
Jovanka menyeka air matanya saat dia melihat seorang wanita paruh baya duduk di hadapannya, Jovanka menoleh ke arah Josh dan pria itu hanya mengangguk lalu pergi. Jovanka hanya pasrah saat wanita paruh baya itu membantunya berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.
"Jangan menangis lagi nak, bayi yang ada di dalam perutmu bisa merasakan kesedihanmu. Kuatkan dirimu," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Anda siapa?" tanya Jovanka penasaran, namun sekilas wanita paruh baya itu tampak tak asing baginya.
"Aku Martha, ibu kandung Luke!" jawabnya sambil tersenyum.
Jovanka membekap mulutnya, dia tak percaya Luke berhasil menemukan ibunya yang sudah lama hilang. "Anda masih hidup? syukurlah, Luke pasti sangat senang bisa bertemu dengan anda nyonya" ucap Jovanka penuh syukur.
"Panggil kau momy. Luke sudah menceritakan semuanya. Dia sangat bangga saat memamerkan fotomu kepadaku. Katanya kau sangat cantik dan sangat baik!"
Jovanka tersenyum haru, dia tersentuh karena Luke masih sempat memperkenalkannya kepada Martha. "Luke berlebihan mom!"
"Tidak nak, kau memang sangat cantik. Terima kasih karena kau sudah menerima Luke apa adanya!"
"Aku yang berterima kasih karena Luke mau menerima wanita sepertiku mom!" balas Jovanka dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Martha meraih tangan Jovanka dan menggenggamnya dengan erat. "Sekarang kau harus kuat, demi anak dan suamimu. Momy akan di sini menemanimu!"
"Terima kasih mom. Apa aku boleh memeluk momy?"
"Tentu saja!"
Jovanka lalu memeluk Martha dan kembali menangis di pelukan ibu mertuanya. Pertemuan awal mereka di iringi tangis, Jovanka berharap ke depannya mereka akan bahagia dan bisa berkumpul bersama. Dia berharap Luke segera sadar dan kebahagiaan mewarnai keluarga kecil mereka.
.
__ADS_1
.
Sudah seminggu Jovanka berada di rumah sakit, wanita hamil itu setia menemani suaminya yang masih belum sadarkan diri. Andrew, Josh dan Katheirne terpaksa pulang ke Indonesia karena mereka memiliki pekerjaan di sana. Jovanka tidak keberatan karena dia di temani oleh Martha. Dan lagi hari ini Martha mengejaknya menemui seseorang.
"Kita mau kemana mom?" tanya Jovanka kebingungan.
"Menemui Charli," jawab Martha dengan senyum.
"Charli? Siapa dia mom?"
"Kakak Luke!"
Jovanka kembali terkejut karena menurut cerita Luke kakaknya meninggal saat berusaha membebaskan Luke. "Bukankah dia sudah...?" Jovanka tak berani melanjutkan kalimatnya.
"Selama ini dia masih hidup!"
Martha lalu membawaa Jovanka ke dalam sebuah ruangan di mana Charli di rawat. Jovanka tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Charli yang sangat mengenaskan. Pria itu begitu kurus dengan tubuh penuh dengan bekas luka. Beruntung Luke segera menemukan Charli meski sekarang pria itu dalam kondisi kritis sama seperti adiknya.
"Selama enam tahun dia di siksa oleh Wilson. Puncaknya saat Luke berhasil menemukan kami, salah satu anak buah Wilson memukul kepalanya dan terjadi pendarahan otak. Saat ini Charli koma dan kemungkinan hidupnya sangat kecil," jelas Martha dengan mata berkaca-kaca. Ibu mana yang kuat melihat kedua putranya terbaring tak berdaya. Namun Martha harus bertahan, dia harus tetap kuat demi kedua putranya. Dia yakin Luke dan Charli akan segera bangun.
Setelah menemui Charli, Jovanka kembali ke ruangan Luke. Setiap hari tanpa bosan Jovanka selalu menceritakan awal pertemuan mereka hingga akhirnya mereka bisa menikah. Jovanka yakin Luke bisa mendengarkan suaranya dan suatu hari nanti Luke akan membuka matanya
"Luke, sudah delapan hari kau seperti ini. Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya seraya mengusap rambut Luke dengan lembut. "Cepat bangun, kalau tidak aku akan mencari pria lain!"
Tidak ada kata menyerah, Jovanka sangat yakin Luke akan sadar dan kembali padanya. Meski waktu berjalan dan sudah hampir sebulan Luke terbaring tak sadarkan diri.
Karena tak tega melihat Jovanka sendirian di luar negeri, Josh membawa anak dan istrinya ke Amerika untuk menemani Jovanka. Mungkin dengan kehadiran Abel, Jovanka akan sedikit terhibur.
__ADS_1
Selama di luar negeri, Jovanka dan Martha tinggal di sebuah apartemen yang dekat dari rumah sakit. Martha menolak tinggal di rumah lama mereka karena Martha belum sanggup menghadapi kenangan indah sekaligus kenangan buruk di rumah tersebut.
Dan untungnya kedatangan Abel membawa kebahagiaan tersendiri bagi Martha dan Jovanka. Bocah kecil itu seolah menjadi pelipur lara bagi kedua wanita itu.
Namun pagi ini Martha mendengar kabar yang kurang baik, dengan di temani Jovanka dan Frey mereka pergi ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Charli dok?" tanya Martha dengan nafas terengah-engah, wanita paruh baya ifu berlari saat mendengar kabar dari rumah sakit mengenai putra sulungnya.
"Maaf nyonya. Kita harus melepas alat penunjang kehidupan di tubuh pasien. Dalam dua hari pasien mengalami henti jantung selama lima kali. Pupil matanya tak bereaksi. Tidak lama lagi pasien akan mengalami mati otak! Anda juga seorang dokter, anda pasti tau kondisi putra anda sekarang!"
Tubuh Martha limbung, tubuh tuanya seolah di hantam batu besar. Selama enam tahun Martha mengira putranya sudah meninggal. Namun sebuah keajaiban mempertemukan mereka, tapi kenapa kini Martha harus melihat putranya pergi dengan matanya sendiri.
"Sehari lagi, tolong beri waktu sehari lagi. Besok Charli akan berulang tahun. Aku akan melepaskannya setelah merayakan ulang tahunnya!" pinta Martha dengan wajah berderai air mata.
Dan hari yang paling menyakitkanpun datang, tiga puluh tiga tahun yang lalu Martha berjuang untuk melahirkan Cahrli kedunia ini, namun kini Martha kembali berjuang untuk merelakan kepergian putranya.
Martha membawa sebuah kue ulang tahun, dengan di temani seluruh anggota keluarga Janzsen yang baru saja tiba di Amerika, mereka merayakan kelahiran Charli sekaligus melepaskan kepergiannya
Ruang rawat Charli di penuhi bunga mawar dan anyelir, Martha berharap putranya tak lagi kesakitan dan pergi dengan damai.
"Momy mengikhlaskanmu sekarang. Pergilah dengan tenang. Temui dady mu dan sampaikan padanya jika momy dan Luke baik-baik saja. Momy beruntung memiliki putra sepertimu. I Love you more my son!"
Semua orang menundukan kepalanya saat dokter dan perawat melepas satu persatu alat penunjang hidup yang menempel di tubuh Charli.
Tiiittttt.....
Garis lurus di layar monitor dengan suara melengking menghantarkan seorang anak manusia kembali ke pangkuan Tuhan. Tangis Martha kembali pecah, wanita paruh baya itu memeluk tubuh putranya untuk kali terkahir. Martha terisak di atas tubuh Cahrli yang mulai dingin, jika boleh meminta dia ingin kembali ke masa di mana keluarganya bahagia bersama. Jika boleh memutar waktu, Martha pasti akan melarang Luke pergi malam itu, dengan begitu keluarga mereka akan tetap hidup bahagia bersama.
__ADS_1
Namun, hidup bukan soal memutar waktu. Semua yang terjadi sudah di gariskan oleh yang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan hati yang ikhlas. Selamat jalan Charli, terima kasih sudah menjadi putra dan kakak terbaik di dunia ini.
BERSAMBUNG...