
Jovanka merasa heran karena beberapa hari ini Steve tidak mengganggunya lagi padahal beberapa hari kemarin pria itu terus saja mengancam akan menyebarkan vidionya bersama Luke, namun setelah syuting selesai Steve menghilang bak di telan bumi.
"Baguslah, aku tidak perlu bersandiwara lagi kan. Muak sekali harus bersikap manis di depannya," gumam Jovanka seraya bercermin, wanita itu sedang bersiap untuk menghadiri makan malam bersama tim produksi filmnya pertamanya. Jovanka terlihat begitu anggun dalam balutan gaun tanpa lengan berwarna merah maroon, rambut panjangnya dia biarkan terurai dengan jepit bunga di belakang telinga. Benar-benar sangat mempesona.
Meski sudah terbiasa melihat penampilan Jovanka, namun Luke masih di buat terpesona oleh kecantikan majikannya itu. Porsi tubuh Jovanka sangat sempurna, tubuh tinggi menjulang, pinggang ramping dan dadaaa yang sedikit besar. Wajahnya yang kecil namun berkarakter semakin memperindah pahatan sang Pencipta itu.
"Bagaimana penampilanku Luke?" tanya Jovanka seraya memutar tubuhnya.
"Cantik," jawab Luke dengan jujur, kali ini dia mengatakan dengan setulus hati.
"Ya, aku memang terlahir cantik. Sayang sekali aku bukan tipemu ya," sindir Jovanka dengan senyum hambar, wanita itu lalu masuk ke dalam mobil setelah Luke membukakan pintu.
Selama perjalanan menuju acara, Luke diam-diam mencuri pandang ke arah Jovanka, gaun dengan belahan dadaaa yang sedikit turun itu sedikit mengusik Luke. Namun dia tidak bisa berkomentar karena bukan ranahnya untuk mengktritik penampilan Jovanka.
"Kau yakin tak mau masuk?" tanya Jovanka begitu mereka sampai di depan hotel karena Mister Serkan mengadakan acara di restoran yang ada di hotel tersebut.
'Tidak nona. Hubungi saya jika ada yang tidak beres!" jawab Luke.
"Baiklah. Sebaiknya kau juga makan Luke, kau belum makan malam kan?"
"Baik nona!"
Luke menatap punggung Jovanka yang semakin jauh. Setelah majikannya pergi, Luke duduk tak jauh dari tempat parkir dan mengeluarkan rokkoknya. Luke duduk termenung seraya menikmati rokokkk tersebut, namun ketenangannya sedikit terusik saat seorang pria asing tiba-tiba menghampirinya.
"Kau," pekik Luke tertahan, Luke tampak begitu panik. Pria itu menatap ke kiri dan ke kanan, setelah merasa tak ada yang melihat mereka, Luke menarik tangan pria itu menjauh. "Apa yang kau lakukan di sini Tom?" tanya Luke gugup.
"Cepatlah pergi dari sini, mereka sudah menemukanmu! Dan lagi, tuan Reth tidak bisa melindungimu lagi! Pergilah sejauh mungkin Luke," titah Tom dengan suara panik.
"Hm, baiklah. Sebaiknya kau juga pergi dari sini, jangan sampai mereka tau kalau kau menemuiku di sini!" ujar Luke seraya menatap pria yang dulu pernah menjadi rekannya.
"Jaga dirimu baik-baik Luke!" pria itu lalu menghilang di tengah kegelapan. Luke meraup wajahnya dengan kasar, baru saja dia merasa nyaman tinggal di suatu tempat dan dia harus segera beralih tempat lagi, mencari tempat berlindung yang aman baginya.
"Luke," panggil seorang wanita dari arah belakang. Luke sangat mengenali suara itu, wajahnya tiba-tiba menegang. Luke lalu berbalik dan seperti dugaannya, Jovanka berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa nona?" tanya Luke dengan suara gugup, dia takut jika Jovanka mendengar semua percakapannya bersama Tom.
"Hem, dompetku tertinggal di mobil," jawab Jovanka seraya menatap wajah Luke dengan seksama, Jovanka dapat melihat dengan jelas buliran keringat di dahi dan pelipis pengawalnya itu.
Luke lalu mengajak Jovanka kembali ke mobil, Luke membuka kunci mobil dan mengambil dompet Jovanka yang memang tertinggal di dalamnya.
"Ini dompet anda," Luke menyerahkan dompet kepada sang majikan.
"Sedang apa kau di tempat sepi itu Luke?" selidik Jovanka yang masih menatap wajah Luke dengan serius.
"Merokok!"
"Oh. Sebaiknya kau ikut masuk Luke," ajak Jovanka lagi, namun Luke tetap menolaknya.
"Saya di sini saja. Silahkan nikmati makan malam anda!"
Dengan wajah kecewa Jovanka kembali ke dalam hotel. Namun dia segera tersenyum begitu masuk ke dalam restoran tersebut karena rekan-rekannya sedang memperhatikannya.
"Pengawalmu tidak ikut baby?" tanya Steve tiba-tiba, entah sejak kapan pria itu duduk di sampingnya.
Mereka lalu menikmati makan malam dengan tenang, semua orang terlihat menikmati jamuan yang di persiapkan oleh Mister Serkan.
"Jov, aku yakin film ini akan meledak di pasaran," ucap Mister Serkan penuh percaya diri, pria paruh baya itu mengangkat gelasnya dan mengajak semua orang untuk minum.
"Semoga saja saya tidak mengecewakan anda tuan," sahut Jovanka dengan senyum terbaiknya, wanita itu pun turut mengangkat gelasnya dan menenggak habis wine yang asa di gelasnya.
Steve menatap Jovanka dangan bibir menyeringai, malam ini dia akan membuat Jovanka kembali menjadi miliknya.
"Tambah lagi winenya baby?" ucap Steve seraya menuangkan wine ke dalam gelas Jovanka.
"Untuk kesuksesan film kita, cheers," ujar Steve penuh semangat.
Jovanka tak mungkin menolaknya, dia kembali menenggak habis wine nya sampai tidak dia sadari dia sudah menghabiskan beberapa gelas wine. Perlahan kepalanya mulai berat, beberapa kru film bahkan mulai mabuk dan ada yang mulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aku mau pulang," gumam Jovanka dengan kepala berat, wanita itu lalu meraih dompet dan berdiri. Jovanka berjalan dengan sempoyongan, saat dia hampir jatuh tiba-tiba Steve menangkap tubuhnya.
"Hati-hati baby. Aku akan mengantarmu ke mobil," ucap Steve lembut.
Jovanka mencoba melepaskan tangan Steve yang melingkar di pinggangnya, namun karena dia mulai kehilangan kesadaran dia tak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri. Jovanka terpaksa mengikuti Steve. Namun alih-alih keluar menuju parkiran mobil, Steve justru membawa Jovanka ke kamar hotel. Pria itu memanfaatkan kondisi Jovanka untuk kepuasannya sesaat.
Entah apa yang terjadi, Jovanka mulai gelisah dan tubuhnya terasa panas. Wanita itu perlahan mulai melepaskan penjepit rambut dan melemparkan tas serta sepatunya dengan asal.
Steve yang melihat hal itu tersenyum penuh arti karena rencananya berhasil. Saat Jovanka keluar mengambil dompetnya, Steve diam-diam memasukan obat perangsang ke dalam wine Jovanka. Obat itu bereaksi dengan cepat, apalagi dengan tambahan pengaruh alkohol membuat Jovanka tak terkendali.
"Malam ini kau milikku babe," gumam Steve bibir menyeringai, sebelum dia meyentuh Jovanka, pria itu lebih dulu memasang kamera di beberapa sudut kamar, hal itu tentu saja akan dia gunakan untuk mengancam Jovanka jika wanita itu tetap menolaknya.
Setelah kamera siap, Steve mulai mendekati Jovanka . Pria itu memeluk tubuh Jovanka dari belakang dan mencumbu leher Jovanka dengan mesra.
"Ahh," Jovanka mendesaaaah saat Steve menggigit lehernya menyisakan sebuah tanda merah keunguan.
"Aku akan membuatmu mendesah sepanjang malam babe, kau milikku malam ini!"
Steve mulai mencium bibir Jovanka dengan ganas, apalagi obat perangsang tersebut mulai bereaksi sehingga Jovanka membalas tautan bibir Steve. Keduanya saling mencium dan melumaaat dengan penuh nafsu.
Dengan senyum mesyumnya, Steve mulai merebahkan tubuh Jovanka di atas tempat tidur. Perlahan steve menarik gaun yang Jovanka kenakan sehingga wanita itu hampir saja polos. Steve menatap tubuh molek Jovanka dengan hasrat membara, dia tak sabar ingin segera menikmati tubuh wanita cantik itu.
"Tubuhmu sangat menggairahkan baby," ucap Steve dengan nafas memburu, nafsubya sudah di ubun-ubun. Pria itu segera melucuti pakaiannya. Kini Steve benar-benar telaanjang, dia lalu naik ke atas ranjang dan mulai menyusuri tubuh Jovanka.
Braakkk....
Steve terperanjat saat pintu kamar hotel terbuka dengan paksa, Steve menoleh dan menelan ludahnya dengan kasar melihat Luke berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh.
Bugg...
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Steve, pria itu terhuyung ke samping. Luke menarik tubuh Steve dan melemparkannya ke lantai, namun sebelum menghajarnya, Luke lebih dulu menutup tubuh Jovanka yang terpampang.
Setelah tubuh Jovanka tertutup selimut, Luke kembali menghampiri Steve. "Mati kau!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...