
Jovanka terlihat begitu berbeda, wanita itu menggunakan pakaian yang tertutup dan tak memamerkan lekuk tubuhnya. Jovanka sengaja memakai baju yang sopan karena dia akan menghadiri acara pembacaan naskah dan perkenalan dengan pemain yang lain.
Luke tersenyum simpul melihat dandanan Jovanka yang terlihat begitu elegan, meski tak memamerkan keseksiaannya namun wanita itu masih terlihat sangat cantik. Rambut panjangnya dia ikat ekor kuda menampilkan leher jenjangnya.
"Bagaimana penampilanku Luke? Apa aku sudah sesuai dengan tipemu?" tanya Jovanka seraya memutar tubuhnya, namun di putaran terakhir sepatunya tergelincir dan membuat tubuh wanita itu terhuyung, untung saja Luke dengan sigap menangkap tubuhnya sehingga Jovanka tidak terjelembab ke lantai.
Untuk seperkian keduanya terpaku dalam posisi Luke memeluk pinggang Jovanka, netra keduanya saling beradu dan tanpa sadar keduanya saling mengagumi keindahan masing-masing. Tatapan mata Luke membuat jantung Jovanka berdebar-debar.
"Hati-hati nona," ucap Luke setelah kesadarannya kembali, pria itu segera melepaskan pelukannya.
"Hem, terima kasih," jawab Jovanka gugup. Begitu sering Luke melihat sikap cerobohnya sehingga Jovanka tak begitu malu lagi. "Ayo kita berangkat!"
Kedatangan Jovanka di tempat pembacaan naskah di sambut hangat oleh Mister Serkan, keduanya lalu berbincang sejenak sambil menunggu pemeran yang lainnya datang. Sementara itu Luke duduk tak jauh dari Jovanka sambil mengamati sekeliling, meski Windy sudah di amankan namun Luke tetap khawatir terjadi sesuatu pada Jovanka.
Satu persatu pemain pendukung mulai datang, Jovanka mencoba untuk akrab dengan beberapa artis senior yang menjadi pemain pendukung di film pertamanya. Keramah tamahan Jovanka hilang seketika setelah kedatangan seorang pria yang tak asing lagi baginya.
"Lama tak bertemu Jov?" ucap pria itu seraya mengulurkan tangan ke arah Jovanka.
Jovanka enggan untuk menyalami tangan pria itu, namun dia harus menjaga imagenya yang terkenal ramah tamah. "Hem, bagaimana kabarmu Steve?" jawab Jovanka dengan senyum terpaksa.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" jawab pria bernama Steve yang masuk ke dalam jejeran mantan pacar Jovanka yang jumlahnya hampir selusin.
"Syukurlah. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jovanka basa-basi, sebenarnya dia sudah sangat kesal melihat tampang sok kegantengan mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Mister Serkan belum memberitahumu ya, aku pemeran utama pria di film ini!"
"What?" Jovanka terlonjak kaget, matanya kini membelalak dan bola matanya hampir melompat keluar. Mana mungkin dia beradu akting dengan mantan kekasihnya. Namun Jovanka juga tidak mungkin mundur, dia harus profesional dalam bekerja.
"Kenapa Jov? Kau keberatan?" tanya Steve seolah bisa membaca isi kepala Jovanka.
"Tentu saja tidak Steve, aku justru senang bisa beradu akting dengan aktor terkenal sepertimu," ujar Jovanka bohong, bagaimanapun dia harus bersikap baik pada mantan kekasihnya agar tidak di persulit saat syuting.
Dua jam kemudian akhirnya pembacaan naskah selesai, Jovanka segera keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan rekan rekannya. Namun saat dia hendak masuk ke dalam mobil tangannya di tahan oleh Steve. Luke yang melihat hal itupun segera menghampiri Jovanka dan menepis tangan Steve dengan kasar.
"Santai bro," ujar Steve seraya mengangkat kedua tangannya.
"It's okay Luke, dia temanku," ucap Jovanka.
"Siapa dia Jov?" tanya Luke seraya menatap kesal ke arah Luke, kedua pria itu saling beradu pandang dengan sorot mata yang sangat tajam, setajam pisau mamakku di dapur.
"Dia Bodyguardku," jawab Jovanka apa adanya, ingin rasanya dia memperkenalkan Luke sebagai kekasih, namun Jovanka yakin Luke pasti akan kesal.
"Ah, aku pikir kekasih barumu!"
"Ada apa kau menahanku?" Jovanka bertanya dengan malas, dia ingin segera pulang dan istirahat.
"Aku ingin mengajakmu dinner babe," ajak Steve dengan senyum yang terlihat menakutkan.
__ADS_1
"Maaf Steve aku masih ada pekerjaan. Aku duluan ya," tanpa menunggu persetujuan Steve, Jovanka langsung masuk ke dalam mobil dan Luke dengan cepat mengendarai mobilnya meninggakan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang Jovanka tampak gelisah, wanita itu hanya diam namun kuku kukunya saling memantik mengusik pendengaran Luke.
"Kenapa nona?" tanya Luke tanpa menoleh, meski demikian dia bisa mengetahui jika Jovanka sedang gelisah.
"Aku tidak nyaman dengan Steve, dia mantan kekasihku Luke," jawab Jovanka dengan jujur, Luke cukup terkejut karena majikannya begitu terbuka dengannya.
"Hm, lalu anda akan mundur?"
"Tidak mungkin Luke, aku harus profesional dalam bekerja. Hanya saja aku merasa takut!"
"Kenapa anda harus takut?"
"Steve , dia begitu terobsesi kepadaku Luke. Hubungan kami berakhir karena dia sangat posesif dan mengekangku. Aku tertekan dan memutuskannya. Tapi dia tidak terima dan terus saja datang ke mansion!"
Luke mengerti kekhawatiran Jovanka, wajar saja jika wanita itu takut dengan mantan kekasihnya. "Anda tenang saja, saya akan melindungi anda!"
Jovanka menoleh dan tersenyum, setidaknya dia memiliki Luke sehingga Steve tidak akan berani mengganggunya. "Terima kasih Luke!" ucapnya tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi tugasku untuk melindungi anda!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1