My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Romansa


__ADS_3

Jovanka sangat bahagia, terlihat jelas dari caranya menggandeng tangan Luke dengan begitu erat. Untuk pertama kalinya mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Pun dengan Luke, meski tak begitu menunjukan kebahagiaannya, namun dari raut wajahnya terlihat jelas jika pria itu sangat gembira.


Seperti pasangan kekasih pada umumnya, mereka menonton bioskop di temani seember popcorn dan ice coffe latte. Sayangnya, acara menonton mereka tak seindah yang Jov bayangkan. Dia mengira Luke akan mengajaknya menonton film romantis yang menyajikan banyak adegan mesraa, namun sayangnya Luke justru mengajaknya menonton film thriller yang memiliki banyak adegan kekerasan seperti menembak dan menusukk.


"Astaga naga, aku mual sekali," batin Jovanka seraya memegangi perutnya yang terus bergejolak, dia tidak kuat melihat adegan berdarah. "Luke, aku ke toilet sebentar ya," pamit Jovanka sambil berbisik. Luke hanya mengangguk, namun pria itu tak menoleh sedikitpun karena begitu serius menonton film brutal tersebut.


Jovanka segera ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Setelah muntah, dia duduk di atas closet dengan wajah memucat. Tak sampai di sana, Jovanka kembali mengeluarkan isi perutnya sampai tubuhnya terasa lemah.


"Astaga, aku tidak mungkin hamil kan?" tebaknya asal. "Haha, tentu saja tidak. Kami baru membuatnya semalam," ucapnya pada diri sendiri. Setelah merasa lebih baik, Jovanka keluar dari kamar mandi, dia begitu terkejut melihat Luke berdiri di depan kamar mandi dengan wajah panik.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.


Jovanka menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Dia tidak ingin Luke khawatir. "Aku baik-baik saja!"


"Kenapa wajahmu sangat pucat?" Luke menyentuh wajah wanitanya dan memeriksanya dengan seksama.."Kau pasti kelelahan, sebaiknya kita pulanng!" Luke meraih tangan Jovanka dan menggandengnya keluar dari bioskop. Namun Jovanka tidak setuju dengan ajakan Luke, wanita cantik itu menghentikan langkahnya sehinga Luke turut berhenti dan kembali menatap Jovanka.


"Kenapa? Kau mau di gendong?"


Jovanka terkekeh, dia seperti melihat Luke dengan versi terbaik darinya. Luke benar-benar seperti orang yang berbeda. Sorot matanya yang begitu kelam kini terlihat berbinar, wajahnya yang selalu muram kini lebih cerah dengan senyum indah yang menghiasi wajah tampannya.


"Aku belum mau pulang. Aku masih ingin bersamamu. Kapan lagi kita bisa memiliki waktu seperti ini?"


"Tapi wajahmu sangat pucat. Aku khawatir kau sakit Jov!"


"Aku baik-baik saja. Jujur, aku mual karena melihat adegan berdarah tadi," karena tak ingin membuat Luke khawatir, Jovanka memilih jujur dan mengatakan yang sebenarnya.


Luke meraup wajahnya dengan kasar, pria itu lalu meraih kedua tangan Jov dan mengecupnya dengan lembut. "Girl, i'm so sorry. Seharusnya aku bertanya dulu film apa yang ingin kau tonton. Maafin aku Jov," ujar Luke penuh sesal.

__ADS_1


"No, kau tidak salah. Aku baik-baik saja sekarang. Mungkin kedepannya, kita bisa nonton film dengan genre romantis," jawab Jovanka, dia benar-benar tak ingin membuat Luke berkecil hati hanya karena sebuah film.


"Aku akan memperbaikinya. Oh ha, bagaimana kalau makan? Kau pasti lapar kan?" ajak Luke dan Jovanka langsung setuju. Keduanya saling bergandengan tangan dan mengunjungi sebuah restoran Jepang yang ada di mall tersebut.


Wajah Jovanka kembali berbinar melihat pesanannya datang, dia sudah tidak sabar menyantap makanan kesukaannya, beef teriyaki. Namun sebelum Jov malam, Luke lebih dulu memilah daun bawang yang ada di atas makanan Jovanka, hal tersebut tentu saja membuat Jovanka sangat tersentuh karena Luke begitu perhatian dan tau jika Jovanka tidak suka daun bawang.


Tunggu sebentar....


Dari mana Luke tau Jovanka tak menyukai daun bawang? Jovanka mulai penasaran karena dia tidak pernah mengagakan hal ini sebelumnya.


"Luke dari mana kau tau aku tidak suka daun bawang?" tanya Jovanka seraya menatap Luke penuh tangan.


Luke terdiam sejenak, lalu pria itu kembali memisahkan daun bawang tersebut. "Desy yang memberitahuku," jawabnya begitu tenang.


"Oh, pantas saja!"


"Hem," Jovanka tersipu, jantungnya hampir melompat keluar saat Luke mengusap kepalanya. Oh Tuhan, bagaimana bisa manusia kutub seperti Luke tiba-tiba berubah menjadi pria yang sangat manis hanya dalam waktu semalam.


Keduanya menikmati malam dengan tenang, sesekali Luke menyeka bekas saus di sudut bibir Jovanka. Jovanka merasa melayang, dia tak percaya Luke bisa seromantis ini.


Setelah makan malam, mereka berkeliling pusat perbelanjaan agar makanan mereka mudah di cerna. Saat melewati toko tas mewah langganannya, Jovanka behenti sebentar dan menatap koleksi baru mereka penuh damba.


"Oh gosh, tasnya sangat cantik. Aku ingin membawanya pulang," batinnya.


"Kau ingin beli tas? Masuklah, aku akan membelikannya untukmu?" ucap Luke saat menyadari Jovanka begitu serius menatap salah satu tas di toko tersebut.


"Tidak. Aku hanya ingin lihat saja. Mereka tidak punya produk terbaru,' sangkal Jovanka dengan halus,.dia hanya tidak mau Luke menghamburkan uangnya demi membelikan tas mahal. Bukannya merendahkan Luke, namun gajinya sebagai bodyguard saja tidak cukup, bagaiman dia akan membelilan tas untuk Jovanka.

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Luke memastikan, terlihat jelas jika Jovanka sedang berbohong.


"Sangat yakin. Sebagai gantinya, belikan aku ice cream itu," Jovanka menunjuk sebuah gerai penjual ice cream yang sedang viral, karena di mana ada ruko kosong maka akan di tempati oleh gerai asal negara Tirai Bambu.


"As your wish girl!"


Jovanka menikmati ice cream nya di sebuah taman yang berada luar pusat perbelanjaan. Wanita cantik itu begitu menikmati ice creamnya karena selam ini dia menahan diri dari godaan ice cream dan beberapa makanan enak lainnya.


'Jangan mengadu pada Desy ya," pinta Jovanka, dia tak ingin mendengar ocehan Desy karena makan makanan yang di larang oleh Desy.


Luke hanya mengangguk, beberapa bulan bekerja sebagai pengawal Jovanka dia merasa cukup mengerti. Selama ini Jovanka selalu diet ketat untuk menjaga bentuk tubuhnya. Jovanka selalu menahan diri menikmati makanan favoritnya.


"Terima kasih Luke," ucap Jovanka dengan wajah bahagai. Luke begitu senang melihat kebahagiaan di wajah Jovanka.


Tatapan Luke tertuju pada sisa ice cream yang menempel pada bibir Jovanka. Luke mendekat dan menyeka bobir Jovanka. Namun di luar prediksi, Luke tidak menyekanya dengan tangan, pria itu membersihkan noda di bibir Jovanka dengan bibirnya.


Jovanka mematung dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Namun bukan Jovanka Janzsen namanya jika dia tidak iseng. Jovanka dengan sengaja mengotori bibirnya dengan ice cream.


"Bersihkan ini juga Luke," pintanya seraya menunjuk mulutnya yang belepotan.


"Cepat Luke atau aku akan menyuruh pria lain untuk membersihkannya?"


Sepertinya ancaman Jovanka berhasil, Luke kembali mencium bibir Jovanka. Namun kali ini Jovanka tak bisa mehan diri dan melumatt bibir Luke dengan mesra.


"Apa yang kalian lakukan disana? Kalian sedang mesyummm ya!"


Pritttt.....

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2