
Keluarga Janszen kembali berkumpul dalam acara bahagia yaitu pernikahan Katherine dan Jimmy. Sebulan setelah mendapatkan restu dari Jovanka, keduanya mengelar pernikahan secara sederhana di sebuah gereja. Pernikahan tersebut hanya di hadiri anggota keluarga saja, mempelai sengaja tidak menyebar undangan karena mereka pikir cukup keluarga mereka yang mengetahui kabar bahagia tersebut.
Meski ini bukan pernikahan pertama mereka, namun Katherine dan Jimmy sama-sama terlihat gugup. Mereka seolah kembali ke masa lalu saat mereka akan mengucapkan sumpah pernikahan pertama mereka.
"Cium, cium!" teriak Jo, Josh dan Jovanka. Semua orang bersurak agar kedua mempelai berciuman setelah keduanya mengucapkan ikrar pernikahan dan kembali resmi menjadi pasangan suami istri.
Jimmy mendekatkan wajahnya. Meski tampak malu namun pria itu akhirnya mengecup bibir Katherine.
"Momy, kenapa Granma dan Granpa berciuman?" tanya Abel dengan polosnya.
"Karena Granma dan Granpa saling mencintai," jawab Frey dengan lembut.
"Kenapa momy dan dady tidak berciuman juga, apa momy dan dady tidak saling mencintai?"
Frey terkekeh, ibu muda itu lalu mencubit hidung sang putri. "Tanpa berciumanpun momy dan dady saling mencintai nak!"
"Oh begitu!"
Frey dan Josh tersenyum mendengar kepolosan putri mereka, siapa sangka gadis kecil itu kini telah pandai bicara.
Setelah acara pernikahan, keluarga Janzsen berkumpul di mansion utama untuk merayakan pesta kecil-kecilan atas rujuknya kedua mempelai. Jimmy dan Katherine terlihat begitu bahagia, begitupun dengan anak dan cucu mereka.
Jovanka menghampiri orang tuanya, wanita itu lalu memeluk Katherine. "Selamat mom, emoga momy selalu bahagia," ucap Jovanka dengab tulus.
"Terima kasih sayang, momy pasti bahagia karena memiliki kalian!"
Kini Jovanka beralih pada sang dady, dia juga memeluk dadynya. "Awas kalau dady berani macam-macam lagi, aku akan melubangi kepala dady!" ancam Jovanka dengan wajah serius.
Jimmy tersenyum mendengar ancaman putrinya. "Dady berjanji akan selalu membahagiakan momy dan tidak akan mengecewakan kalian lagi," ucap Jimmy tanpa keraguan.
Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu. Setelahnya mereka menikamati acara dan bersenang-senang. Kebahagiaan menyelimuti mansion besar tersebut. Suara canda tawa menggema, menjadikan rumah besar yang dulunya hampa kini penuh dengan cinta.
Malam semakin larut, semua orang telah kembali ke tempat masing-masing. Begitupun Jovanka dan Luke, setelah menidurkan JV keduanya kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Kira-kira momy dan dady sedang apa ya?" pertanyaan Luke tentu saja membuat Jovanka tertawa, bisa-bisanya Luke memikirkan apa yang sedang di lakukan oleh pengantin baru.
"Mungkin mereka sedang membuat adik baru untukku," jawab Jovanka sambil terkekeh.
Luke menarik Jovanka ke dalam pelukannya. "Apa kita juga akan membuat adik untuk JV?" tanya Luke dengan suara menggoda.
Jovanka mencubit perut Luke dengan gemas. "Jangan harap!"
"Ah come on baby. Aku sudah berpuasa seminggu lamanya. Apa tamu bulanan mu belum juga pergi," Luke menggerutu karena tidak mendapatkan jatah dari istrinya.
"Baru seminggu Luke. Dulu saja kau tahan sampai dua bulan!"
"Ck, kau tidak tau saja berapa banyak sabun yang ku pakai! Terpaksa malam ini aku bersolo karir lagi!" Luke melepaskan pelukannya, pria itu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Luke," panggil Jovanka dengan mesra.
Luke menoleh, pria itu tersenyum penuh arti saat melihat Jovanka melepas gaun malamnya dan memamerkan tubuh indahnya. Mata Luke berbinar seketika, pria itu berlari dan segera menerkam istrinya di atas tempat tidur.
"Akan ku buat kau mendesaaaah semalaman sayang!"
"Dengan senang hati Luke," Jovanka menjawab tantangan Luke dengan senyuman nakal.
Luke tak ingin menyiakan kesempatan tersebut, pria itu segera melumaaat bibir istrinya dengan penuh gairah. Selagi bermain-main dengan bibir Jovanaka, tangan Luke bergerak liar menjamah semua anggota tubuh sang istri. Meski Jovanka sudah pernah hamil dan melahirkan namun tak ada yang berubah dari tubuhnya. Jovanka tetap terlihat sexiii dan menggairahkan.
__ADS_1
Luke memposisikan tubuhnya dan siap melakukan penyatuan. Keduanya mendesaah, mengeraang dan mengejar puncak kenikmatan bersama-sama. Setelah cukup lama bermain, Luke mengerang panjang menandakan permainan panas mereka telah usai.
Luke ambuk di samping Jovanka dengan nafas memburu, pria itu tersenyum senang karena mendapatkan jatahnya malam ini. "Terima kasih sayang," ucap Luke seraya mengecup kening istrinya.
"Kau senang?" tanya Jovanka.
"Hem, aku sangat senang?"
"Kau mau lagi?" tantang Jovanka dengan tatapan menggoda.
"Tentu saja, apa kau tidak lelah?"
Jovanka menggelengkan kepalanya. Sebelum Luke menerkamnya, kini Jovanka lebih dulu menyerang Luke. Wanita itu berada di atas tubuh Luke dan mencium suaminya dengan mesraaa.
"Kali ini aku yang akan membuatmu tak berhenti mendesaaaah Luke!"
Keduanya kembali bergumul, namun kali ini Jovanka memimpin permainan panas mereka. Entah berapa jam mereka melakukannya, keduanya lalu terlelap setelah meraih kepuasaan bersama.
.
.
.
Dua bulan kemudian...
Film yang di bintangi Jovanka kembali meledak di pasaran, bahkan tiketnya terjual habis dan menjadi salah satu film dengan penjualan tiket terbanyak. Nama Jovanka semakin di kenal oleh masyarakat, selain karena bakat aktingnya yang tidak di ragukan lagi, Jovanka juga terkenal karena keramahan dan kedermawaannya. Kebaikan hati Jovanka di sorot media, setelah salah satu pemilik panti asuhan mengungkapkan jika Jovanka sudah menjadi penyumbang tetap selama bertahun-tahun. Karena prestasinya, Jovanka mendapatkan penghargaan sebagai artis wanita terbaik.
Dengan di dampingi sang suami, Jovanka menghadiri malam penghargaan tersebut. Wanita itu terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun panjang berwarna peach.
Jovanka naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. "Selamat malam semuanya," sapa Jovanka dengan senyum terbaiknya. "Terima kasih banyak untuk semua pihak yang telah mendukung saya sehingga saya bisa berdiri di atas panggung ini. Tanpa dukungan kalian semua, Jovanka Janzsen bukanlah apa-apa. Selanjutnya, saya ingin berterima kasih kepada suami saya, karena beliau selalu mendukung saya dan tidak pernah mengeluh meski saya harus membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dan terunjuk penulis JV, saya juga sangat berterima kasih, berkat karya emas beliau saya bisa berdiri di sini!" Ya, Luke memutuskan untuk tetap merahasiakan identitasnya, dia tidak ingin dunia tau tentang identitasnya. "Dan pada kesempatan hari ini saya juga ingin berpamitan kepada semua pihak, karena film Sweet Ending akan menjadi project terakhir saya di dunia hiburan. Saya memutuskan untuk pensiun dan fokus pada keluarga saya, terima kasih semuanya. Selamat malam!"
Hal yang sama juga di rasakan oleh Luke, dia sama sekali tak tau dengan keputusan Jovanka. Padahal selama ini Luke juga tidak keberatan meski Jovanka sibuk syuting karena wanita itu tetap memperhatikan keluarganya.
Setibanya di rumah, Luke mengikuti istrinya yang sedang berganti baju. Dia penasaran kenapa Jovanka memilih pensiun.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa kau tiba-tiba ingin pensiun?" cecar Luke.
Jovanka tersenyum, wanita itu menghampiri suaminya. "Aku ingin fokus mengurusmu dan JV," jawab Jovanka tanpa keraguan.
"Tapi menjadi artis terkenal adalah mimpimu Jov. Aku tidak mau menjadi penghalang untuk mimpimu itu. Aku tidak keberatan meski kau tetap berakting, toh selama ini kau juga bisa membagi waktumu!"
"Menjadi artis terkenal adalah mimpiku sebelum memiliki kalian. Kini aku memiliki impian lain Luke, aku ingin menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan juga JV. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama JV. Aku tidak mau JV kesepian dan kekurangan perhatian dari ibunya!"
"Kau yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Luke memastikan, dia tak ingin ada penyesalan di dalam hidup istrinya.
"Aku sangat yakin!"
Luke lalu memeluk istrinya dengan erat. "Terima kasih sayang, terima kasih karena kau selalu memikirkan kami. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan JV!"
.
.
.
Luke mengajukan cuti selama seminggu, dia mengajak Jovanka dan JV ke Amerika untuk menengok Martha. Perjalan kali ini terasa berbeda karena untuk yang pertama kalinya JV ikut le negara asal dady nya. Selama perjalanan, JV sangat nurut dsn tidak membuat Jovanka kerepotan.
__ADS_1
Setelah hampir sehari semalam menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di pedesaan tempat dimana Martha tinggal. Luke mengajak Jovanka dan JV ke penginapan dan menemui Martha keesokan harinya.
Setelah cukup beristirahat, ketiga orang itu menemui Martha. Martha terlihat sangat bahagia melihat kedatangan anak dan cucunya. Wanita paruh baya itu langsung menggendong baby JV yang sangat menggemaskan.
"Astaga JV, kapan kau tumbuh sebesar ini?" ucap Martha seraya mencium cucunya.
"Bagaimana kabar momy?" tanya Luke seraya mengambil alih JV dari gendongan Martha.
"Momy sangat baik. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami juga baik mom!" jawab Jovanka seraya memeluk ibu mertuanya.
Setelah melepaskan kerinduannya, mereka kembali ke kota karena mereka akan mengunjungi makam Anderson dan Charli. Pertama mereka datang ke makam Charli, mereka membawa seikat bunga Lily dan meletakannya di atas pusara Charli.
"Kami datang nak. Kami semua bahagia di sini, jadi berbahagialah di atas sana!" ucap Martha dengan senyum ikhlas.
"Kak, terima kasih untuk semuanya. Aku berjanji akan menjaga momy dan keluarga kita!" batin Luke dengan mata berkaca-kaca.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju makam Anderson. Alih-alih membawa bunga, Martha lebih memilih membawa foto Luke, JV dan Jovanka.
Martha duduk di samping pusara sang suami. Wanita itu mengusap batu nisan. "Dad, kami datang. Lihatlah, cucumu sudah besar dan sangat lucu. Kau pasti sangat senang jika masih bersama kami di sini. Aku tau kau pasti mengawasi kami dari atas sana. Tidurlah dengan damai, kami semua menyayangimu!"
Jovanka ikut duduk dan mengusap punggung ibu mertuanya. "Hallo tuan Anderson, ini aku Jovanka, menantumu yang sangat cantik. Anda tidak perlu khawatir lagi, aku akan menjaga Luke dan momy dengan baik!"
Martha tersenyum mendengar ucapan Jovanka, dia sangat senang Luke memiliki istri seperti Jovanka yang selalu bisa menghidupkan suasana.
Luke memilih diam, dia bahkan tak sanggup mengatakan apapun di makan sang ayah. Namun dia selalu berdoa agar Anderson tenang di atas sana.
Setelah mengunjungi makam, mereka kembali ke rumah lama. Jovanka memesan beberapa makanan untuk makan malam dan cake karena kebetulan besok adalah hari ulang tahun suaminya.
"Ulang tahunku besok Jov," ucap Luke saat melihat kue ulang tahun di meja makan.
"Lebih cepat lebih baik Luke," jawab Jovanka asal.
""Ck, kau ini benar-benar!"
Jovanka lalu menyalakan lilin, tak lupa dia juga bernyayi selamat ulang tahun di iringi tepuk tangan Martha. "Tiup lilinnya Luke!" titah Jovanka dan Luke menurut. "Sekarang potong kuenya!"
Luke begitu patuh, dia memotong kue dan memberikannya kepada Martha dan Jovanka. Mereka bertiga lalu makan malam dengan tenang karena JV sudah tertidur.
Setelah makan malam, Jovanka mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran sedang dan memberikannya kepada Luke. "Kadomu!" kata Jovanka.
"Apa ini?" Luke menatap kotak kado itu penasaran.
"Buka saja!"
Luke lalu membukanya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat sebuah benda pipih yang tak asing baginya. Perhatian Luke lalu tertuju pada dua garis merah yang berada di benda tersebut. Luke lalu menatap Jovanka tak percaya. "Ini..."
"Ya, aku sedang hamil!" jawab Jovanka dengan senyum di wajahnya.
"Oh my God, kau serius?" Luke masih tak percaya.
"Ya, aku serius. Usianya baru tiga minggu!"
Luke membekap mulutnya karena tak percaya jika Jovanka akan memberi hadiah ulang tahun yang sangat berharga baginya. Luke lalu memeluk Jovanka penuh kebahagiaan.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu!"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Luke. Sangat!"
...♡♡THE END♡♡...