My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Baby JV


__ADS_3

Malam pertama menjadi orang tua, Luke semalaman bergadang membantu Jovanka menjaga bayi laki-laki yang mereka beri nama Jayvee Luca Janszenz dan membiarkan istrinya beristirahat karena kelelahan setelah melahirkan.


Luke menimang bayi mungil itu di pelukannya, pria itu tak bosan-bosannya menatap sang bayi yang begitu menggemaskan. "JV, kelak kau harus menjadi pria yang kuat agar bisa melindungi momy," ucap Luke penuh doa dan harapan kepada putranya.


Jovanka yang tak sengaja terbangun melihat betapa sayangnya Luke kepada putra mereka. Jovanka bersyukur karena bertemu dengan pria sebaik Luke.


"Kenapa kau belum tidur Luke?" tanya Jovanka pelan, karena takut membangunkan JV yang berada di gendongan dady nya.


"JV haus jadi aku memberinya susu," jawab Luke berbisik.


"Dia sudah tidur, taruh saja di box bayi agar kau bisa tidur juga," kata Jovanka dan Luke mengangguk. Dengan hati-hati pria itu menaruh bayinya di box khusus bayi. Setelah itu Luke menghampiri istrinya.


"Kenapa kau bangun? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Luke penuh perhatian.


"Aku haus," ujar Jovanka.


Luke segera mengambil air minum dan memberikannya kepada sang istri.


"Terima kasih banyak Luke," ucap Jovanka setelah selesai minum.


"Hem. Bagaimana kondisimu? Apa kau merasa ada yang kurang nyaman?" tanya Luke khawatir.


Jovanka menggangguk pelan. "Bekas jahitannya terasa nyeri," keluh Jovanka.


Luke membelai wajah Jovanka pelan. "Itu hal yang normal sayang, setelah dua hari juga tidak akan terasa sakit lagi. Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apapun untuk mengurangi rasa sakitmu," ucap Luke dengan wajah sendu, jika bisa dia akan menggantikan rasa sakit yang Jov rasakan.


"Kau tidak perlu minta maaf, bukannya kau bilang rasa sakitnya akan segera hilang. Aku pasti bisa melewatinya. Bukankah aku hebat Luke?"


Luke mengangguk seraya mencium tangan sang istri. "Ya, kau sangat hebat. Tapi aku tidak ingin melihatmu kesakitan lagi. Aku tidak akan memintamu untuk hamil lagi!"


Jovanka terkekeh, saat merasakan dasyatnya kontraksi dia juga berpikir untuk tidak pernah hamil lagi. Namun melihat gemasnya baby JV mungkin dia akan memiliki bayi lagi setelah JV besar nanti.


.


.


Setelah dua hari menginap di rumah sakit, akhirnya Jovanka dan baby JV di perbolehkan pulang ke rumah. Sialnya, berita tentang Jovanka melahirkan bocor ke media sehingga saat mereka keluar dari rumah sakit mereka di hadang wartawan di lobby rumah sakit. Untung saja Josh sudah memperkirakan jika hal tersebut akan terjadi sehingga dia menugaskan beberapa orang untuk melindungi Jovanka dan bayinya.


"Jovanka, apa benar kau baru saja melahirkan?"


"Jov, apa jenis kelamin bayimu?"


"Jovanka, dimana suamimu? Apa dia tidak datang bersamu?"


Deg...

__ADS_1


Pertanyaan tersebut membuat Jovanka kurang nyaman. Jovanka lalu menghentikan langkahnya membuat Luke bingung.


"Ayo cepat!" bisik Luke tepat di telinga Jovanka.


Jovanka menempatkan dirinya di depan kamera wartawan. Wanita itu tersenyum ramah seperti biasanya. "Pertama-tama terima kasih karena teman-teman wartawan menyambut kepulangan saya dari rumah sakit. Seperti yang kalian tau, saya baru saya melahirkan seorang putra yang saya beri nama Jayvee, teman-teman bisa memanggilnya JV. Dan dimana suami saya?" Tanpa Luke duga, Jovanka meraih tangan Luke dan menggenggamnya. Tak sampai di sana, Jovanka mengangkat tangan mereka sehingga menjadi sorotan media. "Pria yang selalu bersama saya ini adalah suami saya. Lucas Robbert Anderson, beliau berdarah Amerika namun memutuskan tinggal di sini bersama saya!" Jovanka membuat pengumuman yang mengejutkan banyak pihak, siapa sangka jika model dan artis terkenal itu menikahi pengawalnya sendiri.


"Jov, bukankah dia pengawalmu? Bagaimana kalian bisa menikah?"


"Ya, dia memang pengawal saya. Atau lebih tepatnya mantan pengawal saya. Dan bagaimana kami biaa menikah, semua itu karena cinta. Apa kalian percaya tentang cinta?"


Tanpa ragu Jovanka menggandeng tangan Luke dan menarik suaminya menuju mobil. Semua orang masih sangat terkejut dengan pengumuman yang Jovanka buat.


Media pun semakin penasaran dengan sosok Lucas, mereka mulai menggali informasi mengenai suami Jovanka tersebut.


Entah siapa yang membocorkan identitas Luke, tiba-tiba media di gemparkan saat mereka mengetahui identitas Luke yang sebanarnya.


"Artis cantik Jovanka Janzsen menikahi mantan kapten pasukan elit militer Amerika. Bukan hanya itu, suami artis cantik itu memiliki latar belakang yang tidak main-main. Ayahnya di ketahui sebagai Jenderal di Satuan Militer Amerika dan ibunya seorang Dokter Bedah di rumah sakit militer."


Jovanka menatap Josh yang terlihat mencurigakan. Sejak dia pulang, Josh terlihat begitu bangga melihat berita Luke di televisi.


"Bukan kau pelakunya kan?" tanya Jovanka dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja bukan?" jawab Josh dengan gugup.


"Benarkah?" Jovanka berjalan ke arah sang kakak, sementara Josh terlihat salah tingkah. "Frey apa hukuman yang cocok untuk seorang pembohong?" tanya Jovanka seraya menatap Josh.


"Aish, kalian selalu saja mengancamku. Oke, oke, aku mengaku. Aku yang membocorkan identitas Luke. Tapi itu semua aku lakukan demi Luke. Aku tidak mau mereka merendahkan Luke karena dia mantan pengawalmu," aku Josh dengan wajah kesal.


"Jadi kau mengkhawatirkanku Josh?" tanya Luke dengan senyum jahil.


"Tentu saja tidak. Aku mencemaskan adikku. Dia pasti sedih kalau kau di hujat oleh nitizen!" kilah Josh.


"Apapun alasanmu aku sangat berterima kasih Josh," Luke tiba-tiba memeluk Josh dan membuat kakak iparnya itu geli dan mendorong tubuh Luke agar menjauh.


"Jangan sentuh aku, aku masih normal!" oceh Josh, pria itu lalu pergi dari tempat itu sebelum menjadi bahan lelucon oleh anggota.keluarganya.


"Jangan perdulikan dia Luke. Aku yakin dia sangat menyukaimu, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya!" ujar Frey seraya menatap kepergian sang suami.


.


.


Hari sudah gelap, Luke dan Jovanka bisa beristirahat karena JV di jaga oleh Katherine malam ini. Awalnya Luke menolak karena tidak mau merepotkan ibu mertuanya, namun Katherine bersikeras dengan alasan agar Luke dan Jovanka bisa beristirahat.


Luke dan Jovanka berada di atas ranjang, seperti malam-malam sebelumnya Luke selalu memijat kaki Jovanka meski kini Jovanka sudah melahirkan.

__ADS_1


"Kenapa kau mengakuiku di depan media?" tanya Luke penasaran.


"Karena aku ingin semua orang tau kalau aku memiliki suami yang tampan!" jawab Jovanka sambil tersenyum.


"Kau tidak malu?"


"Kenapa harus malu. Aku justru bangga memiliki suami sepertimu!"


Luke tersenyum dan mendekat ke arah Jovanka, pria itu lalu memeluk istrinua penuh kasih sayang. "Terima kasih sayang, aku berjanji akan selalu bersamamu!"


"Aku pegang janjimu Lucas!"


.


.


Sementara di kamar bayi, Katherine sedang menimang JV sambil memberi cucunya susu. Katherine sangat bahagia, karena di masa tuanya dia di kelilingi oleh anak-anak dan cucunya.


Pintu kamar JV sedikit terbuka sehingga Jimmy bisa melihat Katherine di dalam sana, Jimmy mengetuk pintu dan Katherine mengizinkannya masuk.


"Apa dia rewel?"tanya Jimmy.


"Tidak, dia hanya haus!" jawab Katherine seraya menunjuk botol berisi susu.


"Apa aku boleh menggendongnya?" pinta Jimmy ragu.


"Tentu saja, kau kan kakeknya!"


Jimmy tersenyum sekilas, dia lalu bersiap-siap saat Katherine memindahkan baby JV ke dalam pelukannya. Jimmy begitu gemas melihat baby JV yang terbangun dan seakan sedang menatapnya. "Kate, dia mirip sekali dengan Jov kecil. Astaga, lihatlah matanya, aku seperti sedang menimang Jovanka," ujar Jimmy antusias, tanpa sadar dia mengenang masa lalu saat mereka masih hidup bersama.


"Kau benar. Dia mirip Jovanka. Rasanya baru kemarin mereka menjadi bayi dan mereka sekarang sudah memiliki anak," jawab Katherine yang ikut mengenang masa lalu.


"Aku merindukan saat-saat itu Kate. Saat kita masih menjadi keluarga yang utuh," ujar Jimmy seraya menatap mantan istrinya.


"Bukankah kita masih keluarga sekarang?" jawab Katherine berusaha bersikap bijak, meski mereka telah berpisah namun mereka tetap harus menjalin hubungan baik demi anak-anak dan cucu mereka.


"Ya, kau benar. Maafkan semua kesalahanku Kate. Aku sangat menyesal. Kadang aku berpikir betapa bodohnya aku karena mengkhianatimu," wajah tua itu berubah menjadi sendu saat mengingat kesalahannya di masa lalu.


"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf karena dulu terlalu sibuk dengan duniaku sehingga aku mengabaikanmu!"


"Kau tidak salah. Akulah yang bersalah!"


"Jangan terus menyalahkan diri sendiri Jim. Aku senang karena kau menyadari kesalahanmu!"


"Kate, tidak bisakah kita kembali bersama?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2