My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Perjara bawah tanah


__ADS_3

Josh dan Andrew tercengang ketika mereka melihat barang bukti yang di kumpulkan oleh Anderson. Kedua pria itu tidak menyangka jika kejahatan yang di lakukan Wilson bukan sekedar penyelundupan senjata dan emas batangan, pria itu juga merupakan sindikat penjualan organ di pasar gelap, sindikat perdagangan manusi, prostitusi, judi online dan narkoba. Pantas saja Wilson mati-matian mencari bukti tersebut karena jika sampai bukti tersebut terkuak maka karirnya sebagai seorang Jenderal akan berakhir.


"Cih, dia lebih pantas di juluki seorang mafia alih-alih Jenderal," geram Adrew setelah selesai melihat semua bukti yang di dapatkan oleh Josh.


"Ya, dia menyembunyikan kejahatannya di balik nama besarnya," sahut Josh yang tak kalah terkejut.


"Kita serahkan bukti ini ke pihak berwajib," ucap Andrew memberi usul.


"Jangan!" tegas Josh.


"Kenapa?"


"Dia seorang Jenderal, bukan tidak mungkin dia memiliki koneksi di kepolisian. Jangan serahkan bukti ini ke polisi, lebih baik kita sebarkan di internet. Kalau perlu kita sewa iklan di Billboard Time Square New York!"


"Tapi sewa iklan di Billboard Time Square sangat mahal tuan," ujar Andrew.


"Berapa?"


"Sekitar tiga juga US Dollar atau sekitar 43 miliar rupiah selama tiga hari!"


"Fvckkk, kenapa mahal sekali," umpat Josh kesal, namun dia teringat dengan tas besar berisi uang dan emas batangan yang Luke berikan padanya. "Hitung berapa banyak uang yang ada di dalam tas itu, jika kurang jual saja emas batangannya!"


"Baik tuan!" Andrew dan anak buahnya lalu menghitung gepokan uang dollar milik Luke, setelah beberapa saat mereka berhasil menghitung semua jumlahnya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Josh tak sabaran.


"Lebih dari cukup tuan, total uangnya sekitar tujuh dollar dan belum termasuk harga emas batangannya!"


"Bagus. Segera sewa tempat pengiklanan itu!"


"Baik tuan!"


"Tunggu sebentar, kita lacak dulu keberadaan Luke. Setelah berhasil menemukannya baru kita sebarkan bukti itu. Aku bisa di bunuh Jovanka kalau suaminya terluka!"


"Baik tuan!"


Andrew dan anak buahnya segera melacak keberadaan Luke, untungnya mereka sudah memasang alat pelacak di ponsel Luke, mereka juga memasang alat pelacak di kancing baju yang di kenakan Luke. Sebelum mencari barang bukti mereka memang sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk jika Luke tertangkap.


Sementara di tempat lain, Wilson membawa Luke ke sebuah kastil tua yang di sulap menjadi sebuah penjara, atau lebih tepatnya markas yang di gunakan Wilson untuk merencanakan semua kejahatannya.


"Kau sungguh tidak sabaran!"


Wilson menyeret Luke ke ruang bawah tanah, dia memberi kode kepada anak buahnya agar membuka salah satu sel yang berada di ruangan itu. Luke membelalakan matanya, dia hampir tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ibu yang selama enam tahun dia cari kini berada di hadapannya. Luke sangat marah saat dia melihat kondisi ibunya yang sangat memprihatinkan. Wanita yang dulu terlihat begitu anggun kini nampak sangat lusuh, pakaiannya compang camping dan tubuhnya kurus kering. Belum lagi banyaknya luka lebam di sekujur tubuh wanita paruh baya itu.


"Mom," pekik Luke tertahan, pria itu menangis dan menghampiri ibunya yang terlihat linglung.


"Buka ikatannya!" titah Wilson dan segera di angguki oleh anak buahnya. Mereka melepas ikatan tangan Luke sehingga Luke bisa memeluk tubuh sang ibu.

__ADS_1


"Mom, apa yang terjadi padamu? Maafkan aku mom, maaf karena aku terlambat menemukannya," ujar Luke dengan wajah berderai air mata.


"Luke?" ucap Martha, ibu Luke.


"Ya mom, ini Luke!" Luke melepas pelukannya dan menatap ibunya penuh kasih sayang.


"Kau hidup nak, kau masih hidup?"


"Ya mom, aku masih hidup! Mom, apa yang terjadi? Kenapa momy bisa berada di sini?"


Wilson bertepuk tangan melihat pertemuan ibu dan anak yang telah terpisah selama 6 tahun lamanya. "Dokter Martha sangat berjasa bagiku Luke, dia membantuku membedah tubuh manusia dan mengambil organ mereka untuk aku jual," ucap Wilson menjawab semua pertanyaan Luke.


Luke menoleh dan menatap Wilson penuh kemarahan. "Kau benar-benar iblis," geram Luke dengan rahang mengeras.


"Sekarang serahkan barang buktinya!" pinta Wilson dengan kasar.


Luke menutupi Martha dengan tubuhnya. Pria itu lalu melemparkan sebuah flashdisk ke arah Wilson. "Kau sudah mendapatkan buktinya, sekarang biarkan kami pergi!"


Wilson tertawa terbahak-bahak, pria itu memungut benda kecil itu dan menatapnya puas. "Membebaskan kalian? Jangan mimpi! Aku masih membutuhkan Dokter Martha! Kurung mereka!"


"Badjingan kau Wilson," maki Luke dengan amarah meluap, dia mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan di kaos kakinya dan menembak beberapa anak buah Wilson hingga tak berdaya.


"Rupanya kau ingin mati di sini Luke!" Wilson meradang, pria itu memanggil anak buahnya dan mengepung Luke dengan senjata. Luke berusaha melindungi sang ibu, dia terpaksa menyerah karena sudah di pastikan dia kalah jumlah. Luke dan Martha di jebloskan ke dalam penjara yang sama. Luke hanya berharap Josh akan segera menemukannya.

__ADS_1


"Aku percaya padamu Josh!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2