
Steve mengamuk di kediamannya. Pria itu menghajar asistennya sampai babak belur karena menganggap semua rencananya gagal gara-gara sang asisten memberi tahu dimana dirinya dan juga Jovanka. Rumah Steve begitu berantakan karena dia membanting apa saja yang ada di dalam rumah, pria itu benar-benar menggila dan dendam kusumat terhadap Luke.
"Awas kau Luke, aku akan membunuhmu!" geram Steve dengan kedua tangan mengepal.
Steve kembali melampiaskan amarahnya pada sang asisten, pria malang itu hanya bisa pasrah dan menerima hukuman dari Steve.
"Dasar bodoh," maki Steve seraya menendang perut asistennya, setelah amarahnya tersalurkan, pria itu kembali ke kamarnya dan mencoba menghubungi Jovanka.
Setelah tiga kali percobaan, akhirnya Jovanka menjawab telefonnya.
"Hay babe, how are you?" tanya Steve dengan senyum licik, dia sangat yakin Jovanka tidak tau tentang kejadian semalam karena wanita itu masih mau mengangkat telefonnya.
"Hallo," jawab seorang pria dengan suara tegas.
Steve menarik ponselnya dari telinga, dia kembali memeriksa jika dia tidak salah menelfon orang. "Siapa ini, bukankah ini nomor Jovanka?" tanya Steve setelah yakin yang dia telefon benar-benar nomor Jovanka.
"Menurutmu?"
"Luke?" tebak Steve dengan rahang mengeras.
"Jangan pernah menghubungi Jovanka lagi atau aku akan benar-benar membunuhmu!" ujar Luke penuh ancaman.
"Sayang siapa yang telefon?"
Samar-samar Steve bisa mendengar suara Jovanka. Namun Steve begitu terkejut saat Jovanka memanggil Luke dengan sebutan sayang.
"Ah, sales Pinjol," jawab Luke asal.
__ADS_1
"Badjingan, bagaimana bisa Jovanka memanggilmu sayang?" amarah Steve kembali memucak, dia tak terima pengawal rendahan seperti Luke berhasil merebut Jovanka darinya.
"Menurutmu?"
Tut..tut..tut..
Belum juga Steve menjawab, Luke lebih dulu mematikan panggilan tersebut. Steve berteriak frustrasi dan melemparkan ponselnya ke dinding hingga benda pipih tersebut hancur berantakan.
"Badjingan kau Luke. Brengsek!" umpat Steve, pria itu kembali mengamuk dan membuat kamarnya seperti kapal pecah.
Sementara di hotel, Jovanka baru selesai mandi dan sedang bersiap. Mereka berencana akan nonton film dan makan malam bersama. Sebelumnya Jovanka menyuruh Desy mengirimkan baju untuknya.
Jovanka berjalan meleok-leok ke arah Luke, wanita cantik itu memakai long dress tanpa lengan dan belahan paha yang cukup tinggi. Rambut panjangnya dia biarkan terurai dan wajah cantik dengan make up tebal dan bibir berwarna merah menyala. Jangan lupakan kalung berlian dan anting-anting sepanjang jalan tol Cikampek yang membuat penampilannya semakin glamour. Sepatu heels setinggi harapan author membuat Jovanka tinggi menjulang seperti Jerapah.
"Come on baby, kita akan nonton bukan fashion show," protes Luke karena merasa dandanan Jovanka sangat berlebihan.
Luke menghampiri Jovanka dan membelai wajah cantik itu dengan lembut. "Kau sangat cantik, tapi aku tidak rela membagi kecantikanmu dengan pria lain. Ingat Jov, filmmu akan segera tayang, aku tidak mau ada gosip buruk tentangmu. Bagaimana kalau kau memakai sesuatu yang lebih sederhana?"
Jovanka diam sejenak dan merenungi perkataan Luke. Benar apa yang di katakan pria itu, dia tak boleh muncul mencolok di depan umum. Apalagi ada Luke bersamanya. Dia tidak mau Luke menjadi sorotan media.
"Tapi tidak ada pakaian lain Luke," jawab Jovanka dengan wajah sedih.
"Kau tak perlu khawatir. Aku sudah membelikannya!"
"Benarkah?" Jovanka terlihat kembali bersemangat, dia akan memakai baju apapun yang di belikan Luke.
Luke meraih sebuah tas belanja dan memberikannya pada Jovanka. "Cobalah!"
__ADS_1
Jovanka mengangguk dan menerima tas belanja tersebut, wanita itu kembali ke kamar dan mengganti baju.
Jovanka tersenyum melihat pakaian yang Luke berikan. Meski sangat sederhana namun dia sangat menyukainya. Untuk yang pertama kalinya Jovanka memakai pakaian layaknya orang normal, wanita itu memakai celana jeans panjang, hoodie kebesaran, rambut yang hanya di gulung ke atas dan sepatu sneakers berwarna putih. Setelah bersalin, Jovanka kembali keluar dan membuat kejutan.
"Oh wow, siapa wanita cantik ini?" puji Luke yang merasa pangling dengan penampilan Jovanka, menurut Luke Jovanka lebih cantik dengan pakaian sederhana itu, apalagi Jovanka menghapus make up tebalnya dan memakai riasan tipis sehingga wajahnya tampak cantik natural.
"Aku cantik?" tanya Jovanka ragu, pasalnya baru kali ini penampilannya sangat sederhana.
"Tentu saja. Aku paling suka melihat wajahmu yang cantik alami seperti ini. Aku harap aku akan sering melihat wajah ini," jawab Luke tanpa keraguan, pria itu membelai wajah Jovanka lalu memberikan kecupan singkat di bibir wanita cantik itu. "Tunggu sebentar, aku akan ganti baju!"
"Hem!"
Jovanka menurut dan menunggu Luke sambil memeriksa penampilannya. Meski menurutnya sangat sederhana, namun dia akan tetap memakai pakaian tersebut karena Luke menyukainya. Beberapa menit kemudian Luke telah siap. Pria itu juga tampak sangat berbeda. Pria yang selalu memakai setelan jas, kini terlihat lebih maskulin dengan tampilan yang lebih santai. Luke memakai celana jeasn berwarna hitam, kaos berkerah berwarna navy dan sepatu sneakers berwarna putih.
"Oh my Godness. Kau sepuluh kali lebih tampan Luke," puji Jovanka tanpa berkedip sedikitpun.
"Benarkah?"
"Ya. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku. Astaga, kenapa kau sangat tampan!"
"Aku memang selalu tampan Jov," ucap Luke penuh percaya diri.
"Ya, ya tuan Luke yang tampan, apa kau siap untuk kencan pertama kita!"
"Let's go!!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1