-akhir ini, setelah di resmi menjadi CEO, dia juga menerbitkan novel keduanya dengan judul SWEET ENDING, sebuah novel yang menceritakan perjalanan cintanya bersama sang istri. Dalam waktu beberapa minggu saja, novel Sweet Ending menjadi buku yang paling banyak di baca dan menjadi best seller. Seperti janjinya, Mister Serkan berencana membuat film adaptasi dari novel Sweet Ending.


"Bagaimana perasaan anda tuan Luke?" goda Jovanka saat mendengar kabar novel sang suami akan di film kan kembali.

__ADS_1


"Tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata," jawab Luke dengan bangga.


"Aku bangga padamu sayang," puji Jovanka dengan tulus.


Luke menarik Jovanka ke atas pangkuannya,.pria itu lalu memeluk pinggang istrinya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada sang istri. "Semua ini berkat doa dan dukunganmu sayang. Terima kasih telah menemaniku dan selalu berada di sampingku," ucap Luke penuh haru.


Jovanka mengusap kepala Luke dengan lembut. "Kau mendapatkan semua ini karena kau telah bekerja keras!"


"Oh ya sayang, bagaimana dengan tawaran Mister Serkan, kau mau kan menjadi pemeran utama di filmnya?" Luke mengangkat kepalanya dan menatap sang istri penuh harap.


Jovanka mengangguk dengan senyum di bibirnya, setelah mempertimbanhkan beberapa hal dia memutuskan untuk kembali akting di film yang akan di garap oleh Mister Serkan. "Ya, aku mau Luke!"


"Terima kasih sayang. Aku yakin filmnya akan laris di pasaran karena kau yang menjadi pemeran utama wanitanya!"


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel Luke berbunyi. Jovanka meraihnya dan memberikannya kepada sang suami. Luke segera mengangkatnya karena sebuah panggilan dari luar negeri.


"Hallo," ucap Luke membuka percakapan.


"Apa benar ini Kapten Lucas?" tanya seseorang di seberang sana.


"Ya benar!"


"Kami dari kepolisian, kami mendapat pentunjuk tentang keberadaan jasad Jenderal Anderson, kami harap anda bisa datang ke Amerika untuk memastikannua!"


"Baik, saya akan segera kesana!"


"Ada apa Luke?" tanya Jovanka penasaran.


"Mereka bilang mereka menemukan dady!" jawab Luke dengan penuh harap.


"Benarkah. Syukurlah kalau begitu!"


"Aku harus segera ke sana, kau tidak keberatan aku tinggal kan?"


"Tentu saja tidak. Pergilah dan temui dadymu!""

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2