
Kesedihan pasti berlalu, patah hati perlahan sembuh, kebahagiaan berangsur menjadi kenangan. Tidak ada sesuatu yang pasti karena kehidupan terus berjalan. Roda terus berputar, suka dan duka adalah dua sisi yang saling melengkapi.
Begitupun dengan Luke, dia pernah merasakan roda kehidupan yang paling menyakitkan. Dia pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Dia kehilangan keluarga dan pekerjaan dalam kedipan mata, hidupnya terombang-ambing tanpa arah hingga akhirnya dia menemukan secercah cahaya yang menguatkannya dan membawanya pada kebahagiaan.
Penderitaannya terbayar lunas, kini hidupnya berlimang kebahagiaan. Memiliki istri yang sangat mencintainya dan menerimanya apa adanya, memiliki seorang putra dan memiliki keluarga baru yang menerimanya apa adanya adalah hal yang tak pernah Luke mimpikan sebelumnya.
Luke dan keluarganya kini telah kembali ke Jakarta, dia mulai di sibukan dengan pekerjaannya sementara Jovanka akan kembali syuting untuk film terbarunya sementara baby JV di asuh olah Katherine dan seorang baby sitter yang sengaja Jovanka sewa.
Seperti biasanya, Jovanka menyiapkan perlengkapan sebelum sang suami berangkat bekerja. Jovanka memakaikan dasi Luke dengan senyum penuh kebanggaan karena kini Luke telah resmi menjadi CEO di J&J Company.
"Suamiku sangat tampan," puji Jovanka seraya membelai wajah Luke.
"Istriku juga sangat cantik," Luke tak mau kalah, sebuah kecupan mendarat di bibir Jovanka.
"Tentu saja, Jovanka gitu loh," Jovanka menyibak rambutnya penuh percaya diri.
Luke terkekeh dan mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Bagaimana persiapan syutingnya? Kau yakin tidak papa beradu akting lagi dengan Steve?" tanya Luke khawatir, pasalnya Mister Serkan bersikeras menjadikan Steve sebagai pemeran utama pria mengingat kesuksesan film After Darkness.
"It's okay, aku yakin dia tidak berani berbuat macam-macam lagi," jawab Jovanka dengan santai.
"Hubungi aku jika dia berani mengganggumu!"
"Baik sayangkuh!"
Setelah mengantar Luke pergi bekerja, Jovanka memerah ASInya untuk baby JV. Meski dia sibuk dia tetap memberikan nutrisi terbaik untuk putranya melaui ASI. Jovanka enggan memberikan susu formula karena baginya mengASIhi adalah kewajibannya sebagai seorang ibu.
Jovanka lalu berangkat ke lokasi syuting dengan sistennya. Dia sengaja mempekerjakan asisten wanita alih-alih pengawal pria karena tidak mau membuat suaminya cemburu.
Setibanya di lokasi syuting, Jovanka menyapa setiap kru dan para pemain yang lainnya. Jovanka datang sambil membawa kopi dan di bagikan kepada rekan-rekannya.
"Astaga, dia semakin cantik!"
"Dia tidak terlihat seperti seorang gadis!"
"Selain cantik, dia juga sangat baik!"
Pujian demi pujian Jovanka dapatkan, namum wanita itu bersikap biasa saja karena tidak mau di anggap sombong. Biarlah kesombongannya hanya Tuhan dan Luke yang tau.
"Hay Jov," sapa Steve dengan senyum ramahnya. Pria itu masih sama seperti dulu, mengobral senyum kepada siapapun.
"Hay, bagaimana kabarmu?" jawab Jovanka dengan ramah.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat, aku baik!"
"Syukurlah!"
"Untuk kejadian di masa lalu, aku sangat menyesal dan aku harap kau tidak menyimpan dendam padaku," ujar Steve dengan canggung.
"It's okay. Yang lalu biarlah berlalu," jawab Jovanka dengan santai. "Aku justru berterima kasih padamu, karena ulahmu malam itu aku dan Luke bisa bersama," ucap Jovanka di dalam hati.
Steve sepertinya benar-benar menyesali perbuatannya, pria itu benar-benar hanya fokus pada pekerjaannya dan hanya sesekali menyapa Jovanka itupun jika mereka harus membahas masalah adegan di film.
Saat jam makan siang, Jovanka terkejut dengan kedatangan Luke. Pria itu datang membawa makan siang untuk semua staff produksi dan teman-teman artis istrinya.
"Luke," panggil Jovanka dengan wajah berseri, wanita itu berlari menghampiri Luke dan memeluk suaminya. "Kenapa kau datang?" tanya Jovanka seraya melepas pelukannya.
"Aku merindukanmu," jawab Luke menggoda.
"Cih, dasar gombal!" Jovanka mencubit perut Luke.
Di tengah kemesraan mereka, Mister Serkan datang menghampiri Luke. Pria itu memeluk sahabat lamanya. "Bagaimana kabarmu JV?" tanya Mister Serkan seraya menepuk punggung Luke.
"Baik mister, bagaimana dengan anda?"
"Aku selalu baik Luke!"
"Wah, terima kasih bos Luke," goda Mister Serkan. Dia lalu memanggil salah satu kru nya agar memanggil kru yang lainnya.
Tak lama setelah itu mereka mulai mengambil makan siang yang di bawa oleh Luke.
"Terima kasih banyak tuan Lucas!"
"Wah, dia sangat tampan. Mereka pasangan yang sangat serasi!"
Setelah makan siang bersama, Jovanka mengantarkan Luke ke mobil karena suaminya harus kembali le kantor. Mereka tak lagi segan menunjukan kemesraan di depan umum. Beberapa kru memotret kebersamaan Luke dan Jovanka karena mengganggap mereka pasangan yang sangat serasi.
"Terima kasih untuk makan siangnya Luke," ucap Jovanka, wanita itu enggan melepaskan pelukannya.
"Semua ini tidak gratis sayangku," bisik Luke dengan suara menggoda.
"Dasar tukang pamrih!"
Luke terkekeh, dia terpaksa melepaskan pelukan sang istri karena harus kembali ke kantor. "Jangan terlalu lelah, aku harus kembali ke kantor!"
__ADS_1
Jovanka mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan!"
Saat Luke akan masuk ke mobil, Steve kebetulan lewat di dekat mobil Luke. Steve menyapa Luke dengan anggukan kepala, terlihat jelas ketakutan di wajah mantan kekasih Jovanka itu.
"Dia tidak macam-macam kan?" tanya Luke seraya menatap Steve yang pergi menjauh.
"Tidak. Sepertinya dia takut berbuat macam-macam setelah mengatahui identitasmu," jawab Jovanka.
"Baguslah. Setidaknya identitasku bisa membuat orang-orang takut berbuat jahat padamu," ucap Luke penuh kelegaan. Setelah mengecup kening istrinya, Luke segera pergi dari tempat itu.
Sementara di mansion, Katherine sedang bermain bersama baby JV dan Abel. Katherine sangat senang bermain dengan kedua cucunya.
"Granpa," Abel berteriak saat melihat Jimmy datang, bocah kecil itu berlari menghampiri Jimmy dan langsung di gendong oleh sang kakek.
"Cucu Granpa sangat berat," ucap Jimmy seraya mencium pipi Abel.
Jimmy berjalan menghampiri Katherine dan JV, pria itu menaruh bingkisan di atas meja.
"Apa itu?" tanya Katherine penasaran.
"Mainan untuk Abel dan JV!"
"Ck, kau selalu saja membeli mainan setiap kali kemari. Rumah ini hampir menjadi toko mainan," Katherine membuka bingkisan tersebut yang berisi mobil-mobilan dan boneka. "Bagaimana dengan Van? Kau tidak lupa membelikannya juga kan?"
Jimmy lalu duduk dan memangku Abel. "Aku belum pikun Kate, tentu saja aku membeli mainan untuk mereka bertiga!"
Katherine terkekeh, entah mengapa dia merasa seperti melihat saat Jimmy masih muda. Pria itu kembali riang dan lebih banyak tersenyum. Mungkin karena bebannya sudah berkurang, semenjak pensiun Jimmy menghabiskan waktunya untuk memancing.
"Kemana anak-anak?" tanya Jimmy kemudian.
"Josh ke kantor. Frey sedang masak dan Jovanka sudah mulai syuting hari ini," jawab Katherine.
"Ck, mereka sangat sibuk sampai melupakan anak-anak mereka!"
"Jangan begitu. Kau juga dulu seperti itu. Meninggalkan kami dan sibuk bekerja!"
Jimmy tersenyum kikuk, dia merasa bersalah karena dulu lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. "Bagaimana kalau kita kembali ke masa lalu. Maksudku, anggap saja JV dan Abel adalah anak-anak kita dan kita..."
"Dan kita apa?"
"Dan kira kembali bersama."
__ADS_1
BERSAMBUNG...