
Dua minggu kemudian, Luke tak juga kembali ke mansion utama. Pria itu hanya mengirim pesan singkat pada Jovanka sekedar menanyakan kabar istri dan bayi mereka. Meski Luke pergi, namun pria itu tetap bertanggung jawab, setelah mendapat gaji dia mengirimkan gaji tak seberapa itu ke rekening Jovanka. Luke juga mengirim susu khusus ibu hamil ke mansion, serta membelikan beberapa baju yang nyaman di pakai untuk ibu hamil.
"Jumlahnya memang tak seberapa, semoga kau mau menerimanya," tulis Luke pada pesannya setelah mengirimkan uang ke Jovanka.
Jovanka lalu membuka tas belanja yang di kirim Luke melalui ojek online, wanita hamil itu menangis sambil memeluk baju yang Luke belikan untuknya. Jovanka lalu mencobanya dan begitu pas di tubuhnya hingga menampakan perutnya yang membuncit.
"Ayo kita jemput dady," ucapnya sambil mengusap perut.
Jovanka bergegas pergi ke kontrakan Luke, sepanjang perjalanan dia gelisah karena takut Luke juga marah kepadanya karena sikapnya yang keterlaluan. Jovanka sendiri juga bingung kenapa amarahnya kali ini tidak sembuh-sembuh atau mungkin semua kesensitifannya karena bawaan bayi.
Setelah memarkirkan mobilnya, Jovanka berlari masuk ke dalam gang menuju kontrakan Luke. Wanita hamil itu mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada yang membukanya.
"Orangnya pergi neng," ucap seorang ibu-ibu yang lewat di depan kontrakan Luke.
"Pergi kemana ya bu?" tanya Jovanka dengan perasaan yang mulai cemas.
"Kurang tau, tapi bawa ransel. Mungkin pindah!"
Deg....
Kaki Jovanka terasa lemas, benarkah Luke pergi meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan dia dan bayinya? Jovanka duduk di kursi yang berada di depan kontrakan Luke, wanita hamil itu mengusap perut sambil meratapi nasibnya yang malang karena ulahnya sendiri.
"Maafkan momy sayang, ini semua gara-gara momy terlalu keras kepala," aku Jovanka seraya mengusap perutnya dengan nelangsa, dia tidak bisa membayangkan hamil tanpa dukungan suami.
Sementara itu, Luke sudah berada di pesawat, dia memutuskan pulang ke Amerika beberapa saat untuk menenangkan dirinya dan untuk menemui sang ibu. Luke sengaja pergi diam-diam karena dia tidak ingin membuat kegaduhan di tengah keluarga Janzsen.
Lalu bagaimana dengan nasib pernikahannya bersama Jovanka?
__ADS_1
Tentu saja Luke tidak ingin pernikahan itu berakhir, namun jika Jovanka menginginkan untuk berpisah maka dia akan mengabulkannya sebagai bentuk rasa cinta. Kini baginya cinta bukan hanya soal memiliki, namun bagaimana dia bisa membuat orang yang dia cintai bisa hidup nyaman dan bahagia. Dan level tertinggi dari mencintai adalah melepaskan dengan ikhlas.
Setibanya di Amerika, Luke memutuskan tinggal di rumah lamanya. Untung saja sebelum kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu dia menyuruh orang untuk memperbaiki dan membersihkan rumahnya sehingga rumah tua itu kembali layak huni.
"Hufh, aku merindukan kalian," ucap Luke sambil menatap foto keluarganya yang terpasang di dinding.
Setelah beristirahat beberapa saat, Luke mengunjungi makam Charli. Luke membawa seikat bunga lily dan meletakannya di atas pusara sang kakak.
"Apa kau bahagia di sana?" tanyanya pada batu nisan. "Seandainya kau masih di sini apa kau juga akan memarahiku karena sudah mengecewakan istriku?"
Luke mengusap batu nisan berwana hitam dengan ukiran nama sang kakak. "Aku yakin kau sudah bahagia di sana. Jika bertemu dady, sampaikan pada dady jika kami ingin tau dimana jasadnya. Kami ingin menguburkannya secara layak!"
Setelah dari makan, Luke mengunjungi ibunya di salah satu rumah Tuhan yang berada di pedesaan. Martha memutuskan tinggal di sana sebagai pelayan Tuhan dan memberikan pengobatan gratis kepada penduduk desa.
Suasa tenang dan udara segar menyambut kedatangan Luke, kini dia tau kenapa Martha memilih tinggal di pedesaan seperti ini. Luke melangkahkan kakinya menuju bangunan yang terlihat tua namun terawat. Dia lalu menunggu di depan pintu setelah sebelumnya meminta tolong kepada seseorang untuk memanggilkan Martha.
"Mom," Luke tersenyum melihat kondisi Martha yang semakin membaik, tubuhnya mulai terisi dan wajahnya terlihat lebih tenang.
Martha segera memeluk Luke, dia terkejut saat seseorang mengatakan jika putranya sedang menunggu di luar, dan ternyata benar jika Luke datang mengunjunginya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Martha seraya melepas pelukannya.
"Aku baik mom, bagaimana dengan momy. Apa momy betah di sini?" tanya Luke seraya menggenggam tangan Martha yang terasa hangat.
"Momy baik-baik saja. Seperti yang kau lihat, tempat ini sangat tenang dan membuat momy nyaman tinggal di sini," jawab Martha dengan senyum di wajahnya, wanita paruh baya itu lalu mencari sesuatu di sekitar Luke. "Mana Jovanka?" tanyanya kemudian.
"Dia tidak ikut mom!"
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar?" terka Martha dengan nada khawatir, melihat perubahan ekpresi Luke membuat wanita itu yakin jika terjadi sesuatu pada Luke dan Jovanka. "Ayo duduk dan ceritakan masalahnya!" Martha menarik Luke menuju halaman dan duduk di kursi kayu. "Ada apa nak?"
Luke menghela nafas berat, pria itu menunduk seraya meremas tangannya sendiri. "Jovanka marah karena aku membohonginya!" ucap Luke memulai cerita.
"Kebohongan apa yang kau lakukan?" tanya Martha penasaran, meski baru mengenal Jovanka beberapa saat namun Martha yakin jika Jovanka bukan wanita yang mudah marah karena hal sepele.
Jovanka lalu menceritakan semuanya, bagaimana dia bertemu Jovanka sampai akhirnya mereka menikah dan kebohongannya terungkap.
"Apa kau sudah minta maaf?" tanya Martha setelah mendengarkan kisah putranya.
Luke mengangguk pelan. "Sudah, tapi dia tidak mau bicara denganku mom!"
"Lalu kenapa kau pergi?"
"Karena aku merasa tidak pantas untuknya?"
"Apa harga dirimu merasa terluka?" tanya Martha lagi dan Luke hanya mengangguk.
"Luke, sejak awal kau tau jika kalian berbeda. Tapi kau memilih maju demi mendapatkan Jovanka. Inilah konsekuensi yang harus kau terima. Kau telah menikahinya dan kalian akan memiliki anak. Terkadang, kita harus sedikit merendahkan harga diri dan ego kita demi orang yang kita cintai. Sama sepertimu, kebohonganmu juga melukai harga diri Jovanka. Jadi pikirkan lagi sebenarnya apa yang kau inginkan!"
"Tapi aku sudah membujuknya selama sebulan mom. Aku sudah memohon padanya, sepertinya dia tidak mau memaafkanku!"
"Luke, istrimu sedang hamil sekarang. Hormon kehamilan terkadang mempengaruhi kondisi ibu hamil, mereka mudah marah, mood mereka tiba-tiba berubah. Mungkin saja Jovanka juga sedang menderita karena dia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Pulanglah nak, temui istrimu dan bicarakan baik-baik! Jika tak memiliki titik temu, carilah sampai kalian mendapatkannya!"
Luke hanya terdiam, dia juga tak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Namun, untuk sekarang mungkin dia perlu waktu untuk menenangkan diri. "Apa boleh aku tinggal di sini beberapa hari saja mom, aku akan memikirkan semuanya!"
Martha mengangguk sambil tersenyum. "Tidak jauh dari sini ada penginapan, menginaplah di sana dan renungkan semuanya. Pikirkan bagaimana perjuangan kalian sampai akhirnya kalian bisa bersama!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...