
Setelah menemumpuh perjalanan sekitar 20 jam, akhirnya Luke dan Josh sampai di kota New York, salah satu kota terbesar di Amerika yang padat penduduk, yang dikenal dengan julukan The Big Apple. Kota metropolitan ini telah memberi pengaruh perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode, riset, penelitian dan hiburan bagi dunia. Sayangnya, di balik kemegahan kota tersebut tersimpan sisi gelap yang tak banyak orang tau, salah satunya maraknya peredaran senjata secara ilegal.
Josh dan Luke menyusul Andrew dan anak buahnya yang sudah berada di sana, mereka menyewa sebuah rumah yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah orang tua Luke. Setibanya di sana, Luke segera menghubungi Jovanka dan mengabarkan jika dia telah sampai.
Sayangnya Jovanka tidak mengangkat telefonnya, menurut info dari Frey, Jovanka baru bisa tidur setelah seharian menangis.
"Apa ada info terbaru?" tanya Luke pada anak buah Andrew.
"Tadi siang ada sejumlah orang mengenakan baju militer masuk ke pekarangan rumah, setelah hampir satu jam mereka baru keluar dan merusak beberapa bagian rumah!"
"Mereka pasti anak buah Wilson," sahut Josh seraya membaca informasi tentang Wilson.
"Kita harus segera menemukan bukti itu!" ujar Andrew.
"KIta tidak boleh gegabah. Mereka pasti akan datang lagi, jangan sampai mereka tau kalau aku berada di sini," jawab Luke waspada.
"Luke benar, kita harus waspada. Sepertinya Wilson pria yang sangat licik," sahut Josh, hanya dengan mambaca sedikit informasi mengenai pria itu saja Josh sudah dapat menilai siapa Wilson. Menurut informasi, setelah kematian Anderson, Wilson langsung naik jabatan. Pria itu kini memiliki lebih besar kekuasaan dan mereka tidak boleh gegabah dalam bertindak, mereka harus merencanakannya dengan matang.
Luke dan rekan-nya memilih beristirahat. Saat tengah malam Luke tersenyum mendapat panggilan vidio dari istrinya.
"Hallo," sapa Luke dengan senyum ramah.
"Hai, kau belum tidur?" tanya Jovanka.
"Belum. Apa kau baru bangun?"
Jovanka mengangguk, karena di New York pukul 12 malam artinya di Jakarta sekitar pukul 11 siang. "Dokter memberiku obat dan aku tidur seperti orang pingsan," ujar Jovanka sambil tersenyum.
"Sayang, aku akan segera pulang. Jadi kau harus menjaga kesehatanmu. Kau tidak mau membuatku khawatir kan?" Luke benar-benar tidak tega melihat wajah Jovanka yang terlihat lesu, matanya juga terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Hem. Aku akan menjaga kesehatanku. Kau juga harus menjaga kesehatanmu di sana!"
"Tentu. Aku mencintaimu Jov!"
"Aku juga sangat, sangat mencintaimu Luke!"
__ADS_1
Dan tanpa terasa seminggu sudah Luke berada di New York, mereka mengawasi rumah orang tua Luke secara bergantian. Sejak seminggu ini belum ada orang mencurigakan yang datang ke rumah Luke sehingga Luke dan Josh memutuskan untuk menggeledah rumah itu pada malam hari.
"Bawa ini," ucap Josh seraya menyerahkan sebuah pistool kepada Luke.
"Dari mana kau mendapat benda ini Josh?" tanya Luke dengan tatapan terkejut, dia tak menyangka jika Josh memiliki barang ilegal.
"Ck, tidak perlu banyak tanya. Yang kita hadapi musuh yang berbahaya, kita akan mati konyol jika tidak memiliki senjata apapun!" jelas Josh dengan tagas.
Luke hanya mengangguk karena semua perkataan Josh adalah kebenaran. Kedua pria itu lalu masuk ke dalam rumah orang tua Luke. Mereka begitu terkejut melihat kondisi rumah yang sangat berantakan.
"Ck, berantakan sekali," Josh berdecak kesal melihat semua barang berserakan di lantai. Sementara Luke diam membeku melihat kondisi rumahnya sangat memprihatinkan. Hampir enam tahun lamanya dia meninggalkan rumah ini, sekarang dia kembali dan merasa sedih melihat rumahnya hancur.
"Ayo kita ke gudang!" Luke berusaha menenangkan diri, dia lalu mengajak Josh ke ruang rahasia yang berada di ruang bawah tanah.
"Dimana gudangnya," tanya Josh tidak sabar.
"Tunggu sebentar," Luke menuju rak penyimpanan buku yang berada di ruang baca, pria itu lalu mendorong rak buku tersebut dan sebuah pintu rahasia terbuka. Josh terkejut, dia tak menyangka mereka memiliki pintu rahasia, sepertinya dia harus membutnya di rumah agar bisa bermesraan dengan Frey tanpa di ganggu oleh putri mereka.
Di balik pintu rahasia itu terdapat tangga menuju ke gudang bawah tanah. Setelah menginjak tangga ketiga pintu rahasia itu kembali tertutup. Luke menyalakan senter karena sangat gelap, setelah beberapa menit melewati anak tangga akhirnya mereka tiba di ruangan tersebut. Luke lalu menyalakan lampu dan ruangan itu menjadi lebih tenang.
"Itu milik kakakku Josh, dia menyiapkan semua itu sebelum menyelamatkanku," jawab Luke sedih.
"Kenapa kau tidak mengamankan uang dan emas ini?"
"Ck, mengamankan nyawaku saja sangat sulit!"
"Uang ini cukup untuk menghidupi Jovanka," cetus Josh.
"Ambil saja kalau kau mau Josh!" tawar Luke.
"Aku tidak butuh. Aku juga punya banyak uang," tolak Josh penuh gengsi, padahal melihat emas batangan itu membuat matanya berbinar.
Lupakan setumpuk emas dan uang tersebut, Josh kembali menutup harga karun itu dan mulai mencari barang bukti yang di simpan oleh Anderson.
"Dimana ayahmuu menyimpan flash disk itu?" tanya Josh seraya menatap seisi ruangan itu.
__ADS_1
"Entah, aku juga tidak tau!"
Keduanya lalu memeriksa beberapa tempat yang mungkin di gunakan Anderson untuk menyimpan barang berharga tersebut. Hampir tiga jam lamanya mereka mencari namun mereka tidak menemukan apapun. Josh duduk sambil bersandar pada lemari, netranya menatap sebuah alat pancing yang berada di pojok ruangan.
"Apa ayahmu suka memancing?" tanya Josh penasaran.
"Ya. Saat akhir pekan beliau mengajaku memancing!"
Josh berdiri dan menghampiri alat pancing yang sejak tadi menarik perhatiannya. Dia mengambil alat pancing itu dan memperagakan seolah dia sedang memancing di tengah lautan.
"Apa yang kau lakukan Josh?" Luke mengeryitkan dahi melihat kelakuan kakak iparnya.
"Aku berada di kapal pesiar dan sedang memancing!" jawaban Josh membuat Luke terkekeh.
"Josh, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau tidak menyesal berhenti menjadi seorang pilot?"
Josh menghentikan khayalannya, pria itu lalu menunduk sambil mengamati alat pancing tersebut. "Tidak!" jawabnya yakin.
"Aku dengar menjadi pilot adalah mimpimu sejak kecil?"
"Ya. Tapi setiap orang pasti memiliki impian lain setelah mimpi mereka terwujud. Membahagiakan Frey dan Abel adalah mimpi besarku sekarang!"
"Aku sangat iri padamu. Semoga aku bisa membahagiakan Jovanka," ujar Luke penuh harap.
"Pulihkan nama baikmu dan bawa semua uang dan emas itu untuk Jovanka. Dia pasti akan bahagia melihat emas batangan itu!"
Kedua pria itu lalu tertawa, mereka memang sangat mengenal Jovanka. Luke juga yakin mata Jovanka akan berbinar melihat emas batangan itu.
Krak...
"Aku menemukannya Luke!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...