My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Berkat oncom goreng


__ADS_3

"Hapus ingusmu Jov!" ucap sebuah suara dengan sangat pelan. Jovanka mengangkat kepalanya, netranya melebar saat mendapati mata suaminya terbuka dan seutas senyum terbit di bibir pucat sang suami. Jovanka menyeka air matanya, dia takut dia salah lihat, dia khawatir jika dia hanya sedang berhalusinasi.


"Aku tidak mimpi kan?" tanya Jovanka pada pria yang sedang tersenyum kepadanya.


Luke menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku sangat merindukanmu Jov," ucap Luke dengan suara parau.


Jovanka membekap mulutnya, air matanya kembali berlinang mendengar suara yang sudah sangat di rindunya. Wanita hamil itu beranjak dari kursinya, dia berlari keluar untuk memanggil dokter.


"Ada apa Jov?" tanya Frey saat melihat Jovanka buru-buru keluar dari ruangan Luke.


"Dia bangun Frey, Luke sudah sadar!" jawab Jovanka dengan girang.


"Oh syukurlah. Kau tunggu di sini, aku akan panggilkan dokter!"


Jovanka mengangguk, dia kembali masuk ke ruangan sementara Frey memanggil dokter. Jovanka kembali menggenggam tangan Luke dengan senyum di wajahnya.


"Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat takut," ucapnya haru.


"Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu," jawab Luke dengan suara yang masih lemah. "Dan aku masih berhutang oncom goreng padamu," sambungnya sambil tersenyum.


Jovanka terkekeh, bisa-bisanya Luke masih ingat oncom goreng pesanannya padahal pria itu baru saja sadar. Tak lama kemudian Frey masuk bersama dokter dan perawat. Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Luke.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Frey.


"Kondisinya sudah stabil. Benar-benar sebuah keajaiban karena pasien bisa bangun lagi," jawab dokter tersebut dengan wajah lega bercampur haru.


"Syukurlah. Terima kasih banyak dok!"


Setelah dokter pergi, Frey berdiri di belakang Jovanka dengan perasaan lega. "Selamat datang kembali Luke," ucapny dengan senyum.


"Terima kasih Frey!"


"Aku akan mengabari keluarga kita dulu!"


Frey lalu keluar untuk menelfon keluarganya. Martha dan keluarga Janzsen pasti senang mendengar kabar bahagia tersebut.

__ADS_1


Sementara di dalam ruang ICU, Jovanka tidak sedetikpun melepaskan tangan Luke. Wanita hamil itu bahkan membanjiri tangan dan pipi Luke dengan kecupan.


"Kau tidak bosan menciumku?" tanya Luke seraya menatap istrinya.


"Tidak!" jawab Jov dengan cepat. "50 hari kita tidak bertemu. Aku sangat tersiksa karena tidak bisa menciummu!"


"50 hari?" tanya Luke.


"Ya, 10 hari kau sibuk dengan rencanamu dan 40 hari kau terbaring di sini!"


"40 hari? aku tidak sadar selama itu?" ujar Luke tak percaya, rasanya baru kemarin dia merasakan sakit karena tertembak tapi ternyata waktu sudah terlewati selama 40 hari. "Oh ya bagaimana dengan momy dan kak Charli?" tanya nya lagi setelah mengingat kejadian saat hari penembakan.


Jovanka diam sejenak, mungkin belum saatnya dia memberi tahu Luke tentang kabar duka mengenai kematian Charli. "Momy dan yang lainnya sedang dalam perjalanan kemari!"


Martha dan keluarga Janzsen sudah berada di rumah sakit. Martha masuk ke dalam ruangan Luke, wanita paruh baya itu berjalan menghampiri tempat tidur putranya. Air mata bahagia menetes saat Martha melihat Luke membuka matan dan tersenyum kepadanya. Martha begitu bahagia, dia lalu memeluk putranya sambil menangis.


"Syukurlah kau sudah bangun. Momy sangat khawatir!"


Mata Luke berkaca-kaca, dia mengusap punggung sang ibu dengan lembut. "Aku baik-baik saja mom!"


"Dimana Charli mom?" Luke bertanya lagi karena tidak melihat kehadiran kakaknya.


"Dia ada di tempat yang indah. Setelah kau sembuh momy akan mengajakmu ke sana!" jawab Martha seraya menahan air matanya. Dia belum sanggup memberi tahu kebenarannya, dia takut Luke kembali terpuruk setelah mendengar kabar kematian sang kakak.


Luke tak sempat bertanya di mana Charli sebenarnya karena satu persatu anggota keluarga Janzsen masuk ke dalam ruangan.


"Aku senang kau sudah bangun!" ucap Jimmy yang ikut datang ke Amerika untuk menemani putrinya.


"Sykurlah kau kembali kepada kami nak," ucap Lynda dengan senyum kelegaan.


"Untung kau sadar, kalau tidak aku bisa mati di tangan Jovanka!" ucapan Josh sontak membuat semua orang tertawa. Meski ucapannya terdengar menyebalkan namun semua orang tau jika Josh benar-benar bahagia karena Luke selamat.


.


.

__ADS_1


Dua hari kemudian kondisi Luke semakin membaik, dia bahkan sudah di pindahkan ke ruang perawatan dan mulai berlatih turun dari tempat tidur dan berjalan. Selama empat puluh hari tak sadarkan diri beberapa otot kakinya menjadi kaku sehingga Luke sedikit kesulitan berjalan. Untung saja Jovanka begitu telaten merawat suaminya.


Setelah latihan berjalan, Jovanka membantu Luke mandi karena pria itu menolak jika tubuhnya hanya di lap dengan kain. Jovanka terpaksa membawa Luke ke kamar mandi. Namun saat akan membuka pakaian suaminya, Jovanka merasa malu padahal sebelumnya mereka sudah bugillll bersama.


"Cepat Jov, aku ingin mandi," ujar Luke tak sabar.


"Tunggu sebentar!"


Dada Jovanka bergemuruh dan wajahnya merona melihat tubuh kekar Luke terpampang di hadapannya. Apalagi saat Jovanka melepas celana Luke dan tak sengaja melihat adik kecil yang terlihat begitu imut dan menggemaskan, Jovanka tiba-tiba membayangkan saat adik kecil itu bangun dan menusuknya.


"Astaga, sadarlah Jovanka. Suamimu baru saja bangun!" rutuk Jovanka di dalam hati. Jovanka lalu kembalo fokus membantu Luke mandi. Pikiran mesyumnya terkikis seketika saat Jovanka akan membasahi punggung sang suami, hatinya mencelos melihat bekas luka tembak yang sudah kering.


"Apa masih sakit?" tanya Jovanka seraya mengusap pelan bekas luka tersebut.


"Tidak lagi!" jawab Luke.


Setelah selesai mandi, Jovanka membantu Luke memakai baju. Lagi-lagi pikiran mesyumm memenuhi kepalanya saat Jovanka membantu Luke mamakai pakaian dalaaam.


"Kenapa Jov? Apa kau merindukannya?" goda Luke sambil menahan senyumnya.


"Tidak!" sangkal Jovanka dengan cepat.


Sebenarnya Luke sudah bisa melakukannya sendiri, namun dia ingin melihat kesungguhan Jovanka dalam merawatnya. Menurut cerita sang momy, saat dia sedang koma Jovanka selalu datang dan duduk berjam-jam sambil menceritakan kisah mereka.


"Terima kasih Jov," ucap Luke tiba-tiba. Jovanka menatap Luke dengan wajah bingung. "Terima kasih karena kau tetap bertahan di sampingku," lanjut Luke dengan tulus.


"Sebenarnya aku berniat mencari pria lain kalau kau tidak bangun-bangun!" jawab Jovanka dengan santai. Luke pikir hanya dia yang bisa menggoda orang, Jovanka juga bisa kali.


"Benarkah. Maka aku akan menjadi hantu dan menerormu setiap malam!" balas Luke yang tampak tak terpengaruh sama sekali dengan ucapan istrinya. Luke lalu duduk di sofa dan memeluk pinggang istrinya, dia lalu mencium perut Jovanka yang mulai membuncit. "Hay, terima kasih karena kau sudah menjaga momy selama dady pergi!" ucap Luke pada si jabang bayi. "Kau dan momy mu adalah harta dady yang paling berharga. Terima kasih karena sudah datang di hidup dady!"


Jovanka menangis haru, tangannya terulur dan mengusap kepala suaminya dengan lembut. "Terima kasih juga karena dady bertahan demi aku dan momy," jawab Jovanka mewakili bayinya.


Luke lalu berdiri dan memeluk Jovanka dengan erat, setelah semua yang terjadi dia benar-benar tidak ingin kehilangan istrinya. "Aku mencintaimu Jovanka Janzsen!" ungkap Luke dengan tegas dan tanpa keraguan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2