
"Apa ini malam pertama kita?" ucap Luke dengan suara menggoda.
"Mm, kenapa memangnya?" jawab Jov pura-pura polos.
"Aku menginginkannya!" bisik Luke dengan suara serak. Jovanka tersipu malu, meski mereka permah melakukannya namun Jovanka dalam kondisi tidak sadar waktu itu. "Boleh kan?" tanya Luke dengan tatapan yang begitu menghanyutkan. Jovanka lalu mengangguk. Luke tersenyum, pria itu lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Jovanka tak mau kalah, dia membalas ciuman suaminya, lidah mereka saling membelit, suara decapan memenuhi kamar pengantin mereka.
Tangan Luke mulai bergerak liar, mulai dari memijat dadaaa sang istri hingga membelai semua lekuk tubuh istrinya. Dan entah sejak kapan, Luke berhasil melepas semua pakaian Jovanka. Luke melepaskan ciumannya, pria itu menatap tubuh polos Jovanka penuh damba.
"Jangan di lihat, aku malu," ujar Jovanka seraya menutupi dua asetnya.
Luke menarik tangan Jovanka dan menahannya. "Kenapa harus malu, aku sudah pernah melihatnya!"
Jovanka tersipu dengan wajah merona, jantungnya berdebar saat Luke mulai mencumbunya dengan mesra. Jovanka menggigit bibir bawahnya, sensasi yang Luke berikan sungguh membuatnya melayang.
"Ah, Luke...."
"Kenapa sayang?"
"Kau membuatku gila!" erang Jovanka saat Luke memainkan pucuk dadaanya yang mengeras. Tak sampai di sana, Luke mulai bergerak turun dan berakhir di lembah milik istrinya. Luke sangat pandai membuat Jovanka mendesaaah, pria itu memainkan inti Jovanka dengan lidahnya.
Luke lalu melepas semua pakaiannya, pria itu lalu memposisikan tubuhnya dan bersiap untuk memasuki istrinya. "Aku akan melakukannua dengan pelan," ucap Luke dengan lebut, dalam sekali hentakan dia berhasil memasuki inti istrinya.
Jovanka mengerang, mulutnya merancau saat Luke mulai menggerakan tubuhnya. Permainan Luke memang terkesan pelan, namun Jovanka melayang di buatnya. Tangannya meremas rambut Luke dan matanya terpejam menikmati setiap sentuhan sang suami.
__ADS_1
"Honey, kau sangat memabukan," rancau Luke dengan pinggang yang terus bergerak, keringat mulai membasahi tubuh mereka, namun belum ada tanda-tanda Luke akan mengakhiri permainannya.
Luke melepas penyatuan mereka, dengan hati-hati dia membalik tubuh Jovanka sehingga wanita itu kini memunggunginya. Bongkahan bokong yang sintal membuat Luke semakin tergoda, tak ingin menunggu lama dia segera memasuki istrinya dari belakang.
Luke semakin mempercepat gerakannya saat dia merasa sesuatu akan meledak di dalam tubuhnya. Luke mengerang, mendesaah dan merancau memanggil nama Jovanka saat pria itu berhasil mencapai puncaknya.
"Terima kasih sayang," ucap Luke seraya mengecup kening Jovanka, permainan panas mereka akhirnya berakhir. Jovanka hanya mengangguk dan begitu nyaman di pelukan sang suami. Namun netranya tiba-tiba memanas melihat begitu banyak bekas luka di tubuh suaminya.
Jovanka membelai bekas luka di dada Luke, meski luka itu telah mengering namun Jovanka seolah bisa merasakan kesakitan yang Luke alami. "Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Jovanka dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm, seseorang yang kecewa dengan negaranya," jawab Luke ambigu. "Luka ini aku dapat ketika aku masih menjadi tentara. Aku mendapat misi menangkap seorang *******. Karena kurang hati-hati, dia berhasil menggores dadaku dengan parang. Aku mendapat sekitar dua puluh jahitan waktu itu," sambung Luke dengan senyum di bibirnya. Entalah, meski dia menceritakan peristiwa yang menyakitkan, namun Jovanka bisa melihat kebahagiaan di mata Luke saat pria itu menceritakan kisah masa lalunya.
"Pasti sangat sakit," ucap Jovanka.
"Hem, aku bahkan menangis waktu itu. Apalagi momy terus mengomeliku, beliau yang menjahit luka ini!"
"Ya. Momy bahkan menyuruhku berhenti menjadi tentara!"
"Jangan pernah terluka lagi. Aku tidak mau melihatmu terluka," Jovanka memeluk tubuh Luke dengan erat.
"Hem, aku janji," ujar Luke seraya mengecup kening istrinya.
Sementara itu, di belahan dunia lain. Seorang pria paruh baya sedang duduk sambil menghisap cerutunya. Di hadapannya, beberapa anak buahnya berlutut dengan kondisi yang mengenaskan. Mereka baru saja di pukuli karena gagal melakukan tugas mereka. Ya, pria itu adalah Wilson, dia begitu murka saat mengetahui jika Luke masih hidup dan berkeliaran di luar sana. Apalagi saat Morgan memberitahunya jika Luke hidup dengan nyaman.
__ADS_1
"Menangkap satu tikus kecil saja kalian tidak becus!" geram Wilson dengan tatapan penuh kemarahan. Dia ingin segera membunuh Luke karena Luke adalah ancaman besar untuknya. Jika Luke mengungkapkan bukti kejahatannya, maka semua yang dia miliki akan hancur berkeping-keping.
Dahulu Luke adalah bawahannya yang paling dia banggakan, di usia yang masih muda Luke berhasil menjadi seorang kapten tim. Namun, Wilson mulai terganggu saat Luke diam-diam menyelidiki kasus penyelundupan tanpa sepengetahuannya. Wilson merasa terancam karena Luke adalah pria yang sangat cerdas, sebelum kejahatannya di bongkar oleh anak buahnya sendiri, Wilson bertekad untuk melenyapkan Luke. Namun sayangnya Wilson tidak bisa melakukan itu karena Luke menyimpan bukti yang sudah di kumpulkan oleh Andreson.
"Geledah rumahnya, jika kalian tidak bisa menemukan bukti itu, kalian boleh menghancurkan rumah itu!" titah Wilson, dia sungguh muak bermain-main dengan Luke, dia ingin segera mengakhirinya.
Beberapa hari kemudian Andrew dan anak buahnya sudah berada di Amerika, mereka terkejut saat melihat beberapa orang tengah mengobrak-abrik rumah milik Luke. Andrew terpaksa mundur dan melaporkannya kepada Jimmy.
Jimmy kembali mendiskusikannya dengan Luke, akhirnya mereka sepakat untuk mengirim Luke ke Amerika. Biar bagaimanapun hanya Luke yang mengenal seluk beluk rumah orang tuanya, mungkin saja Luke akan menemukan bukti itu jika dia kembali mencarinya.
Tentu saja Luke tidak sendiri, dia akan di temani oleh Josh dan beberapa anak buah Jimmy. Meski Josh masih belum bisa menerima Luke, namun dia tidak ingin keluarganya terluka. Akhirnya Josh terpaksa membantu Luke menyelesaikan masalahnya.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu pergi," tegas Jovanka dengan lantang, dia tidak mau Luke terluka jika dia nekat pulang ke negaranya.
"Jov, aku harus pergi. Aku janji aku akan kembali, aku akan menjaga diriku!" Luke tetap memohon pada istrinya.
"Tidak Luke, kau tidak boleh pergi!!"
Luke menggenggam tangan Jovanka dengan erat, pria itu menatap istrinya penuh kasih sayang. "Aku harus segera mengakhiri semua ini sayang. Aku ingin hidup tenang bersamamu dan anak kita! Aku ingin mendapatkan lagi identitasku agar aku bisa memiliki pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakanmu!"
"Kau tidak perlu bekerja Luke!"
"Aku tau, kau memiliki bayak uang Jov. Tapi aku sungguh ingin membahagiakanmu, aku ingin memulihkan nama baikku dan dadyku. Aku ingin menemukan keberadaan momy dan mencari tau apakah kakakku masih hidup! Aku ingin mengakhiri semuanya dan memulainya denganmu!" Luke terus membujuk istrinya. Perlahan pertahanan Jovanka mulai runtuh, dia tidak boleh egois meskipun dia tau jika dia mengizinkan Luke pergi sama artinya dia harus bersiap untuk kehilangan Luke selamanya. Jovanak tau di luar sana begitu berbahaya, namun dia harus melepaskan suaminya demi memperbaiki nama dan kehormatannya.
__ADS_1
"Pergilah dan temukan keadilan untukmu dan mendiang ayahmu!"
BERSAMBUNG...