My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Hadiah baby JV


__ADS_3

"Kate, tidak bisakah kita kembali bersama?" tanya Jimmy dengan tatapan yang begitu teduh namun terlihat serius.


Katherine hanya diam, jauh di lubuk hatinya masih tersimpan nama sang mantan suami, namun dia juga belum bisa melupakan saat Jimmy mengingkari pernikahan mereka dan berselingkuh dengan wanita yang lebih muda.


"Kau tidak perlu menjawabnya Kate," ujar Jimmy dengan senyuman penuh kekecewaan. "JV tidur, apa aku taruh di box bayi saja?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya taruh saja di sana!"


"Selamat malam Kate," ucap Jimmy setelah menidurkan cucunya di dalam box bayi, Jimmy lalu keluar dari kamar itu dan harus segera pulang ke apartemennya. Semenjak Katherine tinggal di mansion utama, pria paruh baya itu memutuskan tinggal di apartemen karena tidak mau membuat Katherine tidak nyaman jika dia tetap tinggal di mansion.


Setelah Jimmy pergi, Katherine berdiri di balik jendela, dengan sedikit menyingkap tirai, dia bisa melihat mobil Jimmy meninggalkan mansion tersebut. "Apa kau benar-benar sudah berubah?" tanyanya bermonolog.


Siang ini, Jo dan Anne membawa baby Van ke mansion utama, mereka juga datang bersama Maggie Zantman karena wanita tua itu tidak sempat ke rumah sakit saat Jovanka melahirkan.


Melihat kedatangan Maggie, Jovanka segera menghampiri wanita tua itu dan memeluknya. "Oma, kenapa baru datang? Ck, tega sekali oma tidak menjengukku di rumah sakit," oceh Jovanka dengan bibir mencebik.


Maggie melepaskan pelukan Jovanka, dia lalu mencubit bibi Jovanka yang mencebik. "Ck, gadis nakal. Oma kemarin sibuk, jadi oma tidak bisa datang," jawab Maggie.


"Aku hanya bercanda oma, aku tau nyonya besar seperti anda pasti selalu sibuk!"


"Dasar bocah nakal," Maggie kembali mencubit Jovanka, mereka memang sangat dekat semenjak Maggie akur dengan Anne. Maggie sangat menyukai Jovanka karena wanita itu sangat humoris dan selalu menghidupkan suasana. "Dimana cucu buyutku?" tanya Maggie karena tidak melihat baby JV.


"Disini oma," sahut Katherine, wanita itu menuruni tangga sambil menggendong cucunya.


"Apa aku boleh menggendongnya?"


"Tentu saja," Katherine lalu memindahkan JV ke dalam pelukan Maggie Zantman.


"Dia sangat mirip dengan Lucas," gumam Maggie seraya menatap wajah mungil JV.


"Dia mirip sepertiku oma, dia memiliki mata biru yang indah sepertimu," sahut Jovanka tak terima karena hampir semua anggota keluarganya mengatakan jika JV sangat mirip dengan Luke.


"Semoga kau tak menuruni sifat konyol momy mu ya," ucap Maggie kepada JV.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Maggie Zantman, mereka juga berharap JV tidak menuruti sifat keras kepala sang momy.


"Andrew, mana hadiah yang aku siapakan untuk JV!"


Andrew lalu menghampiri Jovanka dan memberikan sebuah dokumen kepada Jovanka.

__ADS_1


"Apa ini oma?" tanya Jovanka penasaran.


"Villa untukmu, letaknya ada di Bali. Dulu aku berjanji akan memberimu villa saat kau menikah. Jadi aku berikan saja untuk JV!" jelas Maggie.


"Tidak oma, ini terlalu besar. Aku tidak mau menerimanya," Jovanka menolak, dia mengembalikan dokumen tersebut kepada Andrew lagi.


"Abel dan Van juga mendapatkannya Jov. Letak villa itu berdekatan. Tolong jangan tolak niat baik wanita tua ini!"


"Tapi oma!"


"Kau mau membuatku sedih?" ancam Maggie Zantman.


Jovanka kembali menerima dokumen tersebut. "Baik oma, aku akan menerimanya. Terima kasih!"


Maggie tersenyum senang. Setelah kepergian Lynda, dia memikirkan banyak hal. Sebelum dia wafat, dia ingin membahagiakan keluarganya. Dia ingin menikmati sisa hidupnya bersama orang-orang terkasihnya. Meski Jovanka tak memiliki hubungan darah dengannya, namun dia sudah menganggap Jovanka sebagai cucunya sendiri sehingga dia juga menyiapkan sebuah villa untuk JV.


Di tengah keramaian, Katherine memilih duduk sendiri di taman belakang. Entah mengapa ucapan Jimmy sedikit mengganggunya.


Maggie melihat Katherine duduk sendirian lalu menghampirinya, dia ingin tau apa yang membuat Katherine terlihat gelisah.


"Apa yang kau pikirkan Kate?" tanya Maggie seraya duduk.di samping Katherine.


"Oma," Katherine menoleh dan tersenyum melihat Maggie.


Katherine menghela nafas berat, sepertinya dia memang butuh solusi dari seseorang. "Jimmy mengajakku rujuk oma," aku Katherine.


"Benarkah? Lalu apa yang membuatmu ragu?"


"Kami bercerai karena Jimmy berselingkuh. Aku takut dia akan melakukan hal yang sama lagi," ujar Katherine mencurahkan isi hatinya.


"Apa kau masih mencintainya?" Maggie bertanya seraya menatap Katherine.


"Hampir 30 tahun kami bersama-sama, bohong jika aku bilang aku sudah melupakannya oma!"


Maggie meraih tangan Katherine dan menggenggamnya. "Aku tau aku tidak berhak ikut campur. Tapi sebagai orang tua yang pernah melakukan kesalahan besar, aku rasa tidak ada salahnya kau memberikan kesempatan pada Jimmy. Aku yakin dia pasti menyesali perbuatannya. Aku yakin dia juga terisksa dengan kesalahan yang dia perbuat. Pikirlan baik-baik Kate!"


Setelah memberi nasehat, Maggie kambali ke dalam mansion dan membiarkan Katherine berpikir secara jernih.


.

__ADS_1


.


Mansion kembali sepi karena Zantman Family sudah pulang. Penghuni mansion berada di kamar masing-masing untuk beristirahat. Setelah JV tidur, Jovanka menghampiri Luke yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Apa yang sedang kau lakukan Luke?" tanya Jovanka seraya memijat pundak sang istri.


"Melanjutkan novelku Jov. Mister Serkan ingin aku membuat sekuelnya. Dan jika laris di pasaran dia akan memprosuksi filmnya lagi. Aku ingin kau kembali menjadi tokoh utama film tersebut jika novelku berhasil," jawab Luke penuh semangat.


"Kau tidak keberatan aku bekerja lagi?"


Luke menghentikan aktivitasnya, pria itu menarik tangan istrinya dan memangku istrinya. " Tentu saja tidak. Aku tau kau sangat menyukai pekerjaanmu!" Luke berusaha bersikap bijak, dia tidak ingin menjadi suami yang egois dan memaksa Jovanka untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurung diri di dalam rumah.


"Lalu bagaimana dengan JV?" Jovanka juga ingin kembali bekerja, namun dia memikirkan nasib anaknya jika di tinggal syuting.


"Ada aku, ada momy, ada Frey yang akan menjaga JV. Aku tidak akan melarangmu bekerja, asal kau tidak kelelahan dan tidak memaksakan diri!"


Jovanka memeluk Luke dengan erat, dia tak menyangka Luke memiliki pikiran yang begitu terbuka. Dia pikir Luke akan menyuruhnya di rumah merawat JV dan dirinya. "Terima kasih banyak Luke. Aku akan kembali bekerja, tapi aku akan membatasi pekerjaanku agar aku memiliki waktu bersamamu dan juga JV!"


"Apapun yang kau lakukan, aku akan mendukungmu!"


Jovanka lalu melepaskan pelukannya, dia memberi hadiah kecil berupa kecupan singkat di bibir sang suami. "Aku mencintaimu Luke!" ungkapnya tulus.


"Aku juga sangat, sangat, sangat mencintaimu!"


Jovanka tersenyum, dia sangat senang setiap kali mendengar pengakuan cinta dari sang suami.


"Oh ya, apa momy Martha jadi datang kemari?" tanya Jovanka setelah mengingat ibu mertuanya.


"Ya, momy sudah ada di dalam pesawat sekarang!"


"Syukurlah. Oh ya Luke, apa momy Martha tidak marah karena kita tidak memakai nama Andreson di belakang mama JV?"


Luke menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak. Justru momy yang melarangnya!"


"Maksudmu?" tanya Jovanka penasaran.


"Sebelum kau melahirkan aku pernah menghubungi momy dan momy berpesan agar aku tidak perlu membubuhkan nama Anderson di belakang nama anak kita. Kata momy, keluarga Andreson telah tiada bersama dengan perginya dady. Momy tidak ingin kisah pahit keluarga Anderson di kenang, jadi dia menyuruhku untuk menyematkan marga Janzsen alih-alih Anderson!"


"Momy pasti sangat trauma dengan kejadian itu Luke!"

__ADS_1


"Ya, aku rasa momy tidak akan pernah bisa melupakan peristiwa menyakitkan itu!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2