My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Alpha Tim


__ADS_3

Kapten Lucas Robbert Anderson adalah tentara pasukan khusus Angkatan Darat Amerika yang memimpin kelompok khusus bernama Tim Alpha yang terdiri dari lima tentara, termasuk dirinya sendiri. Lahir di tengah keluarga militer membuat Lucas mengikuti jejak sang ayah yang juga merupakan seorang Perwira Tinggi di militer, sementara sang ibu adalah seorang Dokter Bedah yang bertugas di rumah sakit militer. Lucas adalah pria yang sangat ramah, percaya diri dan memiliki banyak keahlian, salah satunya adalah menguasai ilmu kedokteran meski dia bukan lulusan Fakultas Kedokteran. Keahlian tersebut tentu saja dia pelajari dari sang ibu saat dia memiliki waktu luang.


Lucas memiliki seorang kakak bernama Charli, namun sang kakak memilih menjadi seorang pengusaha dan tidak tertarik menjadi seorang tentara. Kehidupan Lucas sangat bahagia, dia di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Meski sang ayah mendidiknya dengan keras, namun Lucas mewarisi hati lembut dari sang ibu. Hubungan Lucas dan Charli juga sangat dekat, Charli sangat menyayangi adik satu-satunya itu.


Suatu malam, Lucas mendapatkan telefon dari atasannya. Tim Alpha menerima misi khusus, mereka di tugaskan untuk menggagalkan penyelundupan senjata di perbatasan.


"Apa kau akan berdinas lagi Luke?" tanya sang ibu saat melihat putranya berkemas, Luke adalah nama panggilan yang di berikan oleh ibunya, Lucas sama sekali tak keberatan tentang itu.


"Ya mom," jawab Lucas sambil tersenyum.


"Besok adalah ulang tahun dady, apa kau tak bisa menunda kepergianmu?"


"Tidak mom. Aku akan pulang sebelum pesta di mulai!"


Mendengar percakapan adiknya dan sang ibu, Charli turun dan menghampiri mereka.


"Kau berdinas lagi? Misi rahasia lagi?" tanya Charli.


"Ya!"


"Kali ini kemana? Ke luar negeri?"


"Rahasia kak!"


"Ck, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kau tertembak!" ujar Charli seraya tersenyum.


Sebelum berangkat, Lucas memeluk ibunya dengan erat, rasanya begitu berat meninggalkan ibunya, namun Lucas harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai ketua tim.


Lucas berkumpul bersama keempat anggotanya di markas mereka. Sebelum berangkat mereka membicarkan stategi yang akan mereka lakukan dalam operasi kali ini.


"Kita harus waspada, mereka adalah anggota Black Bloods yang menguasai kota New York. Mereka memiliki senjata api, granat bahkan bom," jelas Lucas seraya menunjukan beberapa foto aggota mafia tersebut.


"Apapun yang terjadi, kita harus menangkapnya!"


Keesokan harinya Tim Alpha berangkat ke perbatasan. Mereka memasang berbagai macam jebakan, setidaknya meski Tim Alpha tidak berhasil menanggap anggota Black Bloods, mereka harus bisa menggagalkan penyelundupan senjata dan bisnis gelap mereka.


"Sasaran mendekat," salah satu anak buah Lucas melapor.


"Bersiap! Tembak dalam hitungan ketiga! Satu... Dua... Tiga, tembak!"


Dor...dor...dor...


Truk yang di duga membawa senjata oleng setelah ban nya tertembak, truk tersebut kehilangan kendali dan terguling, seluruh badan truk melintang menutupi jalan raya.

__ADS_1


"Sergap!" titah Lucas. Dengan kewaspadaan penuh, kelima anggota Tim Alpha mulai mendekati truk yang terguling. Lucas menyergap ke arah kemudi truk, dia membuka pintu truk dan mendapati sang supir terluka parah.


Lucas menodongkan pistoll ke arah supir seraya memeriksa kondisi supir tersebut. "Supir terluka. Tetap waspada, supir hanya sendiri, aku yakin kita masuk ke dalam jebakan!"


Dor...dor...dor...


"Arrghh," salah satu anggota Lucas tertembak di lengan kirinya, Lucas segera mengamankan rekannya, sementara ketiga lainnya mulai adu tembak dengan musuh. Persis apa yang di katakan Lucas, mereka masuk ke dalam jebakan musuh, tugas rahasia mereka pasti telah bocor sehingga Black Bloods mengetahui rencana mereka.


"Kita kalah jumlah," ucap salah satu anak buahnya.


"Lempar granatnya!"


Duaaarr....


Sebuah ledakan di iringi kabut tebal mengalihkan perhatian musuh, kesempatan itu Tim Alpha gunakan untuk menembak anggota Black Bloods.


Dor...


"Arrggg," erangan keras salah satu anggota Tim Alpha menggema di udara, Lucas menghampiri salah satu anggotanya yang mendapat tembakan di lengan. Lucas menoleh dan menggeram saat melihat mereka telah terkepung. Black Bloods benar-benar telah membuat Tim Alpha terjebak. Meskipun Tim Alpha menyerang, mereka hanya akan mati konyol karena kalah jumlah.


Dalam waktu begitu singkat Tim Alpha telah di kalahkan oleh Black Blood, kelima pasukan elit itu berlutut sambil mengangkat kedua tangannya. Melihat kedua rekannya terluka membuat Lucas merasa gagal sebagai seorang kapten.


Setelah di siksa habis-habisan, kelima pasukan khusus itu lalu di bawa ke sebuah ruang bawah tanah dan di masukan ke dalam penjara sempit dan gelap. Lucas tidak bisa berbuat apapun sementara kedua temannya mulai lemah karena kehabisan darah.


Lucas mendengar suara langkah kaki mendekat, tak lama kemudian seorang pria datang dan menyuruh anak buahnya untuk mengeluarkan Lucas dari dalam penjara.


"Hallo Kapten," sapa pria bertubuh tinggi besar dan memiliki tato gambar naga di melingkar di lehernya.


"Siapa kau?" tanya Lucas dengan tatapan membunuh.


"Aku?" pria itu menunjuk wajahnya sendiri. "Tidak penting siapa aku!" jawabnya dengan tawa menggelegar.


Di tengah ketegangan itu, beberapa anggota Black Bloods masuk membawa seorang pria paruh baya yang terikat dan mulut tertutup lakban. Mereka melempar tubuh pria itu ke arah Lucas. Lucas membelalakan matanya ketika mengenali siapa pria itu.


"Dad," pekik Lucas dengan suara tertahan, dia tak mengerti kenapa mereka juga menangkap ayahnya.


Salah satu dari mereka membuka lakban yang menutupi mulut tuan Anderson.


"Lucas, kau baik-baik saja nak?"


"Aku baik dad, apa yang terjadi. Kenapa dady ada di sini?"


"Mereka telah menjebakmu. Mereka merencanakan ini semua untuk melenyapkan Tim Alpha!"

__ADS_1


"Siapa mereka dad?"


"Black Bloods dan Kolonel Wilson!"


"What? Bagaimana mungkin?" Lucas begitu terkejut, bagaimana tidak, Kolonel Wilson adalah atasannya dan juga yang memerintahkannya untuk melakukan operasi rahasia ini.


Prok...prok...prok...


Sebuah tepuk tangan menggema di ruangan itu, Lucas dan ayahnya menatap pria yang tertawa dan berjalan ke arah mereka.


"Kolonel Wilson?" gumam Lucas, dia masih tak percaya jika atasannya benar-benar menjebaknya. "Kenapa anda melakukan ini?" tanya Lucas.


"Tanyakan saja pada ayahmu?" jawab pria paruh baya itu.


"Ada apa sebenarnya dad?"


"Selama ini dia bekerja sama dengan banyak kelompok mafia untuk menyelundupkan senjata, narkoba dan emas batangan. Dia tau jika dady sedang menyelidikinya, dia ingin menggunakanmu sebagai umpan agar dady menyerahkan semua bukti yang dady miliki. Tidak hanya itu, dia juga melakukan korupsi besar-besaran dan pencucian uang di luar negeri. Dia adalah mafia yang bersembunyi di balik seragam militer!" jelas Anderson panjang lebar.


"Kenapa dady tidak menyerahkan buktinya ke pihak berwajib?"


"Dady tidak bisa melakukannya. Mereka menyendera momy mu!"


"Damnn, lalu bagaimana kondisi momy dad?"


"Entah, dady juga tidak tau!"


"Karena kalian sudah tau keadaannya. Maka cepat serahkan bukti itu atau aku akan membunuh nyonya Anderson!"


Tuan Anderson bersikeras menutup mulutnya, pria itu tidak mungkin menyerahkan bukti tersebut kepada penjahat yang mengkhianati negaranya sendiri. Tuan Anderson memilih bungkam dan menerima siksaan dari Wilson yang merupakan rekan kerjanya di kemiliteran.


Wilson muak dan tidak sabar lagi, kemarahannya memuncak karena Anderson tetap diam meski sudah di siksa.


"Dad,' Lucas tak berdaya menyaksikan ayahnya di siksa, dia mencoba melawan namun tangannya terikat.


"Baiklah kalau kau tetap diam, lebih baik kau mati membawa rahasia besar ini!"


Dor....


Sebuah peluru menembus dada Anderson, pria itu terkapar dengan berlumuran darah. Lucas berteriak histeris, pria itu merangkak menghampiri tubuh dadynya.


"Tetaplah hidup dan bongkar kejahatan mereka. Aku menyimpan buktinya di tempat rahasia kita," ucapnya dengan tersenggal-senggal, perlahan Anderson mulai kehilangan kesadarannya dan pria itu meninggal tepat di hadapan putranya.


"Dady!" Lucas kembali berteriak, pria itu menagis sejadi-jadinya. Lucas menatap Wilson penuh dendam. "Aku akan membalasmu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2