My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Henti jantung


__ADS_3

Kematian adalah satu hal yang pasti, namun setiap orang yang kehilangan kadang tak menerima takdir pasti tersebut. Isak tangis, air mata dan rintihan kesakitan menggema di acara pemakaman Charli. Meski Martha yang memberi keputusan untuk melepaskan Charli, namun wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menangis. Tanah merah yang masih basah dia peluk dengan derai air mata. Jika bisa memilih, Martha bersedia menggantikan posisi putranya.


Tak hanya Martha, kesedihan menyelimuti seluruh keluarga Janzsen yang datang ke pemakaman. Jovanka yang sejak kemarin mencoba tegar pun turut menangis. Bahkan kini dia merasa takut, takut jika hal yang sama terjadi pada suaminya. Jovanka mencoba menepis pikiran buruknya, namun jika Tuhan menakdirkan hal yang sama, akankah Jovanka ikhlas melepaskan Luke?


Jawabannya tentu tidak!


Istri mana yang mau di tinggal suaminya dalam keadaan mengandung. Baru beberapa bulan sejak mereka menikah dan hidup bahagia. Tentu saja Jovanka akan melakukan apapun demi kesembuhan suaminya.


Pulang dari pemakaman, Jovanka mengantar Martha ke kamar untuk istirahat. Setelah Martha tidur, Jovanka keluar dan menemui keluarganya di ruang tamu. Jovanka segera memeluk Katherine, wanita hamil itu begitu lemas dan tak memiliki tenaga.


"Kau belum makan sejak pagi, tadi Frey sudah membelikan makanan untukmu!" ucap Katherine seraya mengusap kepala putrinya.


"Aku tidak lapar mom," jawab Jovanka lesu.


Frey yang tidak tega melihat kondisi adik iparnya lalu menghampiri Jovanka dan duduk di sampingnya, Frey meraih salah satu tangan Jovanka dan menggenggamnya. "Kau harus makan, kasian bayimu, dia pasti lapar," ucap Frey mencoba membujuk Jovanka. "Luke pasti sedih melihatmu seperti ini Jov. Ayo kita makan, setelah itu aku akan menemanimu ke rumah sakit!"


"Tapi Frey..."


"Kau tidak mau bayimu kenapa-napa kan?"


Jovanka menggeleng lemah.

__ADS_1


"Untuk itu kau harus makan dan minum vitaminmu!"


Jovanka akhirnya mengangguk, Frey tersenyum lalu mengambilkan makanan untuk Jovanka. Semua orang prihatin melihat keadaan Jovanka, tubuhnya mulai kurus dan matanya selalu sembab karena terlalu banyak menangis. Mereka sama sekali tak pernah melihat senyuman Jovanka lagi, gadis konyol itu menjelma menjadi mayat hidup. Setiap hari waktunya hanya dia habiskan berdiam diri di rumah sakit dan menemani suaminya sepanjang waktu.


.


.


.


Di sebuah jembatan yang tertutup kabut, seorang pria berdiri di tiang penyangga jembatan. Tatapannya lurus ke bawah, menatap aliran sungai yang begitu deras. Pria muda itu tampak begitu putus asa, wajahnya pucat dan tatapan matanya terlihat kosong. Entah penderitaan macam apa yang pria itu rasakan, dia hanya ingin mengakhiri penderitaan itu secepatnya, sekarang juga.


Pria itu memejamkan matanya dan siap untuk melompat, namun sebuah suara yang begitu indah menghentikannya, membuatnya membuka mata dan menoleh ke arah suara.


"Pergilah, aku sibuk!" tolak pria itu dengan suara lesu.


"Hm, kau hanya perlu diam di situ. Aku bosan tiup lilin sendiri!" ujar gadis itu seraya menghidupkan lilin dan menancapkannya di atas cup cake dengan cream berwarna merah muda. Gadis itu memejamkan matanya dan bibirnya komat-kamit merapalkan doa dan harapannya. Gadis itu lalu meniup lilin dan bertepuk tangan. "Ck, setidaknya ucapkan selamat ulang tahun untukku!" gerutu gadis itu seraya menatap pria itu.


"Selamat ulang tahun!" ucap pria itu dengan dingin.


Gadis itu tersenyum. "Terima kasih. Karena kau sudah menemaniku meniup lilin maka aku akan memberikan kue ini untukmu. Makan ini dan berbahagialah!" ucapnya lalu pergi, sebelun menghilang gadis itu kembali berbalik dan berteriak. "Tetaplah hidup!"

__ADS_1


Tiiiiitttt....


Dokter dan perawat berlarian menuju ruangan ICU di mana Luke berada. Dokter memeriksa kondisi Luke yang memburuk. Tensi darahnya semakin drop, detak jantungnya melemah dan nyamannya berada di ujung tanduk.


Frey dan Jovanka yang baru tiba di rumah sakit begitu terkejut melihat dokter dan perawat berlarian ke ruangan suaminya. Jovanka ikut berlari masuk, namun seorang perawat menahannya di pintu dan melarangnya untuk masuk. Di balik pintu kaca Jovanka melihat dengan jelas dokter sedang berusaha menolong suaminya. Pandangan Jovanka teralihkan pada layar monitor yang menunjukan kondisi suaminya semakin buruk.


"Ku mohon bertahanlah," gumam Jovanka dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.


Frey memegang pundak Jovanka dengan iba. "Dia akan baik-baik saja. Dia akan kembali," ucap Frey mencoba menenangkan Jovanka.


Jovanka mengusap air matanya dengan kasar. Dia tidak boleh menangis, dia harus tetap kuat agar Luke juga bertahan. "Ya, dia pasti akan kembali!"


Tiga puluh menit kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan Luke. Jovanka segera menghampiri dokter dengan wajah panik. "Bagaimana kondisi suami saya dok?"


"Pasien berhasil melewati masa kritisnya hari ini, tapi bukan tidak mungkin pasien akan mengalami henti jantung seperti tadi. Kita hanya bisa berdoa dan berharap ada keajaiban!"


Jovanak sedikit bernafas lega, setidaknya Luke masih bertahan meski dia belum membuka matanya. "Apa saya boleh masuk?" tanya Jovanka.


"Tentu saja!"


Jovanka lalu masuk ke dalam ruang ICU, dia lalu duduk di samping tempat tidur suaminya. Dengan tangan bergetar Jovanka menggenggam tangan suaminya. "Terima kasih karena sudah bertahan," ucap Jovanka dengan mata berkaca-kaca. Jovanka mengecup punggung tangan suaminya yang masih terasa hangat. "Cepat buka matamu, aku sangat merindukanmu. Aku tidak tau sampai kapan aku akan bertahan Luke, aku sangat membutuhkanmu. Aku mohon bangunlah!" Jovanka tak bisa menahan air matanya, wanita hamil itu terisak seraya memeluk tangan suaminya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa lagi agar Luke kembali sadar. Dia merindukan pelukan Luke, dia merindukan senyuman Luke, dia merindukan semua hal tentang suaminya.

__ADS_1


"Hapus ingusmu Jov!"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2